Dalam budaya populer, angin besar sering digambarkan dalam situasi nan mencekam. Banyak seniman melambangkan kapal sebagai representasi pribadi nan sedang diombang-ambingkan oleh buasnya lautan. Hingga saat ini, angin besar laut tetap cukup terkenal sebagai simbol gelombang kesengsaraan kepada perahu kehidupan. Penulis terkenal peraih Pulitzer, Ernest Hemingway, mempunyai hubungan emosional nan panjang dengan lautan. Dalam mahakaryanya, The Old Man and the Sea, Ernest Hemingway mengambil metafora laut dalam dua sisi, yaitu: pertama, laut sebagai pemberi makan, perawat, dan penjaga kehidupan. Namun berbarengan pada sisi lainnya, Hemingway memandang laut sebagai kekuatan besar nan susah ditebak, kejam, dan perusak.
Dualisme laut tersebut merefleksikan prinsip kehidupan kita dengan sangat anggun. Hidup mempunyai sisi keindahan, namun juga menyimpan penderitaan di sisi lainnya. Kedua sisi itu layaknya dua mata koin dalam satu keutuhan nan tidak terpisahkan. Selalu saja, ketenangan laut menjadi perihal nan selalu diperdebatkan; apalagi belum ada pelaut nan betul-betul bisa menerka wajah laut apa nan bakal dia temui. Hal tersebut sama seperti langkah kita menjalani hidup, dengan kejutan nan berbeda setiap harinya.
Metafora dan ketidakpastian laut nan ditulis Hemingway inilah nan kemudian dibaca oleh Arthur Brooks dari perspektif pandang sains kebahagiaan. Bagi Arthur Brooks, konsep angin besar nan mengandung keelokan ataupun kesengsaraan bukanlah sesuatu nan kudu dihindari dengan keputusasaan. Dalam siniar The Happiness Professor: This Will ACTUALLY Make You Happier, sebagai seorang master dan peneliti kebahagiaan, dirinya memandang kesengsaraan sebagai jalan manusia untuk dapat tumbuh dan berkembang.
Menurut Brooks, kebahagiaan sejati tidak bakal berarti jika didapat tanpa melalui proses perjuangan nan berdarah-darah. Menghindari arena hanya bakal melahirkan kehampaan baru dan kehidupan nan tidak bermakna. Kehidupan nan utuh memerlukan keberanian sejati untuk berdiri di tengah angin besar dan merangkulnya menjadi bahan bakar untuk tumbuh.
Dimensi Brooks tersebut beresonansi dengan semesta musik Barasuara. Lewat lagunya, "Menunggang Badai", Barasuara menolak untuk sekadar pasrah menjadi korban nan diombang-ambingkan oleh angin besar kehidupan. Melalui lirik nan perih dan lantang, Barasuara menawarkan sebuah pemberontakan. Mereka menolak pasrah dalam kesengsaraan, menggunakan sisa-sisa kemarahan untuk bangkit keluar dari kepungan badai. Distorsi gitar nan kasar dan harmoni bunyi nan bagus pada lagu tersebut menjadi manifestasi dua wajah laut nan disebutkan Hemingway sebagai kesengsaraan dan penderitaan, ketenangan dan keindahan, kemudian di saat nan sama melahirkan sebuah mahakarya nan sejati.
Meraih Kebahagiaan dari Ketidakbahagiaan
Secara biologis, langkah kita memperkuat hidup adalah dengan adanya hatikecil dan emosi. Lonjakan bentuk nan nyata seperti keringat, percepatan debar jantung, dan otot nan menegang berfaedah menyampaikan pesan agar kita waspada alias mengambil tindakan sigap dalam beragam situasi. Naluri dan emosi sudah ribuan tahun menyelamatkan nenek moyang kita hidup di muka bumi. Pengalaman mencekam dan penderitaan mereka adalah warisan kematangan hatikecil memperkuat hidup generasi selanjutnya.
Menurut Brooks, keberhasilan nenek moyang kita menunggangi angin besar penderitaan merupakan sebuah langkah tambah pada anak tangga evolusi. Proses tersebut nantinya bakal menciptakan sebuah ruang tempat kita bertumbuh. Bagi Brooks, melalui momen-momen penderitaan dan kesengsaraan inilah karakter dan nilai-nilai nan sedang kita perjuangkan bakal diuji.
Sambung Brooks, alih-alih menghindari, pertumbuhan absolut hanya dapat terjadi andaikan kita menghadapi angin besar kesengsaraan. Dengan menghadapi badai, kita bisa menjemput nilai-nilai kebijaksanaan dan memastikan tidak ada penderitaan nan sia-sia. Dalam catatannya, Brooks menyimpulkan, melalui adanya penerimaan (kesukarelawanan dalam menunggangi badai) maka peningkatan kualitas hidup dapat tercapai, melalui lahirnya perspektif pandang nan baru dari jalan nan tidak mulus tersebut.
Bangkit dari Keterpurukan
Semua makhluk di muka bumi pasti pernah merasakan penderitaan dan kesengsaraan. Di samping kompleksitasnya, manusia adalah salah satu jenis nan condong berekspresi melalui karya seni seperti lagu, puisi, dongeng, dan lain-lain. Bagi band rock Barasuara, penderitaan dan kesengsaraan merupakan sebuah proses pencerahan nan mereka gubah menjadi sebuah ekspresi lagu. Seumur hidupnya dan berulang-ulang, manusia bakal berjumpa satu demi satu kesengsaraan. Proses tersebut bakal menghasilkan seleksi persepsi nan lebih tajam untuk bangkit membangun hidup nan lebih baik.
Alih-alih memanjakan telinga, melalui lagu "Menunggang Badai", Barasuara dengan lantang menerima semua proses nan menyakitkan sebagai sebuah seni untuk merayakan hidup. Hal tersebut dapat dirasakan pada lirik berikut :
Di dalammu, dendam parah bersarang
Perih mencekam, perih mencekam
Pedih bersulang, perih bersulang
Lara bersarang, lara bersarang
Bagi Barasuara, distorsi ini adalah bagian dari sistem nan kudu dilalui oleh setiap insan. Proses nan penuh kesengsaraan dan kepedihan ini bakal senantiasa datang silih berganti, bersarang dalam daging dan menambang lenyap isi pikiran. Dalam tungku ini, keteguhan dan ketabahan adalah bagian nan perlu dilatih. Mata nan bisa memandang tujuan dari jarak jauh bisa memisahkan diri dari jerat.
Bagi mereka, ketabahan itu tidak sama dengan pasrah. Dapat dirasakan pada lirik ini, bahwa mereka menuntut semua ketabahan itu kudu dibayar tuntas:
Dalam peraduan, dendammu melagu
Dalam perasaan, diammu memburu
Dalam kesunyian, gerammu bertalu
Dalam keraguan, lantas kau berseru
Barasuara menolak pasrah pada keadaan. Suara-suara sumbang mereka rangkum dalam geram, menghasilkan daya bakar nan menempa kemarahan sebagai tenaga untuk bangkit dari keterpurukan.
Manusia Sebagai Sistem Antifragilitas
Dalam wawancara berjudul Pursuing Happiness Through Hardship, Tal Ben-Shahar menyampaikan sebuah konsep berjulukan Antifragilitas (Ketahanan) 2.0. Versi awal, Ketahanan 1.0, adalah ketika kita memberi tekanan pada suatu sistem, setelah tekanan mereda, sistem tersebut bakal kembali ke corak aslinya. Ketahanan 2.0 membawa buahpikiran ini selangkah lebih maju. Pada Ketahanan 2.0, andaikan Anda memberi tekanan pada suatu sistem, dia justru bakal tumbuh lebih besar dan lebih kuat.
Kita memandang sistem Ketahanan 2.0 di sekitar kita dan di dalam diri kita sendiri, sebagai contoh adalah sistem otot kita. Kita pergi ke pusat kebugaran dan mengangkat beban, itu memberi tekanan pada otot. Hasilnya, kita justru menjadi lebih kuat. Kita adalah sistem Ketahanan 2.0 itu sendiri.
Pada dimensi psikologi, menurut Shahar, ketahanan itu dinamakan Pertumbuhan Pascatrauma (Post-Traumatic Growth). Jika Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder) berangkaian dengan kehancuran mental, pertumbuhan pascatrauma berangkaian dengan menjadi lebih kuat sebagai hasil dari tekanan stres.
Menurut Shahar, menerima emosi nan menyakitkan itu krusial bagi kesejahteraan emosional. Melalui emosi nan menyakitkan, emosi nan menyenangkan dapat tumbuh dengan hadirnya rasa syukur. Shahar mengutip, filsuf Cicero pernah berkata, "Rasa syukur adalah ibu dari segala kebajikan." Ketika kita bisa mensyukuri hal-hal baik dalam hidup, kita juga bakal mempunyai lebih banyak perihal baik tersebut. Jadi, kebahagiaan jauh lebih dari sekadar kesenangan, melainkan kebahagiaan adalah keutuhan diri melalui proses disiplin dan pemahaman nan baik. Shahar menyimpulkan, peran pengetahuan tentang kebahagiaan adalah untuk mengajarkan kita kondisi apa nan dapat kita ciptakan untuk meningkatkan kemungkinan tumbuh dari kesulitan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, menunggang angin besar bukan sekadar metafora alias semboyan terkenal langkah manusia hidup di tengah kesengsaraan. Melalui Ernest Hemingway, Arthur Brooks, Tal Ben-Shahar hingga Barasuara, kita bisa memandang penderitaan dan kesengsaraan dengan langkah nan sepenuhnya baru. Penderitaan bukanlah musuh untuk dihindari, melainkan tanah subur tempat kebahagiaan sejati bertumbuh.
Sejak dilahirkan, kita adalah sistem Ketahanan (Antifragile) nan bukan hanya sekadar utuh setelah dihantam badai, melainkan lahir sebagai pribadi nan lebih kuat. Jadi, ketika angin besar itu datang, kita mempunyai dua pilihan: karam alias kuasai kemudi!
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·