Jakarta -
Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia saat ini berada dalam posisi nan kuat di sektor pangan. Ia mengungkap Indonesia apalagi mulai bisa mengekspor hasil produksi pertanian ke negara lain.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai ancaman krisis pangan dan kelaparan global. Di saat banyak negara menghadapi tantangan pangan, Indonesia justru mempunyai surplus nan dapat membantu kebutuhan negara lain.
"Dan PBB sudah meramalkan adanya ancaman kelaparan dunia. Sekarang kita justru mulai ekspor. Kita membantu negara-negara lain," kata Prabowo di aktivitas Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan ke-XVII, Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo mengungkapkan dirinya apalagi menerima telepon dari Perdana Menteri Australia nan menyampaikan apresiasi atas surplus pupuk nan dimiliki Indonesia. Pemerintah Australia, kata dia, juga meminta Indonesia menjual pupuk kepada mereka.
"Saya ditelepon Perdana Menteri Australia. Beliau berterima kasih lantaran Indonesia punya surplus pupuk dan mereka meminta agar kita menjual pupuk kepada mereka," ujarnya.
Selain Australia, Prabowo menyebut banyak negara lain nan juga meminta pasokan pupuk dan beras dari Indonesia. Namun, dia menegaskan ekspor kudu dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan petani dalam negeri.
"Saya bilang, kirim ke mereka. Banyak negara meminta pupuk dari kita. Banyak negara meminta beras dari kita. Asal harganya benar. Ya, Menteri Pertanian?" ucapnya.
Prabowo kemudian menekankan petani tidak boleh dirugikan dalam kebijakan ekspor komoditas pangan. Ia meminta agar untung dari meningkatnya permintaan dunia turut dirasakan oleh petani Indonesia.
"Petani jangan rugi. Betul? Bagaimana sekarang, petani sudah cukup untung? Sudah belum? Mau untung lagi? Ya pasti," ujarnya.
(eva/dhn)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·