Warga Bantul pasti sudah enggak asing lagi dengan mi lethek. Mi berbahan dasar singkong ini merupakan salah satu kuliner legendaris nan diperkirakan sudah ada sejak 1940-an. Selain dikenal lantaran cita rasanya nan khas, sekarang mi lethek juga menarik perhatian lantaran manfaatnya.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa mi lethek punya karakter pencernaan nan berbeda dibandingkan mi berbahan dasar terigu.
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Hernawan, menyebut bahwa mi lethek mengandung lebih dari 63 persen slowly digestible starch (SDS), ialah jenis pati nan dicerna lebih lambat oleh tubuh.
“Artinya, pelepasan glukosa ke dalam darah berjalan bertahap, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah nan cepat,” kata Hernawan, seperti dikutip dari laman BRIN, Minggu (3/5).
Hal ini juga membikin mi lethek berpotensi menjadi pilihan nan lebih aman, terutama bagi masyarakat nan mau menjaga kadar gula darah. Sebab, nilai indeks glikemik (IG) mi lethek tergolong lebih rendah, ialah berada di kisaran 68-69, dibandingkan pada mi instan berbahan dasar tepung terigu nan umumnya mempunyai IG di atas 80.
Menurut Hernawan, temuan ini menunjukkan potensi mi lethek sebagai pilihan pangan nan lebih ramah untuk pengendalian gula darah, terutama bagi masyarakat dengan akibat penyakit metabolik. Rupanya, kelebihan tersebut tidak lepas dari proses produksi nan tetap mempertahankan metode tradisional.
Mi lethek sendiri dibuat melalui tahapan fermentasi singkong kering (gaplek), penggilingan menggunakan batu, pengukusan berulang, hingga penjemuran alami di bawah sinar matahari. Proses ini membentuk struktur pati nan lebih kompleks sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna tubuh.
“Teknik pengolahan ini berkedudukan dalam membentuk struktur pati nan lebih kompleks sehingga lebih lambat dicerna tubuh. Proses nan diwariskan secara turun-temurun tersebut terbukti memberikan akibat signifikan terhadap kualitas nutrisi dan karakter pencernaan produk,” jelasnya.
Secara historis, mi lethek awalnya berkembang sebagai solusi pangan di masa keterbatasan bahan pokok, ketika singkong digunakan sebagai pengganti beras dan gandum. Kini, perannya mulai bergeser menjadi salah satu pengganti pangan masa depan nan lebih berkelanjutan.
Dengan kandungan karbohidrat sekitar 88-89 persen serta kadar protein dan lemak nan rendah, mi lethek selama ini dikenal sebagai sumber energi. Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa pangan tradisional ini juga mempunyai nilai tambah sebagai pangan fungsional.
Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Ethnic Foods (2026), nan semakin memperkuat posisi mi lethek, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk berbasis ilmiah.
Selain itu, penelitian ini juga membuka kesempatan pengembangan mi lethek dalam strategi diversifikasi pangan nasional. Berbahan dasar singkong nan mudah dibudidayakan dan adaptif terhadap beragam kondisi lingkungan, mi lethek dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap gandum impor.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama mengenai kandungan protein nan relatif rendah. Para peneliti mendorong adanya inovasi, seperti fortifikasi dengan bahan pangan lokal lainnya, tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
“Mi lethek bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari sejarah dan budaya. Dengan pendekatan ilmiah, potensinya dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan pangan sehat di masa depan,” ujarnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·