Polusi Udara Jakarta 6 Kali Lipat Batas WHO, Dokter Peringatkan Risikonya terhadap Tubuh

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Polusi Udara Jakarta 6 Kali Lipat Batas WHO, Dokter Peringatkan Risikonya terhadap Tubuh Ilustrasi(Dok Siloam Hospital)

TINGKAT pencemaran udara di beragam kota besar di Indonesia sekarang berada pada level nan sangat mengkhawatirkan. Indonesia apalagi tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di bumi sekaligus menduduki ranking teratas di wilayah Asia Tenggara.

Kondisi terparah terjadi di wilayah perkotaan, di mana kualitas udara di Jakarta tercatat mencapai 6 kali lebih tinggi daripada pemisah normal nan ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dokter ahli memperingatkan bahwa paparan udara tercemar ini bukan sekadar pemicu batuk biasa, melainkan ancaman serius nan dapat menurunkan kualitas hidup hingga memangkas nomor angan hidup masyarakat.

Berikut adalah akibat kesehatan dan akibat medis jangka panjang akibat polusi udara kota besar berasas tinjauan medis resmi:

1. Potensi Menurunkan Angka Harapan Hidup

Menghirup udara nan tercemar setiap hari memberikan akibat akumulatif nan membahayakan organ dalam. Menurut perkiraan WHO, paparan polusi udara harian di Indonesia dapat menurunkan nomor angan hidup masyarakat hingga 5,5 tahun.

Secara global, kualitas udara nan jelek menjadi pemicu lebih dari 4 juta hingga 7 juta kasus kematian awal setiap tahunnya. Sumber utama pencemaran ini berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor, limbah aktivitas industri, pembakaran batu bara, pembakaran sampah, hingga asap kebakaran hutan.

2. Dari Sesak Napas Biasa Berkembang Menjadi PPOK

Dalam jangka pendek, partikel polutan dan gas rawan (seperti nitrogen oksida dan sulfur dioksida) memicu indikasi awal berupa mata merah, iritasi hidung, batuk, mengi, serta sesak napas. Jika paparan tersebut berjalan terus-menerus dalam jangka panjang, saluran pernapasan dan paru-paru bakal mengalami peradangan kronis:

  • Gejala Asma: Polutan seperti ozon dan debu lembut meningkatkan gelombang kekambuhan serta tingkat keparahan serangan asma.
  • PPOK: Peradangan berkepanjangan pada tembok saluran pernapasan (bronkitis kronis) membatasi aliran udara di paru-paru secara permanen. Data medis mencatat bahwa Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyakit paling mematikan nomor 4 di dunia.

3. Sumber Polusi di Luar dan Dalam Ruangan

Masyarakat kerap menganggap ancaman udara kotor hanya ada di jalan raya. Padahal, polusi udara terbagi menjadi dua kategori nan sama-sama membahayakan:

  • Polusi Luar Ruangan: Didominasi oleh asap knalpot kendaraan bermotor nan menghasilkan gas karbon monoksida beracun, asap pabrik, serta pembakaran sampah terbuka.
  • Polusi Dalam Ruangan: Gas dari bahan kimia rumah tangga, cat tembok baru, asap rokok, bahan gedung komposit, hingga partikel luar nan masuk melalui celah sirkulasi udara rumah.

Langkah Medis Pencegahan Paparan:

  • Memeriksa Indeks Kualitas Udara (AQI) secara berkala sebelum beraktivitas di luar rumah.
  • Menggunakan masker pelindung standar saat terpaksa kudu beraktivitas di area berpencemaran tinggi.
  • Membuka jendela di pagi hari untuk pertukaran udara segar dan menggunakan perangkat pembersih udara (air purifier) di dalam ruangan.
  • Segera melakukan konsultasi medis ke master andaikan mengalami keluhan batuk, sesak napas, alias mengi nan berlarut-larut.

(Arlega Sihotang/E-4)

Sumber: Alodokter (Ditinjau oleh dr. Gracia Fensynthia dan dr. Kevin Adrian), WHO.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑