Orkestra Nusantara, Gregah Nusa Gaungkan Kebangkitan Budaya

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Orkestra Nusantara, Gregah Nusa Gaungkan Kebangkitan Budaya Ilustrasi(Dok Istimewa)

KERATON Ngayogyakarta Hadiningrat membawa konser Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) ke Jakarta sebagai seruan kebangkitan budaya dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional. Tajuk “Gregah Nusa” dipilih sebagai simbol rayuan bangkitnya kesadaran kolektif bangsa melalui musik.

Konser ini bakal digelar pada Sabtu (16/5) di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat mulai pukul 17.00 WIB. Yogyakarta Royal Orchestra bakal menampilkan keberagaman musikal Nusantara dalam bebatan orkestra modern dan instrumen tradisi.

Ketua Panitia, GKR Bendara menjelaskan bahwa “Gregah Nusa” bukan sekadar tema artistik. Istilah tersebut merepresentasikan semangat bangkit, bergerak dan terjaga untuk kembali meneguhkan identitas bangsa.

“Gregah dalam bahasa Jawa berfaedah bangkit dan Nusa merujuk pada tanah air sehingga konser ini menjadi seruan tindakan untuk membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas bangsa,” kata GKR Bendara. 

Ia menegaskan bahwa konser ini menjadi medium pelestarian budaya nan relevan dengan konteks modern. 

Musik dipilih sebagai bahasa universal untuk menggugah rasa kepemilikan terhadap keberagaman Indonesia. “Melalui musik, kami mau memantik semangat pemulihan dan kemajuan bangsa ditengah tantangan global,” katanya.

GKR Bendara juga menjelaskan argumen pemilihan Jakarta sebagai letak konser YRO. Menurutnya, ibu kota menjadi ruang strategis untuk menjangkau audiens nan lebih luas dan beragam.

“Jakarta adalah pusat pertemuan beragam latar belakang sehingga nilai-nilai budaya Jawa dapat diakses secara lebih inklusif oleh masyarakat nasional,” ujarnya. Ia menekankan bahwa langkah ini bukan berfaedah meninggalkan Yogyakarta sebagai 
akar budaya. 

Justru, Keraton mau membawa nilai-nilai luhur tersebut ke panggung nan lebih luas. “Ini adalah corak kontribusi aktif Keraton dalam merajut keberagaman nasional,” katanya. Dalam konsep pertunjukan, YRO menggabungkan orkestra Barat dengan instrumen tradisi Nusantara. 

Pendekatan nan digunakan bukan sekadar tempelan, melainkan penyelarasan sistem musikal nan berbeda. “Penggabungan ini melibatkan konversi titi laras antara instrumen diatonis dan pentatonis, sehingga tercipta harmoni nan utuh,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsep tersebut membuka ruang eksplorasi baru bagi musik tradisi. Hal ini sekaligus meningkatkan apresiasi publik terhadap perangkat musik lokal dalam skala pagelaran besar.

“Ini membuktikan bahwa pemisah musikal dapat dilebur dan menghasilkan identitas baru nan unik Indonesia,” katanya. GKR Bendara menilai Yogyakarta Royal Orchestra juga berkedudukan sebagai pemasok diplomasi budaya.

Orkestra ini tidak hanya melestarikan, tetapi juga memperkenalkan budaya Jawa ke tingkat global. “YRO menjadi wajah modern tradisi Yogyakarta nan dapat diterima oleh publik internasional melalui format orkestra,” ujarnya.

Sementara itu, Project Manager konser, Bagus Pradipta menyebut tajuk “Gregah Nusa” sebagai metafora kebangkitan nasionalisme Indonesia. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan momentum sejarah berdirinya Boedi Oetomo.

“Gregah Nusa berarti bangkitnya bangsa dari keterpurukan, nan menjadi simbol awal pergerakan modern melawan kolonialisme,” ujarnya. 

Keraton berambisi konser ini memberi akibat nyata terutama bagi generasi muda. Tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan dan dorongan untuk melestarikannya.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑