Kepadatan permukaan Materi Gelap Dingin dalam irisan kosmos setebal 20 megaparsec. Satu megaparsec (Mpc) sama dengan satu juta parsec, dan satu parsec sama dengan sekitar 3 tahun cahaya.(Schaye dkk. 2023)
PARA astronom mengungkap salah satu kumpulan info simulasi kosmologi terbesar nan pernah dibuat, membuka kesempatan baru untuk mempelajari gimana alam semesta berevolusi selama miliaran tahun.
Dataset tersebut dikembangkan melalui proyek FLAMINGO, singkatan dari Full-hydro Large-scale structure simulations with All-sky Mapping. Total info nan dihasilkan mencapai lebih dari 2,5 petabyte setara dengan sekitar 500 ribu movie HD. Skala besar ini mencerminkan kebutuhan astronomi modern untuk menyesuaikan pengamatan langit nan semakin presisi dengan model teoretis nan sama canggihnya, menurut pernyataan dari Netherlands Research School for Astronomy (NOVA).
Teleskop dan survei langit generasi terbaru sekarang bisa menangkap alam semesta dengan perincian luar biasa. Namun, memahami info tersebut memerlukan simulasi nan bisa mereproduksi struktur besar kosmos sekaligus fisika kompleks nan terjadi di dalam galaksi. FLAMINGO dirancang untuk menjembatani kebutuhan itu.
“Simulasi ini memungkinkan kita mengikuti pertumbuhan struktur kosmik di wilayah ruang angkasa nan sangat luas, sembari tetap memodelkan fisika kompleks pembentukan galaksi,” ujar Joop Schaye, salah satu penulis studi dari Universitas Leiden, Belanda.
“Dengan mempublikasikan info ini, kami berambisi para peneliti di seluruh bumi dapat menggunakan FLAMINGO untuk menguji beragam buahpikiran baru tentang langkah kerja alam semesta,” lanjutnya.
FLAMINGO bekerja layaknya “alam semesta virtual” nan dimulai sesaat setelah Big Bang dan berkembang seiring waktu. Simulasi ini melacak gimana perubahan mini materi perlahan tumbuh menjadi galaksi, gugusan galaksi, hingga jaringan kosmik raksasa nan membentuk struktur alam semesta saat ini.
Yang membedakan FLAMINGO dari banyak simulasi sebelumnya adalah kemampuannya memodelkan materi gelap, materi biasa, dan pengaruh daya gelap secara berbarengan dalam satu kerangka kerja nan konsisten.
Pendekatan tersebut memungkinkan intelektual mempelajari hubungan proses-proses kosmik dalam beragam skala. Simulasi nan sama dapat menggambarkan turbulensi gas pembentuk bintang di dalam galaksi sekaligus memetakan pengedaran gugusan galaksi hingga miliaran tahun cahaya. Hal ini membantu para peneliti mereproduksi alam semesta nan dapat diamati dengan tingkat kecermatan lebih tinggi.
Ukuran dataset nan sangat besar juga membikin FLAMINGO efektif untuk mempelajari kejadian langka di alam semesta. Gugusan galaksi masif, quasar bercahaya, hingga objek kosmik langka lainnya sering kali susah ditangkap dalam simulasi mini lantaran kemunculannya nan sangat jarang.
Dengan skala FLAMINGO, kesempatan menemukan fenomena-fenomena tersebut menjadi lebih besar, sehingga para intelektual dapat memahami lingkungan paling ekstrem di alam semesta dengan lebih baik.
Selain mendukung penemuan baru, proyek ini juga diharapkan membantu astronom menafsirkan info dari observatorium generasi berikutnya. Ketika survei langit semakin detail, para peneliti memerlukan kerangka teori nan kuat untuk dibandingkan dengan hasil pengamatan.
Simulasi seperti FLAMINGO memungkinkan intelektual menguji beragam model tentang materi gelap, daya gelap, dan pembentukan galaksi secara lebih mendalam.
Tim peneliti juga telah membuka akses dataset ini untuk publik agar dapat digunakan peneliti di seluruh dunia. Langkah tersebut dinilai krusial lantaran astronomi modern sekarang semakin berjuntai pada kerjasama dunia dan sumber daya komputasi bersama.
“Akses terbuka terhadap kumpulan info sebesar ini dapat mempercepat kemajuan ilmiah secara signifikan,” kata Matthieu Schaller, salah satu penulis studi dari Universitas Leiden.
“Kami mau menyediakan sumber daya nan dapat mendukung beragam penelitian astrofisika,” tambahnya.
Secara keseluruhan, FLAMINGO menandai perubahan besar dalam langkah intelektual mempelajari kosmos. Kini, para peneliti tidak hanya mengandalkan pengamatan langsung, tetapi juga dapat melakukan penelitian di dalam “alam semesta virtual” nan sangat perincian mengubah dugaan fisika, menguji prediksi, hingga menemukan pola-pola baru nan sebelumnya tersembunyi.
Rilis info simulasi FLAMINGO telah dikirimkan ke jurnal Astronomy & Computing pada 28 April 2026 dan juga tersedia melalui server pracetak arXiv. (Space/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·