Tokoh budaya Merauke Mama Sinta menyatakan support pada Food Estate Papua Selatan dan keluar dari golongan penolak PSN.(Dok. MetroTv)
TOKOH wanita budaya asal Merauke, Yasinta Moiwend alias nan berkawan disapa Mama Sinta, secara mengejutkan menyatakan dukungannya terhadap program lumbung pangan (food estate) di Papua Selatan. Pejuang lingkungan ini menegaskan telah keluar dari golongan pendamping norma nan selama ini menyuarakan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.
Mama Sinta mengungkapkan bahwa keputusannya didasari oleh kebutuhan ekonomi family dan kondisi huniannya nan sudah tidak layak. Ia berambisi dengan mendukung program pemerintah, anak-anaknya bisa mendapatkan pekerjaan dan rumahnya dapat direhabilitasi.
"Sekarang saya tidak berasosiasi lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan lantaran rumah saya mau direhab lantaran sudah tidak layak lagi," ujar Mama Sinta dalam keterangannya, Minggu (24/5).
Ia mengaku sebelumnya diajak oleh golongan masyarakat budaya Marind dan lembaga support norma untuk menolak pembukaan lahan. Namun, dia merasa aspirasinya selama ini dimanfaatkan tanpa memberikan akibat nyata bagi kesejahteraannya. Selama enam bulan mendampingi tindakan penolakan hingga ke Jakarta, dia mengaku hanya mendapatkan kelelahan.
“Saya minta maaf sekali lantaran itu bukan kemauan saya, itu lantaran rayuan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya kelak terjadi seperti apa alias mereka bantu saya akomodasi punya rumah alias anak saya dipekerjakan, rupanya tidak ada,” ungkapnya sembari menunjukkan kondisi dapurnya nan sekarang kudu menggunakan kayu bakar.
Mama Sinta sekarang meletakkan angan besar pada kerjasama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat lokal. "Harapan kami hanya ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung," tuturnya.
Di sisi lain, pihak pendamping norma memberikan respons berbeda. Peneliti Pusaka Bentala Rakyat, Villarian alias Juple, membantah klaim perubahan sikap tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen berbareng masyarakat budaya untuk menolak PSN di Papua Selatan.
“Enggak ada, itu perlu diklarifikasi, itu info dari mana lantaran Mama Yasinta itu bersama-sama dengan kita, berkomitmen untuk terus menolak PSN nan ada di Papua Selatan,” kata Juple.
Perbedaan pernyataan ini memicu dinamika baru dalam penyelenggaraan proyek Food Estate di Merauke nan diproyeksikan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan prasarana di wilayah Timur Indonesia. (MetroTv/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·