Arab Saudi dan Mesir menyerukan kebebasan serta keamanan navigasi di Laut Merah dan jalur strategis Bab al-Mandab, sebuah selat nan jadi pintu masuk Laut Merah dari Samudera HIndia. Dilansir AFP, seruan itu disampaikan setelah golongan Houthi menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman hingga Selat Bab al-Mandab.
Seruan tersebut disampaikan Putra Mahkota sekaligus pemimpin de facto Arab Saudi Mohammed bin Salman saat berjumpa Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi di Kairo, Selasa (15/9).
Kantor Kepresidenan Mesir menyebut keduanya membahas perkembangan terbaru bentrok di Yaman.
"Bahwa kebebasan dan keamanan maritim di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab adalah penting," kata statement berbareng tersebut.
Sementara Presiden El-Sisi mendukung rencana Arab Saudi mengenai langkah-langkah nan kudu diambil.
"Untuk melindungi keamanan dan stabilitas kawasan," katanya.
Konflik Yaman nan Kembali Memanas
Konflik Yaman kembali memanas sejak Juli setelah perang kerabat ini sempat mereda sejak 2022. Houthi nan didukung Iran menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan mulai menargetkan kapal-kapal Saudi di Laut Merah.
Dalam serangan sigap pekan lalu, Houthi disebut sukses menguasai seluruh garis pantai Laut Merah Yaman serta Bab al-Mandab. Selat tersebut menjadi jalur krusial bagi ekspor minyak mentah Saudi setelah perang nan lebih luas di Timur Tengah mengganggu jalur melalui Selat Hormuz.
Gangguan di Bab al-Mandab juga berpotensi berakibat pada Mesir. Laut Merah merupakan pintu masuk menuju Terusan Suez, salah satu sumber pendapatan krusial bagi pemerintah Mesir.
Pendapatan Terusan Suez saat ini disebut hanya sekitar separuh dibandingkan sebelum Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah pada 2023. Saat itu, Houthi menyatakan serangan dilakukan sebagai corak solidaritas terhadap Palestina dalam perang Israel-Hamas di Gaza.
Qatar pada Selasa juga memperingatkan akibat penutupan Bab al-Mandab. Doha menyebut penutupan jalur tersebut bakal menjadi "bencana bagi dunia".
Saudi Hadapi Serangan Houthi
Arab Saudi juga tetap menghadapi serangkaian serangan Houthi ke wilayahnya. Riyadh mengeluarkan peringatan serangan untuk sejumlah wilayah, termasuk Makkah, Jeddah, dan Taif, pada Selasa. Peringatan tersebut kemudian dicabut.
Pada Selasa malam, peringatan serupa dikeluarkan untuk Kota Abha, Khamis Mushait, dan Provinsi Jazan sebelum kembali dicabut.
Koalisi ketua Saudi nan memerangi Houthi menyatakan serangan rudal dan drone sehari sebelumnya melukai 13 penduduk sipil di tiga wilayah.
Houthi juga dilaporkan menargetkan prasarana minyak Saudi. Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia. Serangkaian gangguan tersebut ikut mendorong nilai minyak dunia menembus USD 100 per barel.
Koalisi ketua Saudi menyatakan bakal merespons serangan tersebut secara tegas untuk melindungi kedaulatan negaranya.
"Semua langkah operasi sudah disiapkan untuk menangkal serangan musuh dan para ekstremis ini," demikian pernyataan koalisi Saudi.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Selasa malam mengeklaim Saudi telah melancarkan 52 serangan udara ke Yaman dalam 24 jam terakhir. Ia menuduh serangan tersebut menyasar akomodasi sipil, termasuk sekolah dan jembatan.
Namun, serangan udara Saudi sejauh ini belum membalikkan sejumlah untung teritorial nan diraih Houthi.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada AFP bahwa satuan tugas militer AS tengah membantu meningkatkan pertukaran intelijen dan support perencanaan bagi pasukan Saudi nan menghadapi serangan Houthi.
PBB memperkirakan kembalinya bentrok telah menyebabkan sekitar 100 ribu orang mengungsi di dalam wilayah Yaman.
Perang Yaman bermulai ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin koalisi nan melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman.
Houthi Janji Tingkatkan Serangan
Perwakilan biro politik Houthi, Hazem al-Assad, mengatakan serangan terhadap Saudi bakal terus dilakukan selama Riyadh melanjutkan operasi militernya di Yaman.
"Kami bakal terus merespons, dan mengeskalasi serangan selama mereka (Arab Saudi) terus melakukan agresi ke orang-orang kami," ucapnya.
Konflik Yaman kembali berjalan ketika perang nan lebih luas di Timur Tengah tetap menemui kebuntuan. Presiden AS Donald Trump pada Senin menyatakan terbuka untuk melakukan pembicaraan dengan Iran.
Namun, pejabat keamanan senior Iran Mohsen Rezaei menyatakan tidak bakal ada negosiasi sampai persyaratan Iran dipenuhi.
Iran selama ini mendukung Houthi, nan menjadi bagian dari golongan nan disebut Teheran sebagai "Poros Perlawanan" terhadap Israel. Dukungan tersebut mencakup persenjataan dan teknologi.
Meski demikian, Iran membantah terlibat dalam perang terbaru di Yaman. Para master juga tetap memperdebatkan sejauh mana Teheran berkedudukan dalam eskalasi bentrok tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·