Pagi Sabtu, 2 Mei 2026, udara terasa lebih berat dari biasanya. Hari Pendidikan Nasional kembali datang, membawa serta keriuhan nan sama setiap tahunnya. Di layar televisi dan linimasa media sosial, wajah-wajah ceria menghiasi iklan pemerintah tentang "Merdeka Belajar". Kata "Merdeka" diucapkan dengan begitu ringan, seolah-olah dia adalah peralatan dagangan nan bisa dibungkus dan dibagikan secara cuma-cuma dalam paket kurikulum nasional.
Namun, saya berdiri di sini dengan kegelisahan nan mendalam. Di kepala saya, kalimat itu mendengung lebih keras dari sebelumnya: Merdeka Belajar tanpa Belajar Merdeka adalah ilusi.
Izinkan saya bercerita, dengan style nan mungkin sedikit lebih panjang, lantaran masalah sebesar ini tidak bisa diselesaikan dengan satu alias dua paragraf pendek. Ini adalah soal jiwa bangsa kita, soal gimana kita memandang masa depan anak-anak kita.
Tragedi "Pintu Sangkar nan Terbuka"
Mari kita mulai dengan sebuah perumpamaan. Bayangkan seekor burung nan lahir, tumbuh, dan menua di dalam sangkar besi selama bertahun-tahun. Setiap hari, dia tidak pernah menentukan kapan kudu makan. Dia tidak pernah memilih cabang mana nan mau dia hinggapi. Semua sudah diatur oleh pemilik sangkarnya melalui petunjuk nan sangat kaku.
Lalu, suatu pagi—katakanlah hari ini—sang pemilik datang dengan senyum lebar dan membuka pintu sangkar itu. Dia berteriak, "Mulai hari ini, Anda Merdeka Belajar! Terbanglah! Tentukan nasibmu!"
Apa nan kita lihat? Burung itu tidak langsung melesat ke angkasa. Dia hanya berdiri di periode pintu dengan kaki gemetar. Dia menoleh ke belakang, memandang ruji-ruji nan selama ini memberinya rasa kondusif palsu. Dia takut. Dia tidak tahu langkah mencari ulat di kembali daun. Dia tidak tahu arah angin. Dia mempunyai "Kemerdekaan" secara status, tapi dia tidak punya "Kekuatan untuk Merdeka" secara mentalitas.
Pendidikan kita hari ini persis seperti burung itu. Kita memberikan kebebasan kurikulum kepada guru-guru nan selama puluhan tahun dididik untuk menjadi pelaksana perintah, bukan pembuat gagasan. Kita memberikan otonomi kepada siswa nan selama ini hanya dilatih untuk menghafal jawaban, bukan untuk mempertanyakan keadaan.
Kemerdekaan nan diberikan tanpa kesiapan untuk merdeka adalah corak kebingungan massal nan terbungkus rapi.
Pengalaman Memimpin: Antara Aturan dan Jiwa
Saya terkenang masa ketika saya dipercaya memimpin sebuah sekolah di usia nan sangat muda, di Jakarta. Di tengah daya masa muda itu, saya belajar satu perihal nan paling fundamental: Memimpin pendidikan bukan soal mengatur kertas, tapi soal menjaga martabat.
Waktu itu, saya memandang sungguh kuatnya tarikan untuk sekadar mengikuti arus. Jika pemerintah bilang A, maka semua kudu A. Tapi saya sadar, jika kita hanya menjadi penyambung lidah patokan tanpa pernah mencerna apa tujuan di kembali patokan itu, kita sebenarnya sedang menjajah diri sendiri.
Di sana saya belajar bahwa kedaulatan seorang pendidik adalah kunci. Seorang pemimpin sekolah alias seorang pembimbing kudu "Belajar Merdeka" terlebih dahulu. Artinya dia kudu mempunyai keberanian untuk berbicara bahwa kualitas tidak bisa ditawar dengan sekadar angka-angka statistik.
Merdeka Belajar menjadi ilusi jika para pemimpinnya tetap merasa takut untuk berinovasi hanya lantaran tidak ada petunjuk tertulis dari pusat.
Ilusi di Balik Gemerlap "Smart Classroom"
Tahun 2026 ini, kita dipukau oleh kemajuan teknologi. Kita punya Augmented Intelligence, ada ruang kelas pintar, dan internet sigap nan menjangkau banyak tempat. Pemerintah seolah merasa sudah sukses memerdekakan pendidikan jika sudah membagi-bagikan perangkat digital.
Tapi saya mau bertanya kepada Anda: Apakah sebuah layar digital di depan kelas otomatis membikin pikiran anak kita jadi merdeka?
Tidak. Jika anak-anak kita hanya menggunakan teknologi untuk mencari jawaban instan bagi tugas mereka tanpa pernah tahu langkah memverifikasi sumbernya, maka mereka sedang merayakan ilusi. Mereka merasa bebas mencari apa saja di internet, padahal sebenarnya mereka sedang dijajah oleh algoritma nan menentukan apa nan boleh dan tidak boleh mereka lihat.
Saya sering merasa sedih memandang integritas akademik nan perlahan runtuh. Orang dengan mudah menyalin karya orang lain alias menggunakan mesin untuk menulis tanpa mengolah logika sedikit pun.
Inilah nan terjadi jika kita Merdeka Belajar tapi tidak Belajar Merdeka. Kita bebas menggunakan alat, tapi kita menjadi budak dari perangkat tersebut lantaran kita kehilangan keahlian untuk berpikir kritis dan jujur pada diri sendiri.
Geopolitik Pengetahuan: Menghargai Tanah Air Sendiri
Sebagai orang nan sering menganalisis kebijakan, saya memandang pendidikan Indonesia sering kali kehilangan akarnya. Kita adalah bangsa besar dengan ribuan pulau, selat-selat strategis nan dilalui dunia, dan rimba nan menjadi paru-paru bumi.
Tapi coba lihat isi kepala anak-anak kita. Sering kali mereka lebih tahu tentang gedung-gedung di luar negeri daripada tentang potensi laut di depan rumahnya sendiri. Mereka dipaksa mengejar standar nan ditentukan oleh orang-orang nan mungkin tidak pernah merasakan sungguh sulitnya transportasi di pulau-pulau mini seperti Nias alias wilayah pedalaman lainnya.
Merdeka Belajar semestinya berfaedah anak-anak kita merdeka untuk mengenal tanah airnya sendiri. Namun, itu tidak bakal terjadi jika kita belum Belajar Merdeka dari rasa rendah diri.
Kita sering merasa bahwa segala nan datang dari luar adalah nan terbaik, sehingga kita lupa membangun sistem pendidikan nan berakar pada kekuatan maritim dan kearifan lokal kita sendiri.
Pesan untuk Guru: Menjadi Tuan bagi Pikiran Sendiri
Kepada para pembimbing di seluruh pelosok negeri, saya mau bicara dari hati ke hati. Saya tahu beban manajemen tetap ada. Saya tahu Anda sering capek dengan aplikasi nan terus berganti nama.
Namun, sadarilah satu hal: Kurikulum sehebat apa pun hanyalah barang meninggal di atas kertas. Nyawa dari pendidikan itu ada pada Anda. Jika Anda tetap menunggu perintah pusat untuk mulai menyayangi siswa alias mulai membujuk mereka berpikir kritis, maka Anda belum "Belajar Merdeka".
Jangan tunggu petunjuk untuk menjadi manusia nan merdeka. Ambil kembali kedaulatan Anda sebagai pendidik. Merdeka Belajar adalah izin dari menteri, tapi Belajar Merdeka adalah janji Anda kepada masa depan bangsa ini.
Menghancurkan Fatamorgana
Pendidikan kita saat ini seperti orang nan berlari kencang di atas mesin treadmill. Keringat kita bercucuran, napas kita tersengal-sengal, dan lampu digital menunjukkan kita sudah menempuh jarak sepuluh kilometer. Tapi kenyataannya, kita tetap di tempat nan sama. Kita tidak pindah ke mana-mana.
Itu terjadi lantaran kita terjebak dalam ilusi. Kita sibuk merayakan kemerdekaan nan tertulis di poster-poster, tapi jiwa kita tetap terikat pada rasa takut dan kemauan untuk sekadar "asal bapak senang".
Pada Hardiknas 2026 ini, saya membujuk kita semua untuk melakukan satu perihal nan paling berani: Berhenti merasa sudah merdeka.
Mari kita mulai proses nan sesungguhnya. Proses nan berat, sunyi, dan tidak instan. Proses belajar untuk berdikari dalam berpikir, jujur dalam berkarya, dan berdaulat dalam tindakan. Itulah nan saya sebut sebagai Belajar Merdeka.
Hanya dengan langkah itulah, semboyan "Merdeka Belajar" tidak bakal berhujung menjadi nisan bagi matinya logika kritis bangsa kita. Mari kita jadikan pendidikan sebagai sinar nan betul-betul menerangi, bukan sekadar kembang api nan meledak bagus di langit lampau lenyap tanpa sisa dalam kegelapan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Belajarlah untuk merdeka, sebelum mengaku telah merdeka belajar.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·