Obesitas bukan Masalah Berat Badan, melainkan Penyakit Kronis

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Obesitas bukan Masalah Berat Badan, melainkan Penyakit Kronis Ilustrasi obesitas(Magnific)

KETUA Himpunan Studi Obesitas Indonesia (Hisobi), Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa obesitas kudu dipandang sebagai penyakit kronis, bukan semata persoalan penampilan alias corak tubuh. Kondisi tersebut dapat meningkatkan akibat beragam penyakit serius, mulai dari penyakit jantung hingga kanker.

"Obesitas bukan lagi soal berat badan nan mempengaruhi corak badan (body shaping) nan bikin kita malu, enggak gitu, tapi obesitas adalah penyakit lantaran dengan obesitas kita bisa kena penyakit jantung apalagi akibat kanker," kata Prof. Dante, dikutip Minggu (5/7).

Menurut Dante, aspek genetik mempunyai peran krusial dalam perkembangan obesitas. Ia merujuk pada Human Genome Project nan menunjukkan bahwa terdapat pola gen tertentu nan membikin sebagian orang lebih rentan mengalami kenaikan berat badan.

"Jadi ada orang nan punya pendapat ‘ah saya minum air saja sudah gemuk’, ‘padahal saya sudah jaga-jaga makan tetap saja saya gemuk’. Nah, itu orang-orang nan menyandang gen obesitas," ujarnya.

Meski dipengaruhi aspek genetik, Dante menekankan bahwa obesitas tetap dapat dikelola melalui beragam pendekatan terapi. Perbaikan pola makan, misalnya, dapat membantu menurunkan berat badan sekitar lima persen. Apabila disertai olahraga dan penerapan style hidup sehat, penurunan berat badan dapat mencapai 5–10 persen.

Di sisi lain, tindakan bedah bariatrik alias operasi untuk mengurangi penyerapan makanan disebut bisa menurunkan berat badan hingga 25–30 persen.

Di antara kedua pendekatan tersebut, menurut Dante, terapi menggunakan obat penurun berat badan berkedudukan mengisi kesenjangan efektivitas. Obat-obatan tertentu bekerja melalui sistem nan memengaruhi ekspresi gen sehingga membantu mengendalikan berat badan pada pasien obesitas.

"Kalau dia menggunakan obat khusus, gen-nya tadi nan sudah terpola itu bakal mengalami proses nan namanya epigenetic gene process, ini proses pembelajaran gen nan sudah terpola dalam tubuh seseorang sehingga dia bakal berubah sifatnya. Itu jika pakai obat bisa turun hingga 20 persen." jelasnya. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia