Liputan6.com, Jakarta - “Dulu kami bukan siapa-siapa, sekarang sudah punya rumah, punya tanah, bisa sekolahin anak di pondok.”
Tangis Rena Regina (35) pecah setelah mengucapkan kalimat itu. Beberapa kali dia menghentikan ucapannya sembari mengusap air mata nan jatuh di pipi.
Rena mengenang perjalanannya membangun Maminom Snack. Usaha camilan rumahan nan menjual beragam makanan ringan seperti mie lidi hingga basreng (bakso goreng).
Sebelum mempunyai upaya sendiri, Rena merupakan ibu rumah tangga nan kebingungan mencari pekerjaan tanpa kudu meninggalkan anak-anaknya di rumah. Dia sempat bekerja freelance berbareng temannya di jasa katering area Jakarta setiap akhir pekan.
Namun pekerjaan itu tidak memperkuat lama. Anak-anaknya nan tetap mini membikin Rena merasa tidak tega terlalu sering bekerja di luar rumah. Akhirnya dia memilih mencari pekerjaan nan lebih dekat dengan rumah.
Rena sempat menerima pekerjaan mencuci dan menyetrika busana milik tetangga selama sekitar enam hingga tujuh bulan.
“Tapi saya pikir capek juga,” cerita Rena saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya area Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/5/2026).
Dari situ, Rena mulai berpikir untuk mencoba upaya sendiri. Saat camilan mie lidi sedang ramai diminati pada 2018, Rena mencoba membeli bahan baku lima kilogram dari Shopee.
Modal awalnya hanya sekitar Rp 300 ribu. Dia menggoreng sendiri camilan itu di rumah, lampau mencoba memasarkannya ke Sukabumi melalui support saudara.
Menurut Rena, area Sukabumi cukup potensial lantaran banyak pabrik dan pekerja nan menjadi pasar camilan murah. Dari sana, pesanan mulai berdatangan. Awalnya hanya sekitar 20 boks, lampau meningkat menjadi 50, 100, hingga 200 sekali kirim ke area Parungkuda, Sukabumi.
“Awalnya hanya mie lidi,” katanya.
Pasarnya kemudian meluas hingga Jakarta. Beberapa pengguna di area Sudirman mulai meminta ragam isi dalam satu kemasan. Tidak hanya mie lidi, tetapi juga makaroni dan basreng nan saat itu sedang populer.
Rena pun mulai mencoba membikin basreng sendiri. Namun percobaan awalnya beberapa kali gagal.
“Awalnya tebal dan keras,” ujarnya sembari tertawa kecil.
Dia terus mencoba beragam langkah sampai akhirnya menemukan metode nan lebih pas. Bahan basreng dibekukan terlebih dulu di freezer, lampau dipotong tipis menggunakan cutter agar hasilnya lebih renyah.
Sejak itu, produk buatannya mulai berkembang. Dalam satu kemasan, Rena mencampur beragam jenis camilan sesuai permintaan pelanggan. Perlahan reseller mulai bermunculan dari beragam wilayah seperti Karadenan hingga Tajurhalang.
“Sekali ambil bisa 100 sampai 200 boks,” katanya.
Saat usahaya mulai menanjak, Rena mengaku pernah mendapat cibiran dari orang sekitar. Ada nan apalagi menudingnya “nyugih” sehingga penjualan camilannya semakin ramai.
Jatuh Bangun Saat Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 sempat membikin upaya Rena jatuh cukup dalam. Penjualan nan biasanya ramai, mendadak sepi. Rena dan suaminya pun mulai memutar otak agar produk mereka tetap terjual.
Kemasan boks diganti menjadi standing pouch dengan ukuran lebih kecil. Harga jualnya pun ditekan hingga Rp 5 ribu per balut agar tetap bisa dibeli masyarakat. Usaha Rena perlahan bangkit.
Suatu hari, kawan Rena nan mempunyai jaringan waralaba toko minuman teh kekinian dengan konsep bungkusan jumbo menawarkan bantuan. Temannya meminta Rena mencoba menitipkan produk basreng di tiga toko miliknya.
Awalnya Rena hanya mengisi sedikit produk di tiap toko. Namun dari mulut ke mulut, produk itu mulai dikenal pemilik toko lainnya nan berada dalam jaringan waralaba tersebut.
“Jadi nyebar sendiri,” ujarnya.
Perlahan produk basreng ukuran Rp 5 ribu buatannya mulai masuk ke sekitar 12 toko minuman teh kekinian. Rena menjual produk itu ke reseller sekitar Rp 4 ribu per bungkus, lampau dijual kembali Rp 5 ribu oleh toko.
Dari sana, usahanya mulai kembali bergerak setelah sempat terpukul pandemi. Tak lama kemudian, pemilik toko minuman teh kekinian itu kembali memberi masukan agar Rena membikin produk camilan lain dengan nilai nan tetap ramah untuk anak sekolah. Rena pun mulai memproduksi beragam snack campuran dengan nilai serupa.
Menurutnya, strategi nilai murah menjadi salah satu langkah agar produknya bisa masuk ke lebih banyak toko dan diterima pasar.
“Yang krusial terjangkau dulu,” katanya.
Di saat nan sama, Rena mulai memahami bahwa untuk masuk ke toko nan lebih besar, produknya kudu mempunyai legalitas nan lengkap. Dia kemudian mengikuti beragam training upaya dan mulai mengurus sertifikasi legal hingga kewenangan kekayaan intelektual (HAKI).
“Kalau nggak punya legalitas, toko juga takut masukin produk,” ujarnya.
Langkah itu membuka jalan baru. Salah satu toko besar pertama nan menerima produknya adalah Redbox Cimanggis. Di toko itu, penjualan produknya cukup tinggi hingga omzet mingguan mencapai sekitar Rp 2 juta.
Saat itu, semangat Rena kembali tumbuh. Dia mulai berpikir gimana caranya agar produknya bisa masuk ke lebih banyak toko modern dan pusat frozen food.
Berkat KUR BRI, Bisa Beli Rumah dan Tanah
Saat usahanya mulai berkembang setelah pandemi, Rena berkenalan dengan jasa KUR (Kredit Usaha Rakyat) BRI. Pinjaman pertama nan dia dapatkan sebesar Rp 50 juta.
Dana tersebut tidak langsung dipakai untuk memperbesar produksi. Rena menggunakannya lebih dulu untuk memenuhi kebutuhan dasar produksi nan sebelumnya serba terbatas.
Saat itu mereka apalagi belum mempunyai freezer tambahan, kompor memadai, maupun peralatan produksi lainnya. Di rumah, mereka hanya mempunyai satu tabung gas untuk memasak seluruh pesanan camilan.
Dari biaya KUR itu, mereka mulai membeli freezer, menambah kompor, hingga beberapa mesin pendukung produksi.
“Jadi buat alat-alat kebutuhan upaya dulu,” ujarnya.
Setelah upaya mereka berkembang dengan support KUR, Rena dan suaminya kembali mengusulkan pinjaman lanjutan melalui program Kupra BRI. Saat itu mereka mendapatkan tambahan modal sekitar Rp 70 juta.
Beberapa waktu kemudian, pinjaman kembali ditambah melalui top up hingga mencapai sekitar Rp 90 juta.
Tambahan modal dari BRI memberi perubahan cukup besar. Sebelum mendapat tambahan modal, stok peralatan mereka tetap sangat terbatas. Belanja bahan baku hanya satu hingga dua bal di pasar.
Setelah mempunyai freezer dan modal tambahan, mereka mulai bisa membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar dan bekerja sama langsung dengan pabrik.
“Sekarang sudah bisa langsung dikirim dari pabrik,” ujarnya.
Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan produksi dua freezer miliknya, Rena mengaku bisa menerima kiriman hingga sekitar 30 bal bahan baku sekaligus.
Perubahan itu ikut memperluas pasar usahanya. Produk camilan mereka mulai masuk ke lebih banyak toko di Bogor, Bekasi, hingga Sukabumi. Rena apalagi mulai mempunyai rencana memperluas pemasaran ke Tangerang.
Sebelum mendapat tambahan modal usaha, omzet harian Rena hanya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Artinya, dalam 30 hari hanya sekitar Rp 9 juta.
“Awal-awal paling segitu,” katanya.
Namun setelah upaya berkembang dan pengedaran produk semakin luas, omzet meningkat. Kini, omzet bulanan bisa mencapai sekitar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per bulan.
Menurut Rena, salah satu produk nan cukup membantu peningkatan penjualan adalah basreng berbentuk koin nan mulai diproduksi setelah mendapat tambahan modal usaha.
Dari hasil upaya tersebut, Rena dan keluarganya sekarang bisa mempunyai rumah, tanah di kampung laman di Bogor, hingga menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren.
Asal Usul Nama Maminom Snack
Nama brand Maminom Snack tak muncul begitu saja. Rena menceritakan, nama itu datang dari anak keduanya berjulukan Naura.
Saat sekolah di Bimba, Naura belum bisa mengucapkan namanya sendiri dengan jelas. nan keluar justru “Nounou” dan “Nomnom”. Teman-teman di sekolah kemudian memanggilnya Nomnom.
Lama-lama panggilan itu melekat pada Naura. Dari situlah buahpikiran menjadikannya sebagai nama brand muncul.
“Yaudah, pakai Nomnom aja,” pikir Rena saat itu.
Seorang kawan nan bisa kreasi kemudian membantu Rena membikin logo. Konsepnya dibuat bergaya animasi Jepang. Hasilnya cocok dan langsung dipakai Rena.
Nama Nomnom pun mulai dikenal banyak orang. Brand itu perlahan berkembang dan makin sering disebut pelanggan. Namun saat hendak didaftarkan ke HAKI, muncul kendala. Nama Nomnom rupanya sudah dipakai pihak lain sehingga tidak bisa didaftarkan.
Rena sempat bingung mencari jalan keluar. Di satu sisi, nama Nomnom sudah terlanjur melekat. Sampai akhirnya ada saran untuk menambahkan unsur lain agar tetap membawa identitas lama.
“Yaudah, pakai Maminom aja. Maksudnya makanan minuman. Kalau kelak suatu saat jual minuman juga tetap nyambung,” kata Rena meniru saran nan diterima waktu itu.
Akhirnya dipilihlah nama Maminom. Kata “nom” tetap dipertahankan lantaran sudah berkawan di telinga pelanggan. Meski begitu, ada cerita kocak nan sering terjadi setelah brand itu dikenal. Banyak reseller nan salah mengerti dan mengira “Maminom” adalah nama panggilan Rena. Dia jadi sering dipanggil “Mami”.
“Padahal mamin itu singkatan, bukan nama aku,” ujarnya sembari tertawa.
Kredit UMKM BRI Tembus Rp 1.211 Triliun
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, penyaluran angsuran dan pembiayaan BRI tetap tumbuh solid pada awal 2026. Hingga akhir Triwulan I 2026, total angsuran dan pembiayaan BRI tercatat mencapai Rp 1.562 triliun alias tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026), Hery menegaskan segmen upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi tulang punggung utama pembiayaan perseroan.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery.
Menurut dia, BRI juga terus memperkuat perannya sebagai penyalur utama KUR di Indonesia sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu pengguna di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan nilai mencapai Rp 19,86 triliun alias sekitar 42,16 persen dari total penyaluran.
Hery mengatakan penyaluran pembiayaan tersebut tidak hanya mencerminkan luasnya jangkauan jasa BRI, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan upaya produktif di beragam daerah.
“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan jasa BRI nan luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan upaya produktif, meningkatkan kapabilitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di beragam daerah,” katanya.
Selain pembiayaan, BRI juga terus menjalankan beragam program pemberdayaan untuk pelaku UMKM. Program tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan kapabilitas upaya masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di beragam daerah.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·