PAPDI menyelenggarakan training BHD di Jakarta nan secara unik melibatkan penyandang disabilitas tuna rungu dari organisasi SEHATARA.(MI/HO)
KEMAMPUAN memberikan pertolongan pertama saat terjadi henti jantung mendadak sekarang bukan lagi menjadi keahlian eksklusif milik tenaga kesehatan. Melalui inisiatif training Bantuan Hidup Dasar (BHD), masyarakat umum didorong untuk menjadi penolong pertama nan bisa menyelamatkan nyawa pada menit-menit krusial alias golden period.
Semangat inklusivitas ini diwujudkan oleh Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED) di bawah Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PP PAPDI). Pada Sabtu (25/7/2026), PAPDI menyelenggarakan training BHD di Jakarta nan secara unik melibatkan penyandang disabilitas tuna rungu dari organisasi SEHATARA.
Pentingnya Golden Period dalam Henti Jantung
Henti jantung mendadak dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal lokasi. Dalam kondisi ini, setiap detik sangat berharga. Keterlambatan penanganan tidak hanya menurunkan kesempatan hidup secara drastis, tetapi juga berisiko menyebabkan kerusakan otak permanen dalam hitungan menit jika aliran darah tidak segera dipulihkan.
Wakil Ketua II PP PAPDI, dr. Muhadi, Sp.PD, K-Kv, FINASIM, M.Epid, menekankan bahwa masyarakat sekitar adalah kunci utama dalam sistem penanganan kegawatdaruratan nasional.
"Orang pertama di letak sering kali adalah family alias rekan kerja. Semakin banyak masyarakat terampil BHD, semakin besar kesempatan korban selamat," ujarnya.
Materi Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD):
- Pengenalan tanda-tanda kegawatdaruratan medis.
- Aktivasi sistem jasa darurat (Call Center).
- Teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) berkualitas.
- Penggunaan Automated External Defibrillator (AED).
- Pertolongan pertama pada korban tersedak (choking).
Mendorong Inklusivitas bagi Teman Tuli
Ketua Badan Khusus EIMED PAPDI, Dr. dr. Arif Mansjoer, Sp.PD, K-Kv, KIC, FINASIM, M.Epid, menjelaskan bahwa keahlian menyelamatkan nyawa tidak boleh dibatasi oleh kondisi fisik. Oleh lantaran itu, PAPDI menyediakan ahli bahasa isyarat dan materi visual untuk memastikan teman-teman Tuli mendapatkan akses info nan setara.
Selain training fisik, PAPDI juga tengah menjajaki pengembangan sistem pelaporan darurat 119 nan lebih ramah disabilitas, seperti jasa berbasis teks (SMS alias aplikasi pesan instan). Hal ini didukung oleh dr. Anastasia Asylia Dinakrisma, Sp.PD, K-Ger, FINASIM, nan berambisi sistem jasa darurat nasional semakin adaptif terhadap kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.
Founder SEHATARA, drg. Marceline Olivia, M.Kes, mengapresiasi langkah ini sebagai corak kemandirian bagi organisasi Tuli. "Inklusivitas berfaedah memastikan setiap peserta betul-betul memahami materi dan percaya diri menerapkannya saat dibutuhkan," tuturnya.
Rekam Jejak Edukasi EIMED PAPDI
Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program berkepanjangan PAPDI dalam memperluas literasi kegawatdaruratan di Indonesia. Berikut adalah catatan aktivitas training BHD nan telah dilaksanakan:
| 28 Juni 2026 | Site Team SPBU Shell | Jabodetabek |
| 25 Juli 2026 | Masyarakat Umum & Komunitas SEHATARA (Tuli) | Jakarta |
Melalui peran aktif master ahli penyakit dalam nan tersebar di seluruh Indonesia, EIMED PAPDI berkomitmen untuk terus menekan nomor kematian akibat keterlambatan pertolongan medis melalui edukasi nan konsisten dan inklusif. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·