Perlindungan Kesehatan Berkelanjutan Jadi Pilihan di Tengah Peningkatan Biaya Medis

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Perlindungan Kesehatan Berkelanjutan Jadi Pilihan di Tengah Peningkatan Biaya Medis Sejumlah pasien menjalani tahapan cuci darah (hemodialisis) di unit dialisis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang di Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026).(ANTARA/NOVA WAHYUDI)

KENAIKAN biaya kesehatan alias inflasi medis menjadi tantangan nan semakin nyata bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026, tingkat inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8% pada tahun 2026, menjadikannya nan tertinggi di Asia dan melampaui rata-rata area sebesar 12,5%. Kondisi ini membikin masyarakat perlu semakin memahami faktor-faktor nan mendorong kenaikan biaya medis, termasuk tingginya biaya penanganan penyakit kritis, seperti penyakit jantung, agar dapat mempersiapkan perlindungan kesehatan dan finansial jangka panjang secara lebih baik.

Untuk berbagi info sekaligus membangun pemahaman lebih lanjut, Allianz Indonesia menyelenggarakan Media Workshop dengan tema “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis”, nan menghadirkan perspektif medis dan industri asuransi. Melalui obrolan ini, Allianz Indonesia membujuk media dan masyarakat memahami bahwa kenaikan biaya kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi secara umum, tetapi juga oleh meningkatnya biaya tindakan medis, penggunaan teknologi kesehatan nan semakin canggih, nilai perangkat kesehatan, biaya obat-obatan, serta aspek ekonomi makro seperti kebutuhan terhadap produk impor.

Penyakit Kritis dan Tantangan Biaya Medis nan Perlu Dipahami

Mengawali diskusi, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, menjelaskan bahwa penyakit tidak menular tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia. Salah satunya adalah penyakit jantung nan sekarang semakin banyak ditemukan pada golongan usia produktif. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi beragam aspek risiko, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, tingkat stress tinggi, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok.

Lebih lanjut, dr. Bayushi menekankan bahwa penanganan penyakit jantung juga memerlukan biaya nan tidak sedikit, mulai dari pemeriksaan awal, tindakan medis, penggunaan perangkat kesehatan, hingga terapi obat-obatan lanjutan. Risiko penyakit jantung bukan hanya berakibat pada kondisi kesehatan pasien, tetapi juga dapat memberikan tekanan finansial nan signifikan bagi perseorangan maupun keluarga.

"Banyak aspek akibat penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini. Namun, ketika akibat terjadi, penanganannya sering kali memerlukan tindakan nan kompleks dan biaya nan tidak sedikit. Oleh lantaran itu, kesadaran untuk menerapkan style hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, mengenali faktor-faktor akibat nan dimiliki, serta mempersiapkan perlindungan kesehatan menjadi sangat penting," ujar dr. Bayushi.

Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi medis membantu meningkatkan kualitas pemeriksaan dan pengobatan. Dengan teknologi nan berkembang, master dapat melakukan penemuan lebih dini, menentukan tindakan medis nan tepat, dan meningkatkan hasil perawatan pasien. Namun di sisi lain, perihal ini juga turut memengaruhi biaya jasa alias perawatan kesehatan.

Menurut dr. Bayushi, penyakit kritis tidak hanya memengaruhi kondisi kesehatan, tetapi juga dapat berakibat produktivitas, kualitas hidup, dan kondisi finansial nan signifikan. Oleh lantaran itu, upaya pencegahan, penanganan sejak dini, dan kesiapan perlindungan kesehatan sangat perlu diperhatikan.

Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan

Dari perspektif industri asuransi, Rina Triana, Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, menjelaskan bahwa meningkatnya biaya medis merupakan tantangan nan tengah dihadapi oleh seluruh ekosistem kesehatan, termasuk asuransi. Selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan perawatan medis, tekanan terhadap biaya kesehatan juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi makro. Pelemahan nilai tukar rupiah dapat turut memengaruhi biaya jasa kesehatan, mengingat sebagian komponen obat dan perangkat kesehatan di Indonesia tetap berjuntai pada impor. 

Berdasarkan info Allianz Indonesia, rata-rata biaya perawatan beragam penyakit kritis pada periode 2020–2025 meningkat signifikan, seperti biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219%, kanker 179%, dan stroke 169%. Sepanjang tahun 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah telah membayarkan total klaim dan faedah sebesar Rp6,3 triliun, dengan Rp3,7 triliun di antaranya merupakan klaim kesehatan. 

"Ketika biaya jasa kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap jasa nan berbobot saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan faedah secara berkepanjangan dalam jangka panjang," ujar Rina.

Ia menjelaskan bahwa penyesuaian di industri asuransi kesehatan merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kecukupan faedah dan keberlanjutan perlindungan, agar pengguna tetap dapat memperoleh akses terhadap jasa kesehatan nan dibutuhkan di tengah dinamika biaya medis nan terus berubah.

Menurutnya, perlindungan kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan finansial jangka panjang. Penyakit kritis dapat berakibat tidak hanya pada biaya rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan, pengobatan lanjutan, serta tindak lanjut medis dalam jangka panjang.

"Ke depan, tantangannya bukan hanya menghadirkan perlindungan kesehatan nan relevan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berkepanjangan di tengah perubahan lanskap kesehatan. Saat akibat kesehatan dan biaya perawatan terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi semakin krusial sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang keluarga. Untuk itu, dibutuhkan pemahaman dan kesiapan nan lebih baik agar masyarakat dapat terus memperoleh akses pada jasa kesehatan nan dibutuhkan tanpa mengorbankan kestabilan finansial di masa depan," tutup Rina. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia