Di sebuah ruangan sederhana nan dipenuhi aroma tinta dan kertas, seorang ustad duduk tenang di kembali meja kayu, menuntaskan goresan demi goresan ayat suci. Huruf-huruf Arab itu mengalir pelan, membentuk keelokan nan tak hanya terbaca, tetapi juga terasa.
Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman, dengan seragam dinasnya, tampak menunduk penuh takzim saat menyaksikan seorang ustad menuliskan kaligrafi Surat Al-An’am ayat 75.
Dengan langkah nan tertahan, dia mendekat, memperhatikan setiap aktivitas tangan sang kiai. Pena menyentuh kertas dengan presisi, mencipta lengkung nan hidup.
"Saya coba boleh nih, Pak?" ucap Arif, pelan.
"Monggo. Monggo (silakan)," jawab ustad tersebut.
"Coba nama saya aja. Buat nama saya. Saya mau nyoba pakai penanya ini. Kayak gimana. Penanya ini namanya apa?" tanya Arif.
Kiai itu lampau membuka laci kecil, mengeluarkan pena tradisional nan tampak sederhana, namun menyimpan teknik tersendiri. Ia menjelaskan dengan telaten, seolah memperkenalkan sebuah warisan lama kepada tangan nan baru belajar.
"Ini namanya Handam. Tintanya ini kan tinta khusus. Ini agak kental enggak bisa dimasukkan ke dalam pen nya. Harus dicelupkan. Dicelupkannya enggak boleh basah. Ini kudu kerung," jelas ustad tersebut.
"Oh, saya coba boleh nih, Pak?" tanya Arif.
Kiai tersebut pun mempersilakan.
Namun, di hadapan ayat nan sedang ditulis, Arif memilih mundur setapak. Ada rasa segan nan tak diucapkan, sebuah penghormatan pada tulisan nan belum selesai.
"Enggak. Saya nyoba bukan di sini. Enggak berani saya. Coba nama saya aja. Buat nama saya aja. nan (kertas) kosong aja, Pak. (Kertas) nan jejak aja enggak apa-apa. Saya mau nyoba pakai penanya ini. Kaya gimana," kata Arif.
Kiai itu lampau menyiapkan lembar kosong. Ia menarik satu garis lurus nan menjadi pedoman sederhana untuk tulisan Arif.
"Saya garis dulu biar lurus. Nah di atas ini," kata kiai.
Di titik itu, Arif mulai menulis. Tangan nan terbiasa tegas sekarang bergerak hati-hati. Setiap huruf ditarik perlahan, seolah sedang merangkai ulang kisah dirinya sendiri.
"Coba ya. Bismillah. Masih bisa enggak ini. Fazlur Rahman. Jadi baru tahu, Pak, saya. Nama, makna nama saya ketika di sekolah. Arif (artinya) bijaksana. Nah jika di bahasa latin Fazlu pake 'Z'. Pas saya masuk pesantren dulu baru tahu pakai (huruf) Dho rupanya Fadhlu (artinya) fadilah, keutamaan. Afdhal fadilah," jelas Arif.
Adapun Arif adalah seorang lulusan dari Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Surakarta angkatan ke-15.
Ketika tulisannya selesai, Arif tersenyum. Ia mengangkat kertas itu seperti seseorang nan baru menemukan sesuatu nan lama hilang.
"Nih, udah ini kenang-kenangan. Ayo fotoin dulu nih sama Beliau nih," pinta Arif kepada pegawainya.
Kiai itu pun meminta waktu Arif untuk menjadi penceramah di tempatnya.
"Nanti insyaallah kapan-kapan tausiah di sini Pak Kapolres, ya," pinta ustad itu.
Arif pun mendoakan kesehatan sang kiai. "Semoga yai diberikan kesehatan," ujar Arif.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·