Penanganan Katup Jantung Dapat Dilakukan tanpa Operasi Terbuka

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Penanganan Katup Jantung Dapat Dilakukan tanpa Operasi Terbuka Ilustrasi(Dok Istimewa)

Sapporo Cardio Vascular Clinic (SCVC BALI), pusat layanan kardiovaskular nan merupakan bagian dari Hong Kong Asia Medical Group (HKAMG), kembali memperluas jasa advanced cardiovascular care di Bali, Kali ini, SCVC BALI sukses melaksanakan tindakan Mitral Transcatheter Edge-to-Edge Repair (M-TEER) pertama di Bali International Hospital (BIH). Prosedur ini menjadi salah satu layanan advanced structural heart yang dihadirkan SCVC BALI untuk menangani pasien dengan mitral regurgitation (MR) alias kebocoran katup mitral melalui pendekatan minimal invasif tanpa operasi jantung terbuka.

Tindakan ini dilakukan pada 2 Agustus 2026 oleh dr. I Dewa Gde Dwi Sumajaya, M.Biomed, Sp.JP(K), FIHA, FICA, Konsultan Intervensi Jantung SCVC BALI, berbareng dr. Ni Made Ayu Wulan Sari, M.Biomed, Sp.JP(K) selaku Subspesialis Ekokardiografi SCVC BALI. Tindakan ini juga spesial lantaran bekerja-sama dengan master internasional, termasuk Prof. Lam Yat Yin dari Hong Kong dan Prof. Su Xi dari Tiongkok.

Keberhasilan tindakan ini sekaligus menunjukkan keahlian SCVC BALI dalam menghadirkan penanganan jantung struktural nan memerlukan tingkat presisi, teknologi, serta koordinasi tinggi antarspesialis. M-TEER merupakan prosedur minimal invasif untuk memperbaiki kebocoran katup mitral dengan menggunakan kateter nan dimasukkan melalui pembuluh darah, umumnya melalui area pangkal paha, menuju jantung. 

Berbeda dengan operasi jantung terbuka nan memerlukan sayatan pada dada, prosedur ini dilakukan tanpa membuka tulang dada. Dengan menggunakan perangkat khusus, master melakukan edge-to-edge repair dengan mendekatkan bagian daun katup mitral nan mengalami kebocoran sehingga aliran darah nan kembali ke ruang jantung dapat dicegah.

Dalam kasus ini, pasien merupakan laki-laki berumur 68 tahun dengan mitral regurgitation berat akibat proses degeneratif. Pasien telah mengalami indikasi kandas jantung, termasuk pembengkakan pada kaki. Setelah mempertimbangkan kondisi pasien dan akibat operasi terbuka, tim master memilih M-TEER sebagai pendekatan minimal invasif nan sesuai dengan kondisi klinis pasien.

“Keberhasilan tindakan ini tidak hanya ditentukan oleh perangkat nan digunakan, tetapi juga oleh ketepatan perencanaan dan koordinasi tim selama prosedur. Setiap tahapan tindakan juga memerlukan pedoman secara langsung dan keputusan nan presisi. Kolaborasi dengan tim internasional memberikan kesempatan bagi kami untuk menggabungkan pengalaman dan skill dalam menangani kasus nan kompleks, sekaligus memperkuat transfer pengetahuan kepada tim medis di Indonesia,” ujar dr. Suma.

Tindakan M-TEER dilakukan dengan lama kurang dari dua jam. Menggunakan ekokardiografi transesofageal, master dipandu secara real time untuk menentukan posisi perangkat, memastikan penjepitan katup dilakukan dengan tepat, serta mengevaluasi secara langsung apakah kebocoran sudah berkurang secara optimal. Proses pemulihan pun berjalan lebih cepat. 

Layanan ini nyatanya juga dapat melangkah atas kerjasama nan baik SCVC BALI dan Artivis sebagai salah satu perusahaan nan yang mempunyai bagian upaya pendistribusian perangkat kesehatan. Baik SCVC maupun Artivis berkomitmen terus membantu pasien di Indonesia mendapatkan jasa kesehatan nan terbaik.

Steven Tse, CEO HKAMG mengatakan, “Keberhasilan M-TEER di SCVC BALI merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus memperluas akses terhadap jasa cardiovascular dan structural heart nan lebih canggih di Indonesia. Kami mau memastikan bahwa pasien tidak selalu kudu mencari penanganan ke luar negeri untuk mendapatkan teknologi dan skill medis tingkat lanjut. Di SCVC BALI, kami membangun kerjasama antara master Indonesia dan para mahir dari jaringan HKAMG di Asia untuk menghadirkan jasa berbobot tinggi sekaligus memperkuat kapabilitas medis di Indonesia. Ini merupakan bagian dari visi kami dalam mengembangkan jasa kardiovaskular di Asia Tenggara.”

Awareness Masih Rendah

Di sisi lain, dr. Suma menilai awareness masyarakat terhadap penyakit katup jantung juga tetap menjadi perhatian. Kebocoran katup mitral dapat berkembang secara perlahan dan gejalanya kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan alias kelelahan biasa. Padahal, keluhan seperti mudah lelah, sesak napas, penurunan toleransi aktivitas, alias pembengkakan pada kaki dapat menjadi tanda bahwa jantung mengalami gangguan nan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Masih banyak masyarakat nan menganggap kelainan katup jantung cukup ditangani dengan obat. Padahal, obat pada dasarnya membantu mengendalikan indikasi dan kondisi pasien, tidak untuk memperbaiki struktur katup nan mengalami kebocoran. Karena itu, andaikan seseorang mempunyai keluhan seperti mudah lelah, sesak, alias kaki membengkak, terutama pada usia lanjut, sebaiknya dilakukan pemeriksaan jantung lebih lanjut agar kondisi dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin,” jelas dr. Suma.

Melalui pengembangan jasa structural heart dan juga kerjasama dengan tenaga medis dari antarnegara dari Indonesia, Hong Kong, hingga China, SCVC BALI berkomitmen untuk terus memperluas pilihan jasa kardiovaskular minimal invasif di Bali. Kehadiran jasa seperti M-TEER diharapkan dapat mendukung pengembangan kapabilitas jasa cardiovascular care berstandar internasional di Indonesia. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia