Peringkat Kampus Palsu Dorong Euforia Reputasi Semu, Ancam Integritas Akademik

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Reputasi adalah aset berbobot sangat tinggi bagi sebuah institusi. Sedemikian bernilainya sehingga segala upaya dikerahkan untuk membangun dan melindunginya. Salah satu aspek nan dapat meningkatkan reputasi adalah pengakuan ranking bagi lembaga khususnya perguruan tinggi.

Di tengah lanskap kejuaraan ribuan perguruan tinggi Indonesia, masuknya sebuah kampus dalam jejeran ranking atas kampus terbaik menjadi dorongan penguat reputasi nan sangat dibanggakan oleh kampus itu.

Tidak heran, banyak perguruan tinggi memajang label ranking terbaik di media-media publikasi mereka. Hal ini sah-sah saja lantaran status pemeringkatan itu mencerminkan pencapaian nan diperoleh dari upaya keras dan cerdas. Idealnya demikian.

Namun, bumi ini tidak ideal.

Ketika ada lembaga alias media nan memublikasi daftar ranking kampus terbaik, ada euforia nan mendorong pihak kampus untuk segera membanggakan pengakuan itu. Euforia ini terkadang mengaburkan idealisme, berpotensi membawanya masuk dalam jebakan nan menakut-nakuti integritas akademik.

Ilustrasi ranking tiruan menakut-nakuti integritas akademik. (CC BY)

Disinformasi Peringkat Palsu

Salah satu kasus nan perlu menjadi perhatian berbareng adalah kejadian “predatory rankings”, ialah pemeringkatan palsu nan diragukan kredibilitasnya. Istilah menyeramkan ini sepertinya meminjam dari kejadian serupa nan sudah dikenal sebelumnya di kalangan akademik, ialah predatory journal alias jurnal predator.

Baru-baru ini, beberapa media massa nasional menerbitkan buletin mengenai ranking kampus terbaik Indonesia berasas pemeringkatan Webometrics 2026. Berita seperti ini selalu mendapatkan perhatian kalangan kampus, juga masyarakat nan khususnya sedang mencari info mengenai pilihan kampus untuk melanjutkan studi.

Yang menjadi masalah saat ini adalah dalam perihal keabsahan informasinya. Beberapa buletin tersebut rupanya merujuk pada info nan tidak kredibel, menggunakan referensi bukan dari sumber resmi Webometrics.

Vladimir M. Moskovkin dalam tulisannya “Predatory University Rankings Jeopardise the Value of Webometrics” (2026) mengungkap bahwa per Maret 2026, dia menemukan setidaknya ada 94 publikasi di Indonesia nan telah terjebak dalam kampanye disinformasi ini, merujuk info tiruan Webometrics.

Pencetus Webometrics, Dr. (H.C.) Isidro F. Aguillo telah memberi peringatan adanya situs-situs tiruan nan merilis info fiktif hasil rekayasa, mencatut istilah Webometrics dan menggunakan situs berjulukan domain mirip.

Masalah Webometrics dan uniRank

Situs resmi Webometrics dengan alamat webometrics.info dirilis oleh Cybermetrics Lab, bagian dari lembaga riset CSIC, Spanyol.

Pemeringkatan nan berjulukan komplit Webometrics Ranking Web of Universities ini telah beraksi sejak awal 2000-an. Dalam rentang waktu lebih dari dua dekade, Webometrics telah berkembang menjadi pemeringkat tepercaya berskala dunia.

Daftar ranking Webometrics sejauh ini diakui andal dengan metodologi penilaian nan valid. Banyak perguruan tinggi di Indonesia merujuk pemeringkatan ini dalam peta reputasi mereka. Aguillo sebagai pencetus Webometrics juga pernah datang langsung di beberapa kampus besar Indonesia untuk memberikan paparan mengenai sistem pemeringkatan kampus global.

Masalah timbul ketika situs resmi webometrics.info berakhir beraksi tahun lalu. Aguillo mengumumkan bahwa sejak Januari 2025, info resmi Webometrics dirilis melalui platform Figshare.

Kemudian, sejak Januari 2026, info resmi nan dirilis melalui Figshare tersebut tidak lagi menyertakan daftar dan metrik komplit secara terbuka. Hal ini dilakukan untuk membatasi akses info original agar tidak mudah “dibajak” dan disalahgunakan oleh situs-situs palsu.

Aguillo pun menyerukan agar masyarakat tidak terjebak oleh “fake websites”.

Masalah kredibilitas pemeringkatan juga terjadi pada uniRank. Lembaga pemeringkat ini sebelumnya dikenal dengan 4ICU, telah beraksi sejak 2005 menggunakan situs resmi unirank.org.

Sejauh ini, uniRank (4ICU) juga telah diakui kredibilitasnya secara global, menjadi rujukan reputasi oleh banyak perguruan tinggi di ratusan negara termasuk Indonesia.

Webometrics dan uniRank adalah dua pemeringkat dunia nan masing-masing menggunakan metodologi khas, dengan konsentrasi penilaian dan pemeringkatan nan berbeda. Kedua pemeringkatan ini menunjukkan kekuatan reputasi perguruan tinggi pada areanya masing-masing.

Sekitar tahun 2019-an, muncul situs pemeringkatan nan berjulukan mirip dengan uniRank, ialah UNIRANKS. Nama domain nan digunakan pun mirip, ialah uniranks.com.

Reputasi Semu Mengancam Integritas Akademik

Memperhatikan kasus Webometrics dan uniRank beserta peringkat-peringkat tiruan alias nan berjulukan mirip lainnya, kejadian ini menimbulkan ancaman bagi bumi akademik.

Ketika euforia kenaikan ranking dirayakan dengan kebanggaan maksimal tanpa verifikasi nan cermat, kebanggaan dan pencapaian itu akhirnya bisa menjadi reputasi semu nan justru berakibat negatif dan membahayakan.

Ketika kampus membanggakan info palsu, integritasnya patut dipertanyakan.

Di tengah era keterbukaan dan arus info nan deras saat ini, ketika masyarakat sangat rentan terhadap disinformasi, lembaga pendidikan tinggi kudu dapat menjadi penegak integritas nan dapat dipercaya oleh publik. Kampus jangan gegabah dengan klaim ranking rancu.

Pun demikian dengan media massa sebagai pilar literasi digital nan mempunyai tanggung jawab sebagai penjaga kebenaran dan penyaring informasi.

Media massa kudu lebih sensitif dan kebal terhadap sumber-sumber tiruan agar tidak menjadi bagian dari kampanye disinformasi nan menyesatkan. Media massa sangat dibutuhkan sebagai rujukan masyarakat dalam membedakan info nan betul dan nan salah. ~IS

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan