Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc(Dok UGM)
FENOMENA enam gunung berapi nan meletus dalam waktu nyaris bersamaan, Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung tersebut tergolong tidak biasa lantaran kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Aktivitas erupsi pada enam gunung api tersebut tidak menunjukkan semuanya berada dalam satu sistem vulkanik nan sama. Hal itu disampaikan pengajar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc di kampus setempat, Selasa. Ia menjelaskan bahwa setiap gunung api mempunyai karakter dan siklus aktivitasnya masing-masing. Kesamaan waktu erupsi, ujarnya lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas nan berbeda.
Ada gunung api nan memang mempunyai gelombang erupsi tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lainnya mempunyai periode rehat nan lebih panjang sebelum kembali aktif. Ketika siklus-siklus tersebut beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan.
“Menurut saya ini lebih ke masalah timing”, ujarnya.
Menurut dia, kesamaan jalur subduksi di Indonesia juga tidak kemudian secara otomatis menunjukan adanya hubungan langsung antar sistem magma. Dikatakan setiap gunung mempunyai sistem magma nan bekerja secara lokal sehingga erupsi di satu gunung tidak serta merta menjadi pemicu bagi gunung lainnya.
Ditegaskan kemungkinan keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung-gunung nan lokasinya berdekatan, tetapi kondisi tersebut berbeda dengan enam gunung nan saat ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.
"Saat ini gunung-gunung nan mengalami erupsi berada pada posisi nan sangat jauh antar nan satu dengan nan lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” jelas Indranova.
Perbedaan sistem tersebut kemudian tercermin pada sistem erupsi masing-masing gunung. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, Indranova menjelaskan adanya sistem ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air nan tersimpan di tubuh gunung, sehingga tekanan dapat meningkat dan memicu erupsi freatik tanpa selalu disertai tanda kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik nan jelas. Mekanisme semacam ini berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau nan berangkaian dengan magma dengan kandungan gas tinggi.
“Layaknya minuman bersoda, erupsi magmatik berkarakter eksplosif disebabkan lantaran adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi nan intens,” katanya.
Jika sebagian aktivitas tersebut berjalan melalui proses internal masing-masing gunung, aspek dari luar sistem gunung api dapat berkedudukan pada kondisi tertentu.
Salah satu contoh nan disampaikan Indranova adalah peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik pada Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok setelah gempa di Flores, nan kemudian diikuti aktivitas erupsi. Ia mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas nan terlarut dalam magma, tetapi menegaskan bahwa sistem tersebut belum dapat dipastikan bertindak pada seluruh gunung api.
“Bukti bahwa indikasi aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores, mirip seperti pada kasus erupsi Gunung Ruang tahun 2024 nan dibangunkan oleh gempa berkekuatan 6.5 M di sekitar Halmahera,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah memang sedang berlangsung, tetapi masyarakat perlu melihatnya berasas kondisi setiap gunung. Tingkat status gunung api menjadi salah satu parameter krusial untuk memahami tingkat kewaspadaan, sementara karakter erupsi menentukan jenis ancaman nan perlu diantisipasi.
Pada Semeru, misalnya, awan panas dapat bergerak mengikuti lereng dengan suhu dan kecepatan tinggi, sedangkan gunung seperti Sinabung, Ibu, dan Anak Krakatau dapat menghasilkan material jatuhan nan penyebarannya dipengaruhi angin.
"Setiap gunung itu punya karakter erupsi masing-masing,” tutur Indranova.
Perbedaan karakter tersebut membikin akibat erupsi tidak berakhir pada area di sekitar kawah. Abu vulkanik nan terbawa angin dapat mencapai wilayah nan lebih jauh dan mengganggu kualitas udara serta kesehatan, sementara gangguan terhadap penerbangan dapat merembet pada sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun berasas pemahaman mengenai jenis ancaman nan mungkin muncul di wilayahnya, bukan semata-mata berasas info bahwa sebuah gunung sedang erupsi.
“Kita kudu sangat intens mengedukasi masyarakat untuk menunjukkan bahwa ada ancaman nan jenisnya berbeda, ada nan jatuhan, ada nan aliran, agar masyarakat lebih aware dan tidak panik,” katanya.
Untuk mendukung kesiapsiagaan tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan MAGMA Indonesia, platform info nan menyediakan info aktivitas gunung api, termasuk status gunung dan peta area rawan bencana. Melalui info tersebut, masyarakat dapat mengetahui perkembangan status gunung sekaligus memandang zonasi area rawan musibah sebagai dasar untuk menentukan tindakan ketika aktivitas meningkat.
Penyediaan info perlu melangkah berbareng dengan edukasi dan koordinasi antara pemerintah, akademisi, serta masyarakat agar pengetahuan kebencanaan dapat diterjemahkan menjadi tindakan nan tepat.
“Kalau kita memang mau menciptakan mitigasi nan baik, kita kudu bisa mengombinasikan semua komponen itu antara pemerintah, kemudian akademisi, dan juga masyarakat,” ujarnya. (AU/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·