Pembangunan Rumah Tapak di AS Turun, Suku Bunga KPR Tekan Permintaan

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Papan tanda dijual di luar rumah di Los Angeles, California, pada 16 Agustus 2024. Foto: Patrick T. Fallon / AFP

Pembangunan rumah tapak di Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Juni 2026. Penurunan nan terjadi selama tiga bulan berturut-turut itu mencerminkan tetap lesunya sektor perumahan akibat tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), biaya pembangunan nan meningkat, serta tetap banyaknya stok rumah baru nan belum terserap pasar.

Mengutip Reuters, Data Biro Sensus AS nan dirilis Departemen Perdagangan pada Jumat menunjukkan pembangunan rumah tapak turun 0,2 persen secara bulanan menjadi 895.000 unit dalam hitungan tahunan nan telah disesuaikan secara musiman. Secara tahunan, nomor tersebut turun 3,2 persen. Penurunan terjadi di area Timur Laut, Selatan, dan Midwest, sedangkan wilayah Barat mencatat kenaikan aktivitas pembangunan.

Prospek sektor perumahan juga tercermin dari izin pembangunan rumah tapak nan turun 2,4 persen menjadi 871.000 unit, level terendah sejak Agustus 2025. Secara tahunan, izin pembangunan turun 0,2 persen.

Tekanan terhadap sektor perumahan diperkirakan tetap bersambung lantaran tingginya suku kembang KPR membikin banyak calon pembeli menunda pembelian rumah. Suku kembang KPR tenor tetap 30 tahun, nan paling banyak digunakan di AS, rata-rata mencapai 6,55 persen pada pekan ini alias menjadi nan tertinggi dalam 11 bulan, menurut Freddie Mac.

Di sisi lain, developer berambisi undang-undang bipartisan mengenai keterjangkauan perumahan nan baru disahkan Kongres AS dapat membantu memperbaiki kondisi pasar. Regulasi tersebut antara lain menyederhanakan kajian lingkungan dan mendorong reformasi patokan zonasi, meski dampaknya diperkirakan baru bakal terasa dalam beberapa waktu ke depan.

“Potensi peningkatan pembangunan perumahan dari penyederhanaan kajian lingkungan, pelonggaran patokan untuk rumah manufaktur, dan dorongan reformasi zonasi bakal memerlukan waktu sebelum dampaknya terasa,” kata Kepala Ekonom AS Pantheon Macroeconomics, Samuel Tombs.

“Investasi riil di sektor perumahan bakal sedikit membebani pertumbuhan PDB dalam beberapa kuartal ke depan,” imbuhnya.

Laporan terpisah menunjukkan sentimen konsumen sempat membaik pada awal Juli seiring meredanya bentrok di Timur Tengah. Namun, memburuknya kembali ketegangan antara AS dan Iran dinilai berpotensi menghalang pemulihan kepercayaan masyarakat.

“Ketidakpastian baru mengenai bentrok AS-Iran dapat membikin nilai daya tetap bergolak dan membebani finansial rumah tangga serta persepsi terhadap ekonomi, sehingga menunda perbaikan sentimen konsumen secara lebih luas,” ujar ahli ekonomi pasar finansial Nationwide, Vivian Chen.

Di pasar keuangan, indeks saham Wall Street bergerak melemah dipicu tindakan jual saham teknologi. Sementara itu, dolar AS condong stabil terhadap mata duit utama lainnya dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun.

Stok Rumah Baru Masih Tinggi

Survei National Association of Home Builders (NAHB) menunjukkan kepercayaan developer rumah tapak tetap lemah pada Juli. Meski AS tetap mengalami kekurangan pasokan rumah, terutama untuk pembeli pertama, persediaan rumah baru nan belum terjual kembali mendekati level tertinggi sejak akhir 2007.

“Terasa seperti para developer akhirnya mulai bisa mengendalikan persediaan mereka, tetapi musim penjualan musim semi nan sangat jelek membikin mereka kembali mundur,” kata Kepala Ekonom AS Santander U.S. Capital Markets, Stephen Stanley.

“Akibatnya, meski aktivitas pembangunan perumahan riil kemungkinan segera mencapai titik stabil, pelemahan nan telah berjalan selama dua tahun bisa bersambung satu hingga dua kuartal lagi,” tambahnya.

Berbeda dengan rumah tapak, pembangunan hunian multifamily alias proyek dengan lima unit alias lebih melonjak 76,3 persen menjadi 513.000 unit pada Juni. Secara tahunan, pembangunan segmen tersebut meningkat 19,3 persen.

Secara keseluruhan, pembangunan perumahan AS naik 19 persen menjadi 1,427 juta unit dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 3,5 persen dibandingkan periode nan sama tahun lalu.

Meski demikian, izin pembangunan multifamily justru turun 4,9 persen menjadi 445.000 unit. Total izin pembangunan seluruh jenis kediaman turun 3 persen menjadi 1,367 juta unit alias melemah 2,3 persen dibandingkan Juni tahun lalu.

Konsumsi dan Investasi AI Jaga Pertumbuhan

Di tengah perlambatan sektor perumahan, ekonomi AS tetap ditopang shopping konsumen dan investasi bisnis, terutama untuk pembangunan prasarana kepintaran buatan (AI), serta peningkatan persediaan peralatan oleh perusahaan.

Federal Reserve melaporkan output manufaktur stagnan pada Juni. Namun, produksi pabrik tumbuh 4,7 persen secara tahunan pada kuartal II, laju tercepat dalam lima tahun. Produksi sektor utilitas juga meningkat sehingga mendukung konsumsi rumah tangga.

Sejalan dengan info tersebut, ahli ekonomi Goldman Sachs meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS kuartal II menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,4 persen.

Di sisi lain, tekanan inflasi dinilai belum sepenuhnya mereda. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan nilai impor naik 0,3 persen pada Juni, berlawanan dengan perkiraan ahli ekonomi nan memperkirakan penurunan 0,7 persen.

Dalam 12 bulan hingga Juni, nilai impor meningkat 7,1 persen, tertinggi sejak Agustus 2022. Di luar komponen pangan dan energi, nilai impor naik 0,4 persen, didorong kenaikan nilai peralatan modal dan peralatan konsumsi.

Harga perangkat komputer beserta komponennya melonjak 2,3 persen secara bulanan dan melesat 41,6 persen dibandingkan tahun lalu, mencerminkan tingginya permintaan terhadap teknologi pendukung investasi AI.

Selain itu, laporan juga mencatat kenaikan tarif penerbangan internasional, salah satu komponen pembentuk indeks inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) nan menjadi referensi Federal Reserve.

“Bagi The Fed, ini menjadi pengingat bahwa tekanan biaya pada barang-barang inti belum lenyap meskipun inflasi konsumen melambat pada Juni,” kata Ekonom Senior BMO Capital Markets, Priscilla Thiagamoorthy.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan