Mikroplastik dalam Kehidupan Sehari-hari: Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi mikroplastik di pantai. Foto: Shutterstock

Botol minum, wadah makanan, kantong belanja, busana sintetis, dan beragam peralatan rumah tangga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Plastik dipilih lantaran ringan, murah, tahan lama, dan mudah digunakan.

Namun, plastik nan digunakan, dibuang, alias mengalami gesekan dapat terurai menjadi partikel berukuran sangat kecil. Partikel tersebut dikenal sebagai mikroplastik.

Mikroplastik umumnya didefinisikan sebagai potongan plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Ukurannya dapat lebih mini daripada butiran beras dan sebagian apalagi tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Keberadaan mikroplastik sekarang ditemukan di lingkungan perairan, tanah, udara, makanan, dan air minum. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari dapat membahayakan kesehatan?

Dari Mana Mikroplastik Berasal?

Ilustrasi Mikroplastik, Sumber:IStockphoto/Grafissimo

Sebagian mikroplastik memang dibuat dalam ukuran mini sejak awal. Namun, banyak partikel terbentuk ketika barang plastik nan lebih besar mengalami pelapukan, panas, paparan sinar matahari, tekanan, alias gesekan.

Botol, kantong, bungkusan makanan, ban kendaraan, cat, dan perlengkapan rumah tangga dapat menjadi sumber partikel plastik. Serat dari busana berbahan sintetis juga dapat terlepas ketika busana digunakan alias dicuci.

Artinya, mikroplastik tidak hanya berasal dari sampah plastik nan terlihat di sungai alias laut. Partikel tersebut juga dapat terbentuk dari benda-benda nan dekat dengan aktivitas manusia.

UNEP menjelaskan bahwa mikroplastik telah tersebar luas di lingkungan dan dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, serta udara nan dihirup.

Apakah Mikroplastik Ada dalam Makanan?

Sejumlah penelitian telah menemukan mikroplastik dalam air minum, makanan laut, garam, madu, dan beragam bahan pangan lainnya. Namun, jumlah nan ditemukan dapat berbeda-beda tergantung metode pengambilan sampel dan pemeriksaannya.

Kontaminasi dapat terjadi sejak bahan pangan berada di lingkungan, selama proses produksi, saat dikemas, alias ketika disiapkan di rumah.

Makanan nan berasal dari laut dapat terpapar lantaran partikel plastik telah mencemari ekosistem perairan. Sementara itu, makanan lain dapat bergesekan dengan plastik selama pengolahan dan penyimpanan.

Meski demikian, ditemukannya mikroplastik dalam suatu makanan tidak otomatis berfaedah makanan tersebut langsung berbahaya. Risiko kesehatan ditentukan oleh ukuran partikel, jumlah paparan, jenis plastik, bahan kimia nan menyertainya, dan lamanya seseorang terpapar.

Wadah Plastik dan Makanan Panas

Penggunaan wadah plastik untuk makanan panas menjadi salah satu kebiasaan nan sering diperhatikan. Panas, goresan, dan penggunaan berulang dapat mempercepat kerusakan permukaan beberapa jenis plastik.

Karena itu, wadah sebaiknya digunakan sesuai petunjuk produsennya. Tidak semua plastik dirancang untuk menampung makanan panas alias digunakan di dalam microwave.

Wadah sekali pakai juga tidak selalu cocok digunakan berulang kali. Kemasan nan sudah berubah bentuk, retak, tergores berat, alias mempunyai aroma tidak biasa sebaiknya tidak dipakai kembali untuk menyimpan makanan.

Memindahkan makanan panas ke wadah kaca, keramik, alias wadah lain nan memang dirancang untuk suhu tinggi dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi kontak nan tidak perlu dengan plastik.

Namun, tidak perlu membuang seluruh wadah plastik nan tetap layak. Penggunaan nan tepat dan sesuai kegunaan lebih realistis daripada merasa kudu menghilangkan semua plastik sekaligus.

Air Minum dalam Botol Plastik

Air minum dalam bungkusan sering menjadi perhatian lantaran mikroplastik telah ditemukan pada air botol maupun air keran dalam sejumlah penelitian. WHO menyatakan bahwa bukti mengenai akibat mikroplastik dalam air minum tetap terbatas dan penelitian lebih lanjut tetap diperlukan.

Botol plastik sebaiknya tidak disimpan terlalu lama di tempat nan sangat panas, seperti di dalam kendaraan nan terparkir di bawah sinar matahari.

Botol sekali pakai juga sebaiknya digunakan sesuai peruntukannya. Penggunaan berulang dapat menyebabkan permukaan botol tergores dan susah dibersihkan dengan baik.

Membawa botol minum nan dapat digunakan kembali dapat mengurangi sampah plastik. Pilih botol nan mudah dibersihkan dan dibuat untuk penggunaan berulang.

Namun, kebersihan air tetap menjadi prioritas utama. Air nan bebas mikroplastik tetapi tercemar mikroorganisme tetap dapat menimbulkan akibat kesehatan nan lebih langsung.

Mikroplastik Juga Bisa Terhirup

Paparan mikroplastik tidak hanya terjadi melalui makanan dan minuman. Partikel dapat berada di udara dan terhirup berbareng debu.

Serat tekstil, debu rumah, furnitur, karpet, dan bahan plastik nan mengalami gesekan dapat berkontribusi terhadap keberadaan partikel di dalam ruangan.

Partikel nan sangat mini dapat mencapai saluran pernapasan lebih dalam. Namun, seberapa banyak partikel nan memperkuat di tubuh dan akibat jangka panjangnya pada manusia tetap terus dipelajari.

Membersihkan rumah secara rutin dapat membantu mengurangi debu. Gunakan kain lembap alias perangkat penyedot debu agar partikel tidak kembali beterbangan.

Ventilasi juga perlu dijaga, terutama ketika kualitas udara luar sedang baik. Rumah nan terlalu berdebu dan jarang dibersihkan dapat meningkatkan paparan beragam partikel, bukan hanya mikroplastik.

Apa nan Terjadi Setelah Masuk ke Tubuh?

Sebagian besar partikel nan tertelan kemungkinan bakal melewati saluran pencernaan dan dikeluarkan dari tubuh. Namun, partikel nan lebih mini menjadi perhatian lantaran berpotensi berinteraksi lebih dekat dengan jaringan tubuh.

Penelitian pada sel dan hewan menunjukkan bahwa mikroplastik dan nanoplastik dapat memicu peradangan, stres oksidatif, serta gangguan pada proses seluler. Akan tetapi, hasil penelitian laboratorium tidak dapat langsung disamakan dengan akibat nyata pada manusia.

Beberapa penelitian juga telah menemukan partikel plastik pada jaringan tubuh manusia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa paparan memang terjadi, tetapi belum menjawab secara pasti apakah partikel itu menjadi penyebab langsung suatu penyakit.

Karena itu, krusial membedakan antara keberadaan partikel, kemungkinan sistem biologis, dan bukti bahwa partikel tersebut menyebabkan penyakit tertentu.

Apakah Mikroplastik Menyebabkan Penyakit?

Pertanyaan ini belum dapat dijawab secara sederhana. Bukti ilmiah mengenai akibat mikroplastik terhadap kesehatan manusia tetap berkembang.

Sejumlah kajian menilai bahwa mikroplastik diduga dapat memengaruhi kesehatan pencernaan, pernapasan, dan reproduksi. Namun, kualitas bukti pada manusia tetap terbatas dan hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan untuk banyak kondisi.

WHO juga menekankan perlunya penelitian nan lebih baik mengenai tingkat paparan, ukuran partikel, komposisi kimia, dan dampaknya terhadap manusia.

Oleh lantaran itu, masyarakat tidak perlu panik alias mempercayai klaim bahwa mikroplastik pasti menyebabkan semua jenis penyakit.

Sikap nan lebih tepat adalah mengurangi paparan nan dapat dikendalikan sembari menunggu bukti ilmiah nan lebih kuat.

Jangan Mudah Percaya Produk “Detoks Mikroplastik”

Kekhawatiran terhadap mikroplastik dapat dimanfaatkan untuk memasarkan suplemen, minuman, alias produk nan mengaku bisa membersihkan plastik dari tubuh.

Hingga kini, tidak ada langkah sederhana nan terbukti dapat melakukan “detoks mikroplastik” secara unik dari tubuh manusia.

Produk dengan klaim berlebihan perlu disikapi secara kritis. Jangan mengonsumsi suplemen hanya lantaran menjanjikan tubuh bebas mikroplastik, terlebih andaikan komposisi dan keamanannya tidak jelas.

Tubuh mempunyai sistem alami untuk mengeluarkan beragam unsur melalui pencernaan, hati, ginjal, dan paru-paru. Menjaga pola makan seimbang, cukup minum, tidur, dan aktivitas bentuk tetap lebih berfaedah daripada mengikuti metode detoks nan belum terbukti.

Langkah Sederhana Mengurangi Paparan

Paparan mikroplastik susah dihilangkan sepenuhnya lantaran partikel telah tersebar luas di lingkungan. Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu mengurangi kontak nan tidak diperlukan.

Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik nan tidak dirancang untuk suhu tinggi. Gunakan wadah sesuai petunjuk dan tukar wadah nan sudah rusak alias tergores berat.

Kurangi penggunaan plastik sekali pakai andaikan tersedia pilihan lain nan lebih tahan lama. Bawa botol minum, kotak makan, dan tas shopping nan dapat digunakan kembali.

Jangan membuang alias membakar sampah plastik sembarangan. Pembakaran plastik dapat menghasilkan pencemar udara lain nan juga berbahaya.

Cuci busana sintetis hanya ketika diperlukan dan gunakan mesin cuci dengan muatan nan sesuai. Pilihan tersebut dapat membantu mengurangi pelepasan serat sekaligus menghemat air dan energi.

Bersihkan debu rumah secara rutin dan simpan makanan dengan baik agar tidak terpapar partikel dari lingkungan.

Tetap Utamakan Risiko nan Sudah Jelas

Kekhawatiran terhadap mikroplastik tidak semestinya membikin masyarakat mengabaikan prinsip kesehatan nan sudah terbukti.

Makanan tetap perlu dicuci, dimasak, dan disimpan dengan benar. Air minum kudu berasal dari sumber nan aman. Pola makan bergizi seimbang juga tetap menjadi prioritas.

Menghindari ikan hanya lantaran takut mikroplastik, misalnya, belum tentu menjadi keputusan nan tepat. Ikan tetap merupakan sumber protein dan unsur gizi penting.

Hal nan sama bertindak pada air minum dalam bungkusan ketika tidak tersedia sumber air lain nan aman. Risiko dehidrasi alias mengonsumsi air tercemar mikroorganisme dapat lebih langsung daripada akibat mikroplastik nan tetap diteliti.

Karena itu, keputusan sehari-hari perlu mempertimbangkan faedah dan risikonya secara seimbang.

Mengurangi Plastik Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Jadi, seberapa besar akibat mikroplastik bagi kesehatan?

Mikroplastik memang telah ditemukan di lingkungan, makanan, udara, dan tubuh manusia. Penelitian laboratorium menunjukkan adanya potensi akibat biologis, tetapi bukti mengenai besarnya akibat dan penyakit nan secara langsung disebabkan pada manusia tetap belum lengkap.

Kondisi tersebut bukan argumen untuk mengabaikan masalah, tetapi juga bukan argumen untuk panik.

Langkah paling masuk logika adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan wadah sesuai fungsinya, menghindari pemanasan plastik nan tidak tepat, menjaga kebersihan rumah, dan mengelola sampah dengan benar.

Mikroplastik merupakan masalah nan tidak dapat diselesaikan hanya oleh individu. Produsen, pemerintah, industri, dan masyarakat mempunyai peran dalam mengurangi produksi, penggunaan, dan pelepasan plastik ke lingkungan.

Kebiasaan mini mungkin tidak langsung menghilangkan mikroplastik dari kehidupan. Namun, penggunaan plastik nan lebih bijak dapat mengurangi paparan sekaligus mencegah semakin banyak sampah plastik masuk ke lingkungan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan