Pameran Seni ‘Art with Heart 2026’ Digelar, Ruang Bagi Seniman Difabel Menuju Kemandirian

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Pameran Seni ‘Art with Heart 2026’ Digelar, Ruang Bagi Seniman Difabel Menuju Kemandirian Ilustrasi(Dok Istimewa)

PEMANDANGAN berbeda terlihat di atrium sebuah mall di Jakarta, ruang nan terasa lapang dan terbuka itu berubah menjadi ruang pamer nan penuh nuansa artistik. Deretan partisi setinggi sekitar 3 meter berdiri berderet membentuk lorong-lorong mini seolah menyulap ruang komersial itu menjadi galeri seni sementara.

Sebuah lukisan di salah satu lorong tampil menarik perhatian, di atas kanvas tampak enam sosok berbusana pemuka kepercayaan nan duduk berdampingan, namun kepala mereka digantikan oleh bingkai-bingkai berisi ilustrasi sebuah rumah ibadah memberi kesan hangat sekaligus sakral. Tangan mereka saling bertaut, menciptakan simbol persatuan dan keterhubungan antarbudaya.

Itu adalah satu dari sekitar 70 karya seni lukis nan tampil dalam pameran Art with Heart nan berjalan pada 21 – 24 Mei, di Gandaria City, Jakarta. Beda dari kebanyakan pameran seni, karya-karya nan terpajang merupakan milik 20 perupa berkebutuhan unik dan 18 perupa senior tanah air. Deretan nama seperti Ampun Sutrisno, Hestu Wahyuni, Budi Ubrux, hingga Suzanne turut berpartisipasi.

“Jadi Art with Heart  kali ini merupakan tahun ketiga, kami Panasonic Gobel maupun Gobel Group menghadirkan pameran nan mengkombinasi antara karya-karya temen-temen seniman difabel dan juga teman-temen seniman senior gitu. Pada tahun ketiga ini kami mempunyai misi di mana kami mau temen-temen seniman difabel ini mereka bisa berkembang secara berdikari dan profesional,” kata Direktur Panasonic, Muhammad Arif Rachmat Gobel, di Jakarta pada Kamis (21/5).

Arif menjelaskan, bagi visitor nan berkeinginan membeli karya seni dari para seniman difabel ini bisa langsung menghubungi tim terkait. Jadi langkah membuka kesempatan pendapatan bagi seniman sekaligus meningkatkan apresiasi publik terhadap fine art di Indonesia, dengan sebagian hasil penjualan bakal didedikasikan untuk mendukung kemandirian seniman difabel melalui yayasan nan terlibat.

Ruang Apresiasi

Setiap goresan di Art with Heart adalah sebuah pembuktian. Seni tidak mengenal pemisah bentuk maupun mental. Melalui pameran ini, masyarakat luas diajak untuk tidak hanya memandang disabilitas sebagai hambatan, tetapi sebagai langkah pandang unik dalam memandang dunia.

Lebih dari sekadar pameran, Art with Heart menjadi ruang tumbuh bagi seniman difabel untuk membangun kepercayaan diri, mengasah kemandirian, serta memperluas peran mereka di tengah masyarakat. Setiap karya nan dihasilkan mencerminkan gimana seni dapat menjadi sarana pemberdayaan nan melampaui beragam keterbatasan.

“Seni menjadi jembatan menuju kemandirian. Kami mau menciptakan kesempatan nyata agar seniman difabel dapat berkembang secara mandiri, termasuk melalui kerjasama dan akses pasar,” Jelas Arif.

Adapun pameran ini mengambil tajuk Kami, ini dipilih lantaran ‘Kami’ mempunyai makna nan selaras dalam bahasa Indonesia maupun Jepang. Dalam bahasa Indonesia, kami merujuk pada lebih dari satu orang, nan mencerminkan kebersamaan alias kolektivitas. 

Sementara dalam pemahaman kepercayaan Shinto di Jepang, kami dimaknai sebagai spirit alias jiwa nan berangkaian erat dengan alam, nan diyakini bergerak untuk mengingatkan sekaligus melindungi makhluk hidup di dalamnya. Melalui pameran ini, ‘Kami’ dimaknai sebagai simbol mobilitas berbareng untuk saling menjaga, berkembang, dan bertumbuh. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia