Pendidikan Psikologi Bahas Dampak dan Peluang AI dalam Kolokium Khusus di Bandung

Sedang Trending 5 jam yang lalu
 Pendidikan Psikologi Bahas Dampak dan Peluang AI dalam Kolokium Khusus di Bandung Ketua Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI)Rahmat Hidayat saat pembukaan Kolokium Khusus XXXII AP2TPI di Bandung(MI/SUMARIYADI)

PENDIDIKAN tinggi psikologi Indonesia didorong untuk bisa memanfaatkan Generative Artificial Intelligence (AI) secara adaptif dan bertanggung jawab, tanpa mengabaikan integritas akademik, kualitas layanan, etika profesi, serta keamanan info psikologi..

Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Kolokium Khusus XXXII Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI), nan berjalan pada 22–24 Juli 2026 di éL Hotel Bandung.

Mengusung tema “Pendidikan Tinggi Psikologi Berdampak dan Terdampak: Peluang dan Tantangan di Era Generative AI”, aktivitas ini mempertemukan ketua perguruan tinggi, dekan, pengelola program studi, akademisi, peneliti, dan psikolog dari beragam wilayah di Indonesia.

Ketua AP2TPI, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa perkembangan Generative AI telah mengubah langkah mahasiswa belajar, pengajar mengajar, peneliti bekerja, serta praktisi memberikan jasa psikologi.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah Generative AI bakal digunakan dalam pendidikan tinggi, tetapi gimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara kritis, etis, bertanggung jawab, dan tetap berorientasi pada kemanusiaan,” ujarnya.

Menurut Rahmat, AI dapat membantu pembelajaran, penelitian, pengolahan informasi, dan efisiensi proses akademik. Namun, keputusan akademik dan ahli tetap di tangan manusia nan mempunyai kompetensi, integritas, empati, serta tanggung jawab etik.


KESEHATAN MENTAL


Rangkaian hari pertama ditutup dengan Gala Dinner nan dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr Herman Suryatman.

"Saya mengapresiasi digelarnya Kolokium Khusus AP2TPI di Kota Bandung. Pertemuan para akademisi, ketua perguruan tinggi, dan psikolog ini sangat strategis lantaran persoalan kesehatan mental saat ini semakin kuat dan dirasakan di beragam lingkungan masyarakat," ungkap Sekda.

Dia menekankan bahwa psikolog semakin dibutuhkan untuk membantu menjawab persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja, keluarga, lingkungan pendidikan, bumi kerja, serta masyarakat secara luas.

Pemerintah wilayah tidak dapat bekerja sendiri. Karena itu, diperlukan kerjasama nyata antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, akomodasi pelayanan kesehatan, psikolog, dan masyarakat agar jasa kesehatan mental semakin mudah dijangkau dan dirasakan manfaatnya.

Agenda utama pertemuan ini menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof Brian Yuliarto, nan membahas “Kontribusi Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia di Era Generative AI”.

Perspektif internasional disampaikan Prof James W Pennebaker melalui tema “The Future of Psychological Science”, nan membahas masa depan pengetahuan psikologi, perkembangan penelitian, penemuan metodologi, serta pemanfaatan teknologi.

Sementara itu, Dr. Retno Hanggarani Ninin, M.Psi., Psikolog, juga menyampaikan peluncuran Kurikulum S2 Psikologi sekaligus pengantar kolokium bagian pendidikan.

Agenda dilanjutkan dengan talkshow berbareng Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., mengenai tantangan jasa ilmu jiwa di tengah disrupsi Generative AI, serta Prof. Dr. Henndy Ginting, S.Psi., M.Si., Psikolog, mengenai transformasi pendidikan tinggi ilmu jiwa untuk pendidikan nan berdampak.


KOLABORASI 14 PERGURUAN TINGGI


Kolokium membahas sejumlah agenda strategis, meliputi standar kurikulum pendidikan ilmu jiwa jenjang S1, S2, dan S3, pertimbangan Pendidikan Profesi Psikolog, penerapan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), peningkatan kualitas pendidikan psikologi, penguatan akreditasi, serta pengembangan laboratorium.

Sebelumnya, tujuh workshop juga diselenggarakan. Topiknya meliputi standar laboratorium pendidikan psikologi, penggunaan AI dalam pembelajaran, legalisasi program studi, pengembangan kurikulum psikometri, Gottman Method Couples Therapy, dan Rational Emotive Behavior Therapy alias REBT.

Kolokium ini diselenggarakan melalui kerjasama 14 perguruan tinggi penyelenggara pendidikan ilmu jiwa di Jawa Barat. Hasilnya diharapkan menjadi rekomendasi dan arah kebijakan berbareng untuk membangun pendidikan tinggi ilmu jiwa Indonesia nan bermutu, adaptif terhadap teknologi, beretika, dan tetap berpusat pada manusia.

Bagi masyarakat, penguatan pendidikan ilmu jiwa diharapkan meningkatkan kualitas jasa kesehatan mental, melindungi kerahasiaan info psikologis, serta menghasilkan psikolog dan lulusan ilmu jiwa nan kompeten, profesional, dan bisa menjawab kebutuhan masyarakat di era digital.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia