Moms, selama ini, banyak wanita mengenal PCOS (Polycystic Ovary Syandrome) sebagai gangguan nan identik dengan kista di ovarium. Tak sedikit pula nan langsung merasa resah soal kesuburan ketika mendapat pemeriksaan tersebut. Padahal, kondisi ini sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah reproduksi.
Nah, beberapa bulan terakhir ini, dalam bahasa medis, PCOS berubah nama menjadi PMOS. Menurut ahli, perubahan nama ini terjadi lantaran beragam alasan. Yuk cek di sini penjelasannya, Moms!
Alasan PCOS Berubah Jadi PMOS
Menurut penjelasan master ahli kebidanan dan kandungan, dr. Andrew Christian Yurius Sp.OG, perubahan istilah ini diperlukan agar konsentrasi penanganan pasien tidak lagi hanya tertuju pada ovarium.
“Selama ini penyebutan PCOS membikin banyak pasien mengira masalah utamanya adalah kista di indung telur. Padahal, penyakit ini melibatkan banyak jalur hormonal bukan hanya hormon reproduksi,” jelasnya pada kumparanMOM, Senin (18/5).
Melalui istilah PMOS, kondisi tersebut jadi dipahami sebagai gangguan sistemik nan melibatkan banyak jalur hormon dalam tubuh, mulai dari hormon reproduksi, insulin, hingga sistem adrenal dan neuroendokrin.
"Harapannya pada perubahan nama untuk pasien bahwa keluhan mereka adalah masalah hormonal sistemik bukan soal kesuburan dan penyakit kista, menstruasi dan susah hamil, namun bekerja-sama lintas disiplin untuk mengelola kesehatan," kata dr. Andrew.
Ada beberapa indikasi nan umum dialami wanita dengan PMOS, seperti menstruasi tidak teratur, kenaikan berat badan, jerawat berat, tumbuh rambut berlebih (hirsutism), hingga gangguan kecemasan. Umumnya wanita nan mempunyai PMOS juga berpikir bakal susah mengandung ketika sudah berkeluarga.
PMOS pada Wanita Masih Bisa Hamil alias Tidak?
Kabar baiknya, wanita dengan PMOS tetap mempunyai kesempatan untuk hamil, baik secara alami maupun dengan support terapi medis.
“Wanita dengan PMOS tetap bisa mengandung alami. Namun, perbaikan kondisi metabolik dan hormonal tentu bakal meningkatkan kesempatan kehamilan,” ujar dr. Andrew.
Karena itu, pasien biasanya dianjurkan mulai memperbaiki pola hidup, seperti rutin olahraga kombinasi kardio dan latihan beban, menjaga pola makan sehat, serta mengurangi konsumsi karbohidrat olahan. Jika diperlukan, master juga dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium dan terapi medis lanjutan.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·