Populer: Singapura-Malaysia Tolak Pajak Selat Malaka; IHSG Anjlok 3 Persen

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Pemandangan udara sebuah kapal nan melintas di depan jejeran kapal nan sedang berlabuh di sepanjang pesisir Singapura, tepat di mulut Selat Malaka, Minggu (23/03/2008). Foto: Roslan RAHMAN / AFP

Penolakan buahpikiran pajak Selat Malaka menjadi salah satu buletin terkenal kumparanBISNIS sepanjang Jumat (24/4). Selain itu, anjloknya IHSG 3 persen juga masuk daftar buletin populer. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkumannya:

Singapura dan Malaysia Tolak Ide Purbaya Pajaki Kapal nan Lewat Selat Malaka

Menteri Keuangan Indonesia Yudhi Sadewa, melalui buahpikiran Purbaya, mengemukakan potensi pemungutan pajak bagi kapal nan melintasi Selat Malaka, mirip dengan skema nan diterapkan Iran di Selat Hormuz. Purbaya menyebut skema ini dapat menghasilkan tambahan pendapatan signifikan nan bisa dibagi antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan jatah lebih besar untuk Indonesia dan Malaysia berasas panjang area nan dilalui. Ia menyatakan 70 persen daya dan perdagangan Asia Timur melintasi jalur ini.

Namun, buahpikiran ini langsung mendapat penolakan tegas dari negara-negara tetangga. Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menyatakan jalur transit melalui Selat Malaka kudu tetap cuma-cuma dan Singapura tidak bakal mendukung upaya pembatasan alias pengenaan tarif. Balakrishnan menekankan pentingnya menjaga jalur perdagangan tetap terbuka demi kepentingan ekonomi semua negara nan berjuntai pada perdagangan, sebuah posisi strategis nan telah disampaikan kepada Beijing dan Washington.

Senada, Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menegaskan bahwa setiap keputusan mengenai Selat Malaka tidak dapat dibuat secara sepihak. Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Thailand telah mempunyai pemahaman nan kuat dan mengangkat pendekatan berbasis konsensus dalam keamanan maritim, termasuk patroli berbareng untuk memastikan keamanan pelayaran. Hal ini menggarisbawahi pentingnya kerja sama regional daripada tindakan unilateral dalam pengelolaan jalur perdagangan vital ini.

Analis Beberkan Penyebab IHSG Anjlok 3 Persen

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami ambruk signifikan sebesar 3,06 persen alias 225,75 poin, ditutup pada level 7.152,85 pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (24/4). Penurunan tajam ini dipicu oleh beberapa aspek makroekonomi dan geopolitik nan menciptakan ketidakpastian di pasar dunia dan domestik.

Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, mengidentifikasi tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, sebagai pendorong utama. Potensi blokade di selat tersebut menyebabkan lonjakan nilai minyak di atas USD 100 per barel, memicu tindakan 'flight to safety' oleh penanammodal dunia dari aset di negara importir minyak. Kenaikan nilai minyak juga berpotensi meningkatkan tekanan 'imported inflation' bagi negara net importir, meskipun kondisi makroekonomi Indonesia tetap relatif solid. Selain itu, pelaku pasar tetap mencermati keputusan MSCI mengenai status investasi Indonesia.

Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa pergerakan IHSG saat ini tetap dalam fase koreksi wajar secara teknikal, meskipun parameter RSI menunjukkan sinyal positif dan Stochastics K_D negatif. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran semakin meningkatkan ketidakpastian, mendorong penanammodal beranjak ke aset safe haven seperti dolar AS. Akibatnya, nilai tukar rupiah terpantau melemah sekitar 105 poin, ditutup di kisaran Rp 17.280, sementara nilai minyak Brent melonjak hingga kisaran USD 106 per barel.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan