Ilustrasi(Dok Istimewa)
MENYIKAPIi kejadian menyempitnya ruang sipil dalam mengawal kebijakan dan maraknya ancaman represi bagi golongan muda nan kritis, platform Muda Bicara ID secara resmi meluncurkan program nasional "Muda Bicara Kebijakan 2026". Mengusung tema “Reimajinasi Demokrasi: Kolaborasi Orang Muda untuk Kebijakan Masa Depan”, forum ini datang sebagai respons strategis atas potret buram pengabaian bunyi pemuda nan selama ini kerap diidentikkan hanya sebagai komoditas politik lima tahunan.
Peluncuran program nan digelar secara daring pada Sabtu (1/8) ini berakar dari temuan mendalam Laporan Survei Nasional Muda Bicara ID nan mengungkap lahirnya kejadian spiral of silence di mana kebanyakan anak muda dibayangi rasa takut saat bersuara: 32,27% responden takut dikriminalisasi alias direpresi, dan 26,82% mengaku pernah mengalami intimidasi serta ancaman.
Di sisi lain, survei juga mencatat tingkat ketidakpuasan (rapor merah) nan tinggi dari kaum muda terhadap kebijakan pemerintah saat ini, terutama di bagian Ketenagakerjaan dan Lapangan Kerja (53,60%) serta Penegakan Hukum & Keadilan (53,42%). Selain itu, sebesar 61,90% pemuda mengidentifikasi tekanan ekonomi dan ketidakpastian pekerjaan di tengah gempuran gig economy sebagai pemicu stres utama nan menakut-nakuti masa depan mereka.
Dengan latar belakang tersebut, Founder Muda Bicara ID Moch Edward Trias Pahlevi menyoroti pentingnya kerjasama kaum muda untuk memikirkan gimana kebijakan masa depan harusnya datang nan diinisiasi melalui ruang-ruang demokrasi.
"Kita tidak boleh membiarkan generasi nan mendominasi demografi bangsa terjebak dalam rasa takut dan apatisme. Agenda 'Muda Bicara Kebijakan 2026' bukan sekadar ruang kumpul wacana biasa, melainkan episentrum konsolidasi buahpikiran bagi generasi kita. Kami mau menggeser paradigma anak muda dari sekadar objek politik menjadi co-creators dan co-designers izin di tingkat nasional maupun daerah," tegas Moch Edward Trias Pahlevi dalam keterangannya hari ini.
Bantuan Program
Sebagai langkah konkret beralih bentuk dari sekadar kritik menjadi solusi nyata, Muda Bicara juga mengumumkan penyediaan support pendanaan program bagi beberapa organisasi mahasiswa. Pendanaan ini dirancang unik untuk memfasilitasi dan mewujudkan inisiatif program nan paling inovatif, solutif, serta berakibat langsung dalam pengawalan kebijakan publik di masyarakat.
"Pemberian hibah ini bukan sekadar support finansial, melainkan katalis pergerakan. Kami mau memantik keberanian golongan muda agar tidak hanya nyaring menyuarakan kritik, juga presisi dan pandai menyodorkan tawaran solusi kebijakan kepada pemerintah, termasuk tindakan nyata," tambah Edward.
Kegiatan peluncuran ini menghadirkan jejeran pembicara lintas sektor, antara lain Wakil Menteri Dalam Negeri RI Bima Arya Sugiarto, nan mengulas peran strategis partisipasi pemuda dalam tata kelola pemerintahan dan kebijakan daerah. Juga datang Arya Fernandes dari Centre for Strategic and International Studies alias CSIS, nan membedah tren partisipasi politik baru dan arah kerakyatan Indonesia.
Kegiatan ini juga menghadirkan Deputi I Badan Komunikasi Pemerintah RI Fahd Pahdepie nan memaparkan narasi komunikasi publik berbasis aspirasi kepemudaan. Selain itu, dari kalangan akademisi juga datang Titi Anggraini selaku Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, nan mengulas urgensi agunan ruang kondusif norma serta penataan izin nan inklusif bagi pemuda.
Melalui komitmen ini, Muda Bicara ID berkeinginan terus mengawal jalannya kerakyatan agar tidak lagi dimaknai sebagai ritual elektoral lima tahunan semata, melainkan sebuah praktik baik nan hidup, inklusif, dan berakibat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·