People Pleasing: Mengapa Sulit Mengatakan "Tidak" kepada Orang Lain?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi seseorang nan mengalami people pleasing, kesulitan mengatakan "tidak", serta berupaya menyenangkan semua orang. Foto: Freepik.

People pleasing adalah kebiasaan seseorang nan selalu mau menyenangkan orang lain demi memperoleh penerimaan alias menghindari penolakan. Dalam psikologi, perilaku ini dapat memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, dan percaya diri andaikan dilakukan secara berlebihan. Oleh lantaran itu, memahami people pleasing sekaligus belajar membangun batas diri nan sehat merupakan bagian krusial dari proses self improvement.

Dalam kehidupan sosial, setiap orang mempunyai kebutuhan untuk diterima dan dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Keinginan tersebut merupakan perihal nan wajar lantaran manusia adalah makhluk sosial. Namun, ketika kemauan untuk diterima membikin seseorang selalu mengutamakan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan dan perasaannya sendiri, perilaku tersebut dapat berakibat pada kehidupan sehari-hari dan kualitas hubungan dengan orang lain.

Mengenal People Pleasing dalam Kehidupan Sehari-hari

People pleasing adalah kecenderungan seseorang untuk selalu berupaya memenuhi angan dan kemauan orang lain demi memperoleh penerimaan alias menghindari penolakan. Orang nan mempunyai sifat ini sering kali merasa tidak nyaman ketika kudu mengatakan "tidak" dan condong mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku ini dapat terlihat dari kebiasaan menerima semua permintaan support meskipun sedang sibuk, susah mengungkapkan pendapat nan berbeda, alias merasa bersalah ketika menolak rayuan orang lain. Tidak jarang seseorang tetap memaksakan diri melakukan sesuatu nan sebenarnya tidak diinginkan hanya agar tidak mengecewakan orang lain.

Dampak People Pleasing terhadap Kesehatan Mental

Pada awalnya, people pleasing mungkin memberikan untung dalam hubungan sosial lantaran membikin seseorang terlihat ramah dan mudah bekerja sama. Orang lain juga condong merasa nyaman lantaran keinginannya sering dipenuhi.

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan bagian krusial dari kesejahteraan seseorang lantaran memengaruhi langkah berpikir, merasakan, bertindak, serta membangun hubungan dengan orang lain. Namun, jika dilakukan terus-menerus, perilaku ini dapat menimbulkan kelelahan emosional dan stres. Seseorang nan terlalu konsentrasi menyenangkan orang lain sering kali mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Akibatnya, mereka dapat merasa tertekan, kehilangan kepercayaan diri, apalagi kesulitan mengenali apa nan sebenarnya mereka inginkan dalam hidup. Selain itu, kebiasaan mencari persetujuan dari orang lain dapat membikin kebahagiaan seseorang berjuntai pada penilaian lingkungan. Ketika tidak mendapatkan apresiasi alias pengakuan nan diharapkan, muncul emosi kecewa dan tidak berharga. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental serta kualitas hubungan dengan orang lain.

Mengapa Seseorang Memiliki Perilaku People Pleasing

Ada beragam aspek nan dapat menyebabkan seseorang mempunyai kecenderungan people pleasing. Salah satunya adalah pola asuh nan mengajarkan bahwa penghargaan hanya diperoleh ketika seseorang bisa memenuhi angan orang lain. Pengalaman ditolak, dikritik, alias kurang mendapatkan perhatian juga dapat membikin seseorang lebih berjuntai pada pengesahan sosial. Selain itu, perkembangan media sosial turut memperkuat kejadian ini. Banyak orang merasa perlu menampilkan gambaran nan baik dan menyenangkan agar mendapatkan respons positif dari lingkungan digital. Akibatnya, kemauan untuk diterima menjadi semakin besar dan susah dikendalikan.

Menetapkan Batasan Diri untuk Mengatasi People Pleasing

Menghargai orang lain merupakan sikap nan baik, tetapi bukan berfaedah kudu selalu mengorbankan diri sendiri. Salah satu langkah mengatasi people pleasing adalah dengan belajar menetapkan batas nan sehat. Mengatakan "tidak" pada sesuatu nan tidak sesuai dengan keahlian alias kebutuhan bukanlah tindakan egois, melainkan corak penghargaan terhadap diri sendiri. Selain itu, krusial untuk memahami bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang nan menyukainya. Setiap perseorangan mempunyai kewenangan untuk menyampaikan pendapat, membikin pilihan, dan menjaga keseimbangan antara membantu orang lain serta memenuhi kebutuhan pribadinya. Fenomena people pleasing menunjukkan bahwa kemauan untuk diterima dapat memengaruhi hubungan sosial, kesehatan mental, dan percaya diri seseorang. Oleh lantaran itu, membangun batas diri nan sehat merupakan bagian krusial dari proses self improvement agar seseorang dapat menjalin hubungan nan lebih seimbang tanpa kehilangan jati dirinya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan