Penembakan Masjid San Diego: Pemimpin Agama Kecam Retorika Kebencian

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Pemimpin Agama Kecam Retorika Kebencian Lokasi kejadian.(Al Jazeera)

SERANGAN mematikan di suatu pusat Islam, San Diego, nan menewaskan tiga orang laki-laki pada Senin (18/5) memicu gelombang peringatan dari para pemimpin kepercayaan di seluruh Amerika Serikat. Tragedi ini dinilai sebagai puncak dari meningkatnya retorika kebencian terhadap umat Muslim dan golongan kepercayaan minoritas lain.

Dewan Muslim Amerika India (IAMC) dalam pernyataan resminya menyebut kejadian ini sebagai pengingat menyakitkan bahwa Islamofobia dan kefanatikan kepercayaan terus membahayakan nyawa serta merusak hak-hak organisasi minoritas. Mereka mendesak para pemimpin politik dan penegak norma untuk menangani kebencian anti-Muslim dengan serius.

Radikalisasi Online dan Retorika Politik

Kepolisian San Diego mengungkapkan bahwa dua tersangka remaja dalam serangan tersebut diduga mengalami radikalisasi secara daring (online). FBI menemukan tulisan-tulisan di kendaraan mereka nan menguraikan ideologi rasis dan kepercayaan keyakinan nan ekstrem. Kedua tersangka ditemukan tewas di dekat letak kejadian tak lama setelah serangan.

Imam Taha Hassane, kepala Islamic Center of San Diego, menegaskan bahwa serangan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. "Ketika pejabat terpilih dan media mencoba mendehumanisasi suatu komunitas, inilah hasilnya," ujarnya dalam wawancara dengan The Washington Post, Rabu (20/5).

Kritik tajam juga diarahkan pada sejumlah personil Kongres dari Partai Republik nan dalam beberapa bulan terakhir mengeluarkan pernyataan kontroversial:

  • Rep. Andrew Ogles: Menyatakan di platform X bahwa Muslim tidak termasuk dalam masyarakat Amerika.
  • Rep. Randy Fine: Mengunggah pernyataan nan membandingkan umat Muslim dengan hewan.
  • Sen. Tommy Tuberville: Menyebut ada upaya Muslim radikal untuk menghancurkan Barat.

Desakan Dana Keamanan Rumah Ibadah

Tragedi ini mendorong ratusan rohaniwan untuk mendatangi Capitol Hill pada Selasa (19/5). Mereka mendukung rancangan undang-undang di Senat nan mengusulkan tambahan biaya keamanan sebesar US$1 miliar (sekitar Rp17 triliun) untuk lembaga keagamaan.

Dana ini dianggap krusial mengingat serangkaian serangan terhadap rumah ibadah beragam kepercayaan dalam setahun terakhir, termasuk:

  • Serangan truk dan pembakaran di sebuah sinagoge di Detroit pada Maret lalu.
  • Pembakaran gereja Orang Suci Zaman Akhir di Michigan nan menewaskan empat orang.
  • Penembakan saat misa di Gereja Katolik Minneapolis musim panas lampau nan menewaskan dua anak.

Pernyataan Bersama Pemimpin Agama:
"Ancaman nan dihadapi organisasi kepercayaan di Amerika adalah nyata, mendesak, dan terus berkembang. Tidak seorang pun boleh merasa takut bakal keselamatan mereka saat berkumpul untuk bermohon alias beribadah."

Respons Gedung Putih

Wakil Presiden JD Vance menyebut serangan di San Diego sebagai tindakan tercela dan melanggar norma Tuhan. Namun, dia juga mengaitkan reaksinya dengan karakter Kristen Amerika yang menurutnya menjadi dasar bagi penghormatan terhadap kebebasan beragama.

Di sisi lain, para master kepercayaan menyoroti pagelaran keagamaan nan dipimpin Gedung Putih di National Mall sehari sebelum serangan. Acara nan dihadiri Presiden Donald Trump tersebut menekankan pandangan bahwa AS didirikan sebagai bangsa Kristen. Narasi ini menurut para sarjana dapat memperuncing polarisasi dan tidak mencerminkan visi para pendiri bangsa tentang pemisahan urusan negara dan agama.

Bagi organisasi Muslim di San Diego nan berjumlah sekitar 100.000 orang--banyak di antara mereka adalah imigran dan pengungsi nan melarikan diri dari perang--tragedi ini menjadi mimpi jelek di tengah meningkatnya vandalisme dan surat kaleng berisi kebencian nan mereka terima dalam beberapa tahun terakhir. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia