Pengumuman open recruitment organisasi itu sudah Anda screenshot minggu lalu. Kamu qualified, tertarik, tapi formulirnya belum dibuka sampai hari ini dan rupanya deadline tinggal dua hari. Bukan lantaran lupa, Anda tahu persis di mana file-nya tersimpan.
Kalau Anda pernah di titik itu, Anda tidak sendirian dan Anda juga bukan seorang nan pemalas. nan terjadi jauh lebih kompleks dari itu, dan semuanya berangkaian dengan sesuatu nan berada di area nyaman.
Zona nyaman merupakan kondisi di mana seseorang merasa aman, tenang, dan tidak stres lantaran nan dia lakukan hanya aktivitas nan sudah dipahami dan dikuasai. Hal tersebut menunjukkan bahwa area nyaman tidak selalu dapat diartikan sebagai sesuatu nan buruk. Berada di posisi ini membikin orang merasa hidupnya lebih stabil dan minim ancaman. Namun, terlalu lama berada di sini tentu dapat membatasi ruang seseorang untuk berkembang dan mencoba perihal nan baru.
Masalahnya, manusia mempunyai kebutuhan nan sering kali saling bertentangan, ialah kebutuhan bakal rasa kondusif dan kebutuhan untuk berkembang. Seseorang mungkin mau mencoba perihal baru alias meraih kesempatan nan lebih baik, tetapi pada saat nan sama juga merasa takut menghadapi perubahan dan ketidakpastian. Satu bunyi mengatakan “Ini kesempatanmu.” Suara lain bilang, “Bagaimana jika rupanya Anda tidak cukup baik?”. Fenomena ini dikenal sebagai approach-avoidance conflict, ketika seseorang dihadapkan pada pilihan nan di satu sisi menarik, tapi di sisi lain menakutkan.
Penghindaran terhadap ketidaknyamanan muncul dari beragam aspek psikologis. nan paling umum adalah ketakutan bakal kegagalan dan penilaian sosial. Menariknya, nan sering ditakuti bukan kegagalannya sendiri, melainkan makna bahwa kegagalan bakal membuktikan diri tidak cukup bisa alias tidak cukup layak. Ditambah gambaran bakal komentar negatif dari orang lain, tidak mencoba sama sekali akhirnya terasa jauh lebih aman. Faktor lainnya adalah status quo bias, ialah kecenderungan mempertahankan keadaan nan sudah ada meskipun perubahan berpotensi membawa kondisi lebih baik. Perubahan selalu terasa seperti akibat kehilangan sesuatu, sehingga memperkuat terasa lebih masuk akal. Apalagi jika pernah mempunyai pengalaman jelek sebelumnya, otak bakal menyimpannya sebagai peringatan dan membikin penghindaran muncul secara otomatis tanpa disadari.
Di kembali semua itu, ada satu prinsip dasar nan menghubungkan faktor-faktor tersbeut. Otak manusia selalu mencari langkah paling kondusif dan paling irit energi. Situasi nan sudah biasa dijalani, meski tidak ideal, terasa lebih mudah diprediksi. Inilah nan juga menjelaskan kenapa overthinking dan penundaan begitu susah dihentikan. Psikolog Fuschia Sirois menemukan bahwa prokrastinasi bukan soal manajemen waktu, melainkan soal izin emosi, ialah prioritas jangka pendek untuk merasa kondusif nan tanpa disadari mengorbankan tujuan jangka panjang.
Tidak semua corak penghindaran terlihat jelas. Terkadang seseorang tampak sibuk dan produktif, padahal sedang menghindari langkah nan paling penting. Kondisi ini sering disebut productive procrastination. ketika seseorang terus mempersiapkan, mencari informasi, dan menyusun rencana tanpa pernah betul-betul memulai. Mahasiswa nan mau mengerjakan skripsi misalnya, justru sibuk mencari aplikasi menulis terbaik alias merapikan template arsip berjam-jam tanpa menulis satu kalimat pun. Sekilas terlihat produktif, padahal nan terjadi adalah penghindaran nan dibungkus kesibukan. nan membikin ini semakin licik, otak juga sering menggunakan rasionalisasi untuk membenarkan semuanya. Kalimat seperti "aku belum siap" alias "nanti saja jika kondisinya lebih baik" terdengar logis, padahal di baliknya ada ketakutan menghadapi ketidakpastian. Penghindaran tidak selalu muncul dalam corak menyerah, dia justru sering datang dalam corak persiapan nan tidak pernah selesai.
Bagi banyak orang, perubahan bukan hanya tentang mempelajari keahlian baru, tetapi juga menyangkut langkah seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika seseorang mencoba keluar dari area nyaman, nan dipertaruhkan sering kali bukan sekadar hasil, melainkan identitas dirinya. Seseorang nan selama ini dikenal sebagai "anak pendiam" mungkin mau mulai aktif berbincang di depan umum, alias mahasiswa nan terbiasa mendapat nilai biasa saja mulai mencoba mengejar prestasi akademik. Perubahan seperti ini terasa menakutkan lantaran secara tidak langsung menantang narasi nan selama ini melekat pada diri mereka. Pada akhirnya, halangan terbesar seseorang untuk berkembang sering kali bukan terletak pada keahlian nan dimilikinya. Melainkan pada cerita nan terus dia percayai tentang dirinya sendiri, cerita bahwa dirinya tidak cukup mampu, tidak layak mencoba, alias apalagi tidak bakal sukses jika keluar dari area nan selama ini terasa aman.
Keluar dari area nyaman sering kali terdengar sederhana dalam teori, tetapi jauh lebih rumit ketika betul-betul dijalani. Banyak orang mengatakan bahwa kita hanya perlu “melawan rasa takut”, padahal kenyataannya rasa takut tidak selalu bisa lenyap begitu saja. Ketakutan adalah bagian alami dari manusia ketika menghadapi sesuatu nan belum pasti. Karena itu, berkembang tidak selalu berfaedah kudu melakukan perubahan besar secara drastis alias memaksa diri menjadi pribadi nan betul-betul berbeda dalam semalam. Karena pada kenyataannya, pertumbuhan sering kali terjadi di pinggiran area nyaman, bukan melalui perubahan ekstrem nan justru menimbulkan tekanan berlebihan. Oleh lantaran itu, langkah mini nan dilakukan secara konsisten condong lebih efektif dibandingkan perubahan besar nan hanya berjalan sementara. Memulai sesuatu nan sederhana, meskipun belum sempurna, dapat menjadi awal dari proses perubahan nan lebih bermakna.
Mungkin, inti dari keluar dari area nyaman bukan tentang menjadi seseorang nan tidak pernah takut, melainkan tentang belajar bahwa rasa takut tidak selalu kudu menghentikan langkah kita. Karena pada akhirnya, pemisah terbesar manusia sering kali bukan terletak pada bumi di luar dirinya, tetapi pada seberapa jauh dia percaya bahwa dirinya bisa bertumbuh melampaui cerita lama nan selama ini dia yakini.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·