Pakar IPB Peringatkan Karhutla 2026 Berpotensi Meluas hingga 2027

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Pakar IPB Peringatkan Karhutla 2026 Berpotensi Meluas hingga 2027 Ilustrasi(ANTARA)

ANCAMAN kebakaran rimba dan lahan pada 2026 dinilai jauh lebih serius dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pakar karhutla IPB University Bambang Hero Saharjo memperingatkan pola kebakaran tahun ini berpotensi menyerupai tragedi 1997 hingga 1998 nan menghanguskan 10 hingga 11 juta hektare lahan, apalagi berkesempatan bersambung hingga 2027.

"Patut diduga kebakaran nan bakal terjadi pada tahun 2026 adalah mirip dengan kejadian kebakaran tahun 1997/1998. Kebakaran nan dimulai tahun 1997 kemudian bersambung hingga tahun 1998. Hal ini pula nan dikhawatirkan bakal terjadi, di mana kebakaran bakal dimulai pertengahan tahun 2026 dan kemudian bersambung hingga tahun 2027," ujar Bambang,  Kamis (21/5). 

Kekhawatiran itu didasarkan pada sinyal Super El Nino 2026 nan ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis setidaknya 2 derajat Celsius di atas rata-rata. 

El Nino terkuat nan pernah terjadi dalam sejarah modern adalah pada 1997 hingga 1998 dengan suhu di wilayah Nino 3.4 mencapai 2,7 derajat Celsius di atas rata-rata, dan pada 2015 hingga 2016 dengan kenaikan sekitar 2 derajat Celsius.

Bambang mengingatkan bahwa karhutla 2026 sebenarnya sudah mulai terjadi sejak dua bulan sebelumnya, namun kerap diabaikan hingga api dan asap sudah meluas.

"Kita kadang sering abai dan tidak terlalu ambil pusing dengan potensi kebakaran seperti nan diprediksikan sebelumnya, dan baru tersadar ketika kebakaran dan asap sudah berkibar di mana-mana, sementara sarana prasarana sudah mulai usang lantaran sering digunakan namun pemeliharaan dan penyediaan peralatan baru terkendala oleh biaya akibat efisiensi anggaran," tegasnya.

Mengacu pada penelitian Aoyun Xue dkk nan dimuat dalam jurnal Nature Communications 2025, Bambang menekankan bahwa peringatan awal dan langkah proaktif sangat krusial untuk menekan akibat nan terus meningkat. 

Wilayah prioritas nan kudu segera disiapkan mencakup Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan sejumlah provinsi lain nan bakal memasuki musim kemarau dalam waktu dekat.

Ia mengimbau masyarakat memantau info dari BMKG dan kementerian mengenai melalui ponsel, serta menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan jika produksi asap meningkat.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia