Pola Asuh Anak Berdasarkan Usia dan Batasan Gadget Menurut Pakar UGM

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Pola Asuh Anak Berdasarkan Usia dan Batasan Gadget Menurut Pakar UGM Ilustrasi(magnific)

MEMBANGUN karakter dan keahlian anak memerlukan strategi nan tepat sesuai dengan jenjang usianya. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog, menekankan bahwa setiap fase pertumbuhan anak memerlukan pendekatan pengasuhan nan spesifik, terutama dalam memperkuat fondasi komunikasi, emosi, dan sosial sebelum mereka terpapar bumi digital secara intensif.

Menurut Novi, kesalahan dalam pola asuh di usia dini, terutama mengenai penggunaan gawai (gadget), dapat berakibat panjang pada perkembangan alami anak.

Fase Peniruan: Usia 0-7 Tahun

Pada rentang usia ini, anak diibaratkan sebagai spons nan menyerap segala info dari lingkungan sekitarnya. Novi menjelaskan bahwa anak usia di bawah tujuh tahun belajar melalui sistem bawah sadar dengan langkah meniru perilaku orang tua secara langsung.

"Anak umur 0 sampai 7 tahun itu belajarnya pakai bawah sadar. Mereka download everything; langkah ngomong orang tuanya, langkah bersikap, langkah orang tuanya bekerja di rumah, hingga langkah berjalan. Semua itu ditiru tanpa sadar tanpa banyak proses penalaran," ujar Novi.

Oleh lantaran itu, orang tua wajib menjadi model alias teladan nan sehat. Jika orang tua menginginkan anak mempunyai kebiasaan nan baik, maka orang tua kudu memulainya dari diri sendiri, termasuk dalam membatasi penggunaan gawai di depan anak.

Fase Dialog: Usia 7-12 Tahun

Memasuki usia sekolah dasar, pendekatan pengasuhan kudu mulai bergeser ke arah komunikasi dua arah. Pada fase ini, anak sudah mulai mempunyai keahlian logika nan lebih baik sehingga perbincangan menjadi kunci utama.

Orang tua disarankan untuk mulai membuka ruang obrolan mengenai argumen di kembali sebuah aturan. Dengan berdialog, anak bakal memahami akibat dari setiap pilihan nan mereka ambil, nan pada akhirnya membangun kesadaran diri (self-awareness) nan kuat.

Batasan Penggunaan Gadget

Salah satu poin krusial nan disoroti Novi adalah kepemilikan gadget pribadi. Ia merekomendasikan agar anak baru diberikan gadget pribadi setelah menginjak usia 12 hingga 13 tahun. Hal ini bermaksud agar kepekaan sensorik, motorik, dan sosial anak terbentuk secara alami terlebih dahulu.

"Di bawah 13 tahun mereka kudu dilatih dulu semua kepekaan bagian tubuhnya secara alami," tegasnya. Aktivitas bentuk seperti berolahraga, membaca kitab fisik, membantu pekerjaan rumah, dan berinteraksi sosial secara langsung kudu menjadi prioritas sebelum anak menyelami bumi digital.

Ringkasan Tahapan Pengasuhan dan Fokus Perkembangan

Rentang Usia Metode Belajar Utama Fokus Orang Tua
0 - 7 Tahun Peniruan Bawah Sadar (Modeling) Memberikan contoh perilaku & kebiasaan sehat.
7 - 12 Tahun Penalaran & Kesadaran Diri Membuka dialog, obrolan aturan, dan konsekuensi.
12/13 Tahun+ Kemandirian Digital Pemberian gadget pribadi dengan pengawasan.

Novi memperingatkan bahwa penggunaan gadget terlalu awal tanpa pendampingan dapat menciptakan ketergantungan nan susah dihilangkan.

"Kalau dari mini sudah terbiasa pegang HP, kelak susah mengembalikan lantaran sudah jadi habit (kebiasaan)," pungkasnya. Interaksi hangat dan komunikasi langsung tetap menjadi fondasi utama agar perkembangan emosi dan sosial anak melangkah optimal. (Ant/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia