Pedagang Warteg Tertekan Harga Plastik, Mendadak Muncul Warteg 'Fancy'

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Daftar Isi Artikel ini merupakan bagian kedua dari serial "Warteg 'Fancy' di Jakarta" nan terdiri dari tiga bagian: mengupas kejadian warteg premium di Jakarta, kondisi ekonomi nan memengaruhi dinamika style hidup kelas menengah, dan potensi apropriasi budaya di dalamnya.

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren warteg kekinian dengan konsep estetik sudah dimulai sejak beberapa tahun terakhir. Antara lain jaringan 'Rumanasi' nan mempunyai bagian di Cikajang dan Puri Indah, 'Cahaya Selatan' di Panglima Polim nan lebih konsentrasi menyajikan citarasa Chinese food, dan 'Luwe' di Cikajang dengan konsep etalase kaca ala warteg untuk memajang beragam lauk.

Saat memasukkan kata kunci "warteg kekinian Jakarta" di media sosial, langsung terpampang beragam konten viral nan mempromosikan warteg style modern.

Terbaru, muncul pula restoran premium dengan meminjam konsep warteg, ialah 'Salira' di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Harganya jauh lebih tinggi, dengan demografi visitor kelas menengah-atas.

Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan nilai dan nuansa premium.Foto: Kartini Bohang
Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan nilai dan nuansa premium.

Konten-konten mengenai restoran baru nan dibuka jaringan F&B Union Group ini mulai sering terlihat di FYP (for your page) media sosial. Beberapa konten melabelinya sebagai warteg 'fancy'.

Baca Bagian Pertama >> Viral Warteg 'Fancy' di Jaksel, Sekali Makan Bayar Rp 800.000.

Di saat bersamaan, warteg tradisional tengah menghadapi tekanan bertubi-tubi. Sekitar 25.000 warteg gulung tikar di wilayah Jabodetabek sejak pandemi Covid-19 hingga pertengahan 2025, menurut info Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara).

Kondisi ekonomi nan terimbas perang di Timur Tengah juga berakibat pada kelangsungan upaya warteg tradisional nan mengedepankan inklusivitas pangan bagi kaum pekerja dan kelas menengah-bawah.

Dilema Warteg Tradisional: Lonjakan Harga Plastik dan WFH ASN

Lonjakan nilai minyak turut menghantam produk-produk turunan nan menggunakan minyak sebagai bahan pembuatan produk, termasuk resin alias bijih plastik.

Ketua Koordinator Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, mengatakan nilai plastik bungkusan ukuran 15cm sudah naik dari Rp10.000 menjadi Rp14.000. Hal ini menjadi tantangan serius bagi ekosistem upaya warteg konvensional, karena model bisnisnya sangat berjuntai pada budaya balut (take-away).

"Warteg [konvensional] dikenal dengan nilai nan merakyat. Ketika biaya variabel seperti kantong plastik, mika, dan styrofoam naik, pemilik warteg berada pada posisi sulit," kata Mukroni kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/4/2026).

Di satu sisi, meningkatkan nilai makanan berisiko membikin pengguna warteg konvensional pindah ke pengganti lain. Namun, jika kudu menanggung biaya kenaikan plastik sendiri, untung nan sudah tipis bakal makin terpangkas.

Belum lagi kebijakan Work From Home (WFH) nan diterapkan pemerintah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat mulai 1 April 2026. Penerapan WFH bagi ASN lagi-lagi merupakan respons atas gejolak nilai daya dunia nan ditimbulkan perang di Timur Tengah.

Bagi warteg-warteg nan berlokasi di area perkantoran pemerintahan alias pusat kota, volume pengguna harian dan perputaran duit nan sigap menjadi tumpuan. ASN merupakan salah satu pangsa pasar utama warteg. Berkurangnya aktivitas instansi berpotensi mengilangkan waktu puncak penjualan bagi warteg.

"Kehilangan 'Prime Time', ialah jam makan siang, adalah sumber pendapatan terbesar [bagi warteg]. Jika instansi sunyi selama 3 hari dalam seminggu, potensi pendapatan harian bisa ambruk 50%-70%." dia menjelaskan.

Warteg Fancy di Mata Pedagang Warteg Tradisional

Terkait kemunculan warteg kekinian-fancy, Mukroni mengatakan untuk saat ini belum memberikan akibat serius bagi kelangsungan warteg tradisional. Pasalnya, warteg kekinian-fancy dan konvensional dinilai mempunyai segmen pelanggannya masing-masing.

"Misalnya, warteg fancy pelanggannya orang kantoran [kelas menengah-atas], sementara warteg tradisional lebih menyasar para sopir, ojol (ojek online), dan pedagang asongan," ujar Mukroni.

Beberapa warteg kekinian juga tergabung sebagai personil Kowantara. Mukroni mengatakan biasanya para pengusaha warteg kekinian meminta izin sebelum membangun warteg, sehingga tidak berdekatan dengan warteg tradisional.

"Sebenarnya untuk warteg [kekinian dan] fancy, Kowantara tidak keberatan selama posisinya tidak berdiri dekat dengan warteg konvensional nan sudah ada. Kalau tiba-tiba berdekatan dan jadi saingan, itu nan jadi masalah," Mukroni menjelaskan.

Berdasarkan info keanggotaan Kowantara di area Jakarta, kebanyakan warteg personil berada di Jakarta Selatan (199), kemudian Jakarta Timur (95), Jakarta Barat (54), Jakarta Utara (46), dan paling sedikit di Jakarta Pusat (17).

Warteg Fancy Tidak Bisa Gantikan Warteg Tradisional

Research Director di Center for Study Indonesian Food Anthropology, Repa Kustipia, menilai akibat warteg fancy terhadap eksistensi warteg tradisional dan waralaba warteg tidak begitu mengejutkan.

Pasalnya, kekuatan warteg dan warung-warung sederhana seperti warkop, warung nasi padang, dan warung sunda, terletak pada loyalitas pelanggan. Repa tak memungkiri ada pengaruh kejut berupa antusiasme saat warteg fancy ini baru dibuka.

"Biasalah itu dalam merebut pasar. Namun, konsistensi warteg biasa lebih takut sama warteg nan lebih sederhana, lebih murah, lebih banyak. Itu psikologis warteg sebenarnya," kata Repa kepada CNBC Indonesia.

Dalam monografi 'Fenomena Warteg' nan dirilis Repa, dia menuliskan "warteg tumbuh di ibu kota lantaran murah, bercita rasa rumahan, mudah dikelola, dan didukung jaringan sosial perantau Tegal, menjadikannya solusi makan bagi masyarakat urban berpenghasilan rendah".

Sejalan, Peneliti Budaya Popular, Hikmat Darmawan, mengatakan tidak mungkin warteg tradisional tergusur oleh kemunculan warteg fancy. Pasalnya, ekonomi kelas bawah selalu menjadi penyangga di saat krisis.

"Bukan lantaran [warteg tradisional] murah dan mudah diakses, tetapi krisis alias tidak krisis, ekonomi kelas bawah peredarannya sangat besar," dia menuturkan.

Hikmat mengatakan ekonomi kelas bawah selalu menjadi penyangga dan penyelamat saat situasi sedang tidak baik-baik saja. Contoh sederhananya ketika seseorang kena PHK, kemudian style hidupnya kudu menurun. "Orang tersebut tetap kudu makan, dan warteg tradisional menjadi penopang," kata Hikmat.

Pertanyaan berikutnya, apakah warteg fancy ini cukup solid untuk terus bertahan?

Repa mengatakan daya tahan warteg fancy kudu dilihat dari info kunjungan: apakah pengunjungnya berasal dari kalangan inklusif dan publik, alias semacam restoran viral pada umumnya. Jika condong ke opsi kedua, dia memprediksi kekuatan warteg fancy tak bakal lama.

"Maksimum jika tetap buka bisa 5 tahun lebih, tapi jika di 8 bulan pertama sudah menurun dan sepi, [artinya] ada persoalan sensitif, ialah harga, rasa, dan porsi," kata Repa.

Selain itu, Hikmat menekankan soal ada/tidaknya segmen pasar nan memang terbentuk lantaran kemunculan warteg fancy.

"Misalnya makanan-makanan rumahan nan ada di hotel, mungkin buat kita kurang nendang rasanya, tetapi itu menyesuaikan dengan lidah bule, sehingga memang ada pasarnya. Akhirnya, ini bakal membagun jalur budayanya sendiri," dia menuturkan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News