Ilustrasi(Unsplash)
PASIEN kanker nan menjalani pengobatan imunoterapi sering kali kudu mengonsumsi obat-obatan lain untuk mengelola kondisi kesehatan mereka secara bersamaan. Salah satu nan paling sering diresepkan adalah obat penurun kolesterol. Selama ini, jenis obat kolesterol nan dikonsumsi pasien dianggap tidak memengaruhi jalannya pengobatan kanker. Namun, sebuah temuan terbaru menunjukkan hasil nan mengejutkan.
Berdasarkan kajian info terhadap ribuan rekam medis pasien, mereka nan mengonsumsi obat kolesterol jenis baru diketahui mempunyai usia angan hidup nan lebih panjang dibandingkan pasien nan mengonsumsi obat golongan statin. Menariknya, pengaruh positif ini sama sekali tidak berangkaian dengan kesehatan jantung.
Perbedaan Angka Harapan Hidup nan Signifikan
Obat kolesterol generasi baru ini dikenal sebagai penghambat PCSK9 (PCSK9 inhibitors). Fungsi utamanya adalah membantu organ hati membersihkan kolesterol jahat dari aliran darah, sehingga biasanya digunakan untuk menekan akibat serangan jantung dan stroke pada pasien berisiko tinggi.
Tim peneliti dari University of Texas Southwestern Medical Center (UT Southwestern) mencoba mengawasi pengaruh obat tersebut pada pasien kanker nan sedang menjalani terapi checkpoint inhibitor, sejenis imunoterapi nan bekerja mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang tumor. Hasilnya, pasien nan juga mengonsumsi penghambat PCSK9 memperkuat hidup jauh lebih lama daripada mereka nan menggunakan statin.
Setelah dua tahun pengamatan, sekitar 62% pasien di golongan penghambat PCSK9 terpantau tetap hidup, berbanding terbalik dengan golongan statin nan hanya mencatat nomor 51%. Perbedaan median kelangsungan hidupnya apalagi terlihat semakin mencolok. Setengah dari total pasien pengguna penghambat PCSK9 bisa memperkuat hidup hingga sekitar lima tahun, sementara separuh dari pasien pengguna statin telah meninggal bumi dalam kurun waktu sekitar dua tahun.
Bukan Pengaruh dari Kesehatan Jantung
Data penelitian ini diperoleh dari TriNetX, sebuah jaringan nan mengumpulkan rekam medis tanpa identitas dari 70 lebih sistem kesehatan di Amerika Serikat. Para peneliti membandingkan info dari 239 pasien pengguna penghambat PCSK9 dengan 239 pasien pengguna statin nan mempunyai karakter serupa, mulai dari usia, riwayat jantung, hingga jenis kanker nan diidap, seperti kanker paru-paru, melanoma, dan kanker ginjal.
Sebagai obat jantung, dugaan awal nan muncul adalah keahlian obat penghambat PCSK9 dalam mencegah serangan jantung dan strokelah nan memperpanjang umur pasien. Namun, info menunjukkan bahwa tingkat gangguan jantung serius pada kedua golongan berada di nomor nan setara. Artinya, faedah kelangsungan hidup ini berdiri sendiri, terpisah dari kegunaan kesehatan pembuluh darah.
Petunjuk mengenai kejadian ini ditemukan di laboratorium. Protein PCSK9 rupanya tidak hanya mengontrol kolesterol, tetapi juga membantu sel kanker berlindung dari sistem kekebalan tubuh. Ketika protein ini diblokir oleh obat, tumor disinyalir menjadi lebih mudah dideteksi dan diserang oleh sistem imun.
Menanti Pembuktian Lewat Uji Klinis
Kendati menjanjikan, studi nan dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open ini baru mendeteksi pola dan belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak. Rekam medis nan dianalisis tetap mempunyai keterbatasan data, seperti stadium tumor, penanda imun, hingga penyebab pasti kematian pasien nan belum terkonfirmasi.
Oleh lantaran itu, temuan ini belum mengubah prosedur pengobatan kanker saat ini. Para master tetap kudu bersabar menunggu hasil dari beberapa uji klinis nan sekarang tengah melangkah demi menguji efektivitas kombinasi obat penghambat PCSK9 dengan imunoterapi secara langsung pada pasien kanker paru-paru dan ginjal.
Jika uji klinis tersebut sukses mengonfirmasi polanya, berita baik ini bisa diterapkan dengan sigap lantaran obat penghambat PCSK9 sudah mengantongi izin edar dan mempunyai rekam jejak keamanan nan panjang. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·