Pahami Ketika Mobil Listrik Alami Anomali, Pemula Bisa Lakukan Ini

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Test drive mobil listrik Aion V Yogyakarta-Jakarta. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Mobil listrik secara arsitektur teknologi jauh lebih sederhana dibanding kendaraan mesin konvensional alias internal combustion engine (ICE). Namun itu tidak selamanya berbanding lurus dengan mitigasi ketika situasi darurat.

Itu lantaran kendaraan listrik modern tetap terbilang baru di masyarakat, sehingga pengetahuan penanganan pada kondisi darurat tentunya belum matang seperti ICE. Selain itu, BEV umumnya sangat mengandalkan sistem komputer berbasis software.

Contoh kasus sederhana adalah mogok. Karena argumen keselamatan, tak sedikit produsen menyiapkan sistem keamanan unik dan cukup banyak perihal nan tidak bisa dilakukan pada mobil listrik, selayaknya nan biasa dilakukan pada kendaraan ICE.

Misalnya perihal sepele untuk melakukan prosedur derek. Dalam laman resmi Kia Global, mekanismenya tidak bisa dilakukan sembarangan. Lantaran kudu mengetahui posisi motor listrik penggeraknya, nan kemudian baru bisa menentukan bagian roda nan menyentuh jalan.

Fitur Electronic Parking Brake (EPB) Trailer Mode. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

"Cara paling tepat untuk mengangkut kendaraan listrik Anda adalah dengan menempatkan (roda) seluruhnya di truk dengan dek rata. Jika tidak tersedia, Anda dapat menggunakan perangkat pengangkat roda depan alias belakang," urai Kia.

Masih ada syarat lainnya, jika mau memindahkan kendaraan saat posisi tak bersuara lantaran mogok, maka Anda hanya dapat menggerakannya dalam jarak pendek hingga 10 meter dengan kecepatan 5 km/jam pada posisi tuas netral (N) dan rem parkir dilepas.

Setidaknya itu bertindak untuk semua kendaraan listrik lansiran Kia dan mungkin juga bertindak pada BEV merek lainnya. Bagaimana ketika mobil listrik mogok diakibatkan sistem error? Umumnya mobil elektrik bakal terkunci di tempat dalam keadaan parking mode.

Pendiri EV Safe sekaligus pengajar di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar mengatakan karakter sistem pada mobil listrik bakal otomatis dikunci agar kendaraan tidak dapat bergerak bebas, mencegah tabrakan alias manuver liar.

Tombol bentuk di dashboard mobil listrik Hyundai Kona EV. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

"Memang nyaris semua BEV seperti ini lantaran electronic shifter. Jadi tidak ada shift lock untuk melepasnya secara manual, jika tidak ada daya (listrik dari aki) itu tidak bisa pindah ke N," kata Gofar kepada kumparan, Kamis (30/4).

Ia menambahkan, penyebab umum BEV dapat mengalami mogok biasanya ada dua ialah masalah pada baterai 12V alias ramai orang menyebutnya aki dan kesalahan pada sistem perangkat lunak namalain software bug.

"Penyebab mogok di tengah jalan itu sudah ada banyak studinya. Biasanya dari lembaga penanganan breakdown seperti ADAC di Jerman. Hampir separuh kasus mogok disebabkan oleh aki 12V yg soak alias rusak," papar Gofar.

Mobil listrik memang minim perawatan, tapi bukan berfaedah luput dari pemeriksaan berkala. Mengamati kesehatan baterai mini alias aki secara rutin dapat memperkecil akibat komponen tersebut bermasalah sewaktu-waktu ketika kendaraan sedang digunakan.

Kemudian prosedur lain nan membikin BEV sedikit berbeda dibanding kendaraan ICE adalah menjadikannya di posisi netral alias tidak terkunci. Mobil listrik modern umumnya tak lagi dilengkapi rem parkir mekanis, semuanya sudah serba elektronik.

"Berusaha masuk ke N agar bisa didorong, pengemudi kudu tetap di dalam mobil untuk aktifkan mode derek (towing mode) nan biasanya digunakan untuk parkir paralel," jelas Gofar sembari menekankan pemilik untuk mempelajari fitur pada mobil listriknya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan