Peserta Munas NU Ini Sebut Rais Aam Tak Menolak Lirboyo Tuan Rumah Muktamar

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Ketua PWNU Kalimantan Utara, Alwan Saputra, mengungkapkan kronologi suasana tegang nan sempat terjadi dalam sidang pleno Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur.

Menurut Alwan, ketegangan bermulai saat sidang pleno membahas rekomendasi Komisi Organisasi mengenai calon tuan rumah Muktamar NU nan bakal digelar pada Agustus 2026 mendatang.

Dalam pembahasan di tingkat komisi, kata dia, terdapat lima wilayah nan diusulkan sebagai calon tuan rumah, ialah DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dan Jawa Barat. Namun pembahasan tersebut belum menghasilkan kesepakatan final sehingga diserahkan kepada tim perumus untuk dibawa ke sidang pleno.

“Saat sidang pleno nan dipimpin KH Ahmad Asrori, hasil tim perumus dibawa ke forum. Namun sebelum forum dimintai persetujuan, langsung dilakukan pengetokan palu atas salah satu usulan nan diajukan,” kata Alwan, Rabu (24/6/2026).

Pantauan di lapangan, pengetokan palu tersebut langsung memicu gelombang interupsi dari peserta nan menilai sistem persidangan belum dijalankan secara utuh.

Begitu palu diketuk, banyak peserta melakukan interupsi lantaran merasa forum belum diberi kesempatan menyampaikan pendapat alias menyatakan persetujuan.

Suasana kemudian berubah menjadi tegang ketika sejumlah peserta nan dipimpin Nuruzzaman, pendukung KH Yahya Cholil Staquf berlari menghampiri para peserta nan interupsi. Dengan nara menakut-nakuti dan membujuk berkelahi, Nuruzzaman berteriak-teriak.

Saat itu terjadi intimidasi, ancaman, apalagi rayuan untuk baku pukul. Padahal saat itu banyak ustad sepuh nan datang dan mengikuti jalannya persidangan.

Alwan mengatakan, peristiwa tersebut menjadi momen nan sangat disayangkan lantaran terjadi di tengah forum resmi organisasi nan selama ini dikenal menjunjung tinggi tradisi musyawarah dan etika para ulama.

Melihat situasi nan semakin memanas, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar kemudian mengambil alih jalannya persidangan dan meminta keputusan nan baru saja diketuk dibatalkan lantaran dinilai belum memenuhi sistem persidangan.

“Rais Aam saat itu mengambil alih forum untuk mengembalikan ketertiban sidang. Beliau meminta keputusan tersebut dibatalkan lantaran prosedurnya belum selesai,” kata Alwan.

Alwan menegaskan, langkah Rais Aam tersebut bukan lantaran menolak Pondok Pesantren Lirboyo sebagai tuan rumah Muktamar NU. Menurut dia, nan dipersoalkan Rais Aam adalah sistem pengambilan keputusan dalam sidang pleno.

“Yang perlu kami luruskan, tidak betul bahwa Kiai Miftachul Akhyar menolak Pesantren Lirboyo. Beliau hanya meminta agar keputusan dibatalkan lantaran sistem pleno belum dijalankan secara benar. Seharusnya forum dimintai pendapat terlebih dahulu, baru kemudian keputusan disahkan,” ujarnya.

Alwan menilai, pemberitaan nan menyebut Rais Aam menolak Lirboyo berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Bahkan, kata dia, narasi tersebut bisa mendiskreditkan Rais Aam sekaligus mengadu domba Rais Aam dengan pihak Pesantren Lirboyo.

“Jadi belum ada penetapan tuan rumah. nan kami sayangkan, ketua sidang waktu itu langsung mengesahkan. Dengan segala hormat kepada ketua sidang, mekanismenya belum selesai,” kata Alwan.

Sebagai peserta Munas-Konbes sekaligus Ketua PWNU Kalimantan Utara, Alwan berambisi semua pihak memandang persoalan ini secara bening dan tidak hanya berasas satu jenis informasi.

Ia juga berambisi dinamika nan terjadi di PBNU dapat disikapi dengan niat baik dan cara-cara nan baik demi menyukseskan Muktamar NU mendatang.

“Siapa pun nan kelak terpilih memimpin PBNU, kita ikhtiarkan dan doakan agar menjadi pemimpin nan bisa membawa perahu besar Nahdlatul Ulama menjadi lebih baik, lebih tenang, dan lebih berfaedah bagi penduduk nahdliyin khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya,” kata Alwan.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑