Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel dan Wapres Gibran Rakabuming Raka di Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026, Gorontalo.(Dok. Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel,)
ANGGOTA Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, membujuk semua peserta Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 untuk menjadikan forum ini sebagai momentum kemandirian pangan.
"Dalam konteks ini, sektor pertanian dan perikanan kudu menjadi fondasi ekonomi nasional," katanya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Hal itu disampaikan Rachmat Gobel usai mengikuti aktivitas pembukaan Penas Petani dan Nelayan di area olahraga Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Acara empat tahunan ini dibuka Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan menurut rencana bakal ditutup oleh Presiden Prabowo Subianto pada 24 Juni 2026. Dalam aktivitas itu datang Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi, dan para pejabat lainnya. Acara ini diikuti para petani, nelayan, penyuluh, dan para stakeholders lainnya. Dalam aktivitas itu juga dipamerkan alat-alat pertanian.
Pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan, kata Gobel, kudu menjadi fondasi ekonomi nasional. "Karena itu kekuatan Indonesia. Lahan luas, jumlah sumberdaya manusia nan terlibat di dalamnya sangat besar, hanya mempunyai dua musim, dan tanahnya subur. Ini bukan hanya kekuatan ekonomi, tapi juga ketahanan nasional kita," katanya.
Sebagai bagian dari tuan rumah, Gobel menghadirkan empat lokasi wisata nan ditata dan dikembangkan dirinya sebagai personil DPR seperti area air panas Pentadio dengan menampilkan patung kucing, videotron berbentuk bola nan merupakan satu-satunya di Indonesia, perbaikan Menara Pakaya, mempercantik Danau Perintis dengan menghadirkan wahana ayunan lampu, dan juga area Pantai Tamendao. Dengan demikian, para peserta nan berjumlah ribuan orang dari seluruh Indonesia bakal mempunyai tempat nan mencukupi untuk relaksasi di sela-sela mengikuti aktivitas selama lima hari tersebut.
Untuk mewujudkan kemandirian pangan, Gobel membangun ekosistem pertanian nan terintegrasi dengan wisata dan pendidikan. Karena itu, ia membangun 20 desa agrowisata dengan 10 komoditas pertanian. Untuk tahap awal dia membangun Agrowisata Kacang Desa Tilihuwa. Pembangunan sebuah ekosistem wisata, ekonomi, pertanian, dan edukasi berbasis organisasi dengan komoditas kacang tanah ini merupakan bagian dari upaya membangun kesejahteraan petani dan masyarakat desa.
Ia membangun balai kerja, perkantoran, pergudangan, MCK umum, PAUD, dan home stay.
Semuanya dikelola oleh sebuah koperasi. Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti dan tim sudah meninjau Desa Agrowisata Kacang Tanah tersebut nan terletak di Desa Tilihuwa. Melalui pembicaraan intensif, BPPSDMP bakal membantu training tenaga teknis untuk perawatan alsintan, peningkatan kualitas penyuluh, serta penguatan kelembagaannya.
Gobel mengatakan, perhelatan ini kudu menjadi momentum bagi stake holders pertanian dan perikanan untuk unjuk kebolehan dari masing-masing wilayah tentang kelebihan komoditas dan produk masing-masing. Dengan demikian, katanya, para peserta bisa berganti pengalaman, saling belajar, dan kemudian melakukan kolaborasi. Selain itu, katanya, juga bisa menunjukkan penemuan nan sudah dilakukan sehingga bisa ditularkan ke peserta dari wilayah lain. Tentang kolaborasi, Gobel menceritakan pengalamannya nan sedang merajut kerjasama dengan Kota Sukabumi dengan menjajaki kemungkinan kerja sama penanaman kacang kedelai. Untuk tanaman kacang tanah, dia juga bekerja-sama dengan Garudafood. Sedangkan untuk tanaman kakao dan kopi, dia merajut kerja sama dengan Chateraise. Garudafood adalah perusahaan olahan kacang tanah, sedangkan Chateraise adalah perusahaan kue dan es krim dari Jepang.
Lebih lanjut Gobel mengatakan bahwa kesejahteraan petani dan produktivitas pertanian kudu melangkah beriringan. “Mutu dan jumlah produk dibutuhkan oleh konsumen dan krusial bagi ketahanan nasional, namun kesejahteraan petani dan nelayan juga kudu terus meningkat. Inilah nan kudu dicapai secara bersama-sama oleh pemerintah, petani, nelayan, dan pengusaha,” katanya.
Menurutnya, petani dan nelayan dihadapkan pada masalah kemiskinan, problem bibit dan pupuk, serta nilai jual nan jatuh saat panen. Ia mengakui pemerintahan Prabowo Subianto sedang bekerja keras menjamin pasokan pupuk dan bibit dengan nilai terjangkau serta menjamin penyerapan hasil panen dengan nilai nan memadai.
Gobel mengatakan, kemajuan pertanian dan perikanan serta kemakmuran petani dan nelayan seluruh Indonesia kudu melangkah seiring. “Penas menjadi forum strategis bagi petani dan nelayan serta pertanian dan perikanan. Di sini bisa berganti dan menimba pengetahuan dan pengalaman sehingga bisa melahirkan penemuan baru nan bisa dibawa pulang ke wilayah masing-masing,” katanya.
Ke depan, kata Gobel, modernisasi pertanian adalah kebutuhan absolut untuk menjamin pasokan pangan dan tantangan perubahan iklim. “Ada masalah ancaman krisis pangan dunia. Ini kudu disadari bersama. Petani dan nelayan menjadi ujung tombak ketahanan nasional dan kemajuan bangsa. Ajang Penas ini kudu menjadi kesadaran berbareng tentang strategisnya petani dan nelayan serta pertanian dan perikanan bagi masa depan Indonesia,” katanya. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·