Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan usai menghadiri deklarasi tindakan Pilah Sampah Bersama dari Rumah di Bandung, Jumat (24/7).(MI/BAYU ANGGORO)
Pemerintah pusat memastikan bakal menghentikan sistem pembuangan sampah terbuka (open dumping) di seluruh daerah. Langkah ini diambil mengingat persoalan sampah telah mencapai tahap darurat dan berakibat signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa penutupan sistem open dumping tersebut ditargetkan melangkah efektif paling lambat dua tahun mendatang. Hal ini disampaikannya usai menghadiri deklarasi tindakan Pilah Sampah Bersama dari Rumah di Bandung, Jumat (24/7).
Zulkifli menyoroti kondisi di area Bandung Raya nan saat ini menghasilkan nyaris 2.000 ton sampah setiap hari, sehingga masuk dalam kategori darurat. Kondisi serupa juga terjadi di Jakarta, Tangerang Selatan, hingga nyaris 60 kota lainnya di Indonesia.
"Bandung Raya ini menghasilkan sampah nyaris dua ribu ton satu hari. Jadi sudah masuk kategori darurat. Dan nan darurat ini tidak hanya Bandung Raya, Jakarta, Tangerang Selatan, nyaris di enam puluh kota itu darurat. Dan itu menimbulkan masalah nan luar biasa," ujar Zulkifli.
Penyederhanaan Regulasi dan Pengolahan Sampah Menjadi Energi
Menurut Zulkifli, selama 11 tahun terakhir, pengembangan pembangkit listrik berbasis sampah melangkah sangat lambat akibat hambatan izin nan rumit. Dari ribuan ton sampah nan ada, hanya dua izin nan sukses keluar selama periode tersebut.
Atas pengarahan Presiden, pemerintah sekarang tengah menyederhanakan izin untuk mempercepat proyek Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan penyelesaian masalah sampah di 60 kota nan digabung ke dalam 24 titik pengelolaan daya listrik, termasuk di wilayah Bandung Raya.
"Atas perintah Bapak Presiden, jika sampah saja kita tidak bisa selesaikan, mana mungkin kita bisa jadi negara maju. Oleh lantaran itu, nan darurat dulu, ialah sampah open dumping. Itu sudah kudu kita akhiri dalam dua tahun ini," tegasnya.
Pentingnya Pemilahan dari Sumber
Meski teknologi pembangkit listrik terus dikembangkan, Zulkifli mencatat bahwa metode ini hanya bisa mengatasi sekitar 22% dari total volume sampah. Sisanya kudu diselesaikan melalui pengelolaan dari sumbernya, terutama melalui pemilahan sampah rumah tangga.
Ia menekankan pentingnya memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah anorganik mempunyai nilai ekonomi tinggi lantaran dapat diolah menjadi listrik, minyak, hingga bahan bakar pengganti batu bara.
"Masalah sampah memang pelik lantaran ini adalah masalah kita semua. Bukan hanya Gubernur, Bupati, alias pemerintah saja. Jika seluruh komponen masyarakat, mulai dari RT, RW, kampus, hingga TNI bergerak bersama, insyaallah pada 2029 sebanyak 80% persoalan sampah bisa kita selesaikan," pungkasnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·