Jakarta -
Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat program pompanisasi sebagai langkah mitigasi utama menghadapi potensi kejadian El Nino pada 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Kementan memilih melakukan langkah antisipatif sebelum akibat kekeringan meluas. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Niño pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran krusial bahwa mitigasi kudu dilakukan sejak dini.
"Kita kudu bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat beragam langkah mitigasi, salah satunya melalui aktivitas pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman," kata Amran dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amran menjelaskan, selain pompanisasi, pemerintah juga mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi, optimasi lahan, serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Menurut Amran, strategi mitigasi perubahan suasana menjadi semakin krusial mengingat pemerintah tengah mempercepat pencapaian swasembada pangan.
Pompanisasi menjadi salah satu strategi penyesuaian perubahan suasana nan dijalankan Kementan untuk memastikan sumber air tetap dapat dimanfaatkan ketika curah hujan menurun. Melalui pompa air, lahan nan berpotensi mengalami kekeringan tetap dapat diairi sehingga petani tidak kehilangan kesempatan tanam.
Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui penyerahan support tujuh unit pompa air kepada tujuh golongan tani di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, oleh Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Andi Nur Alamsyah, Senin (29/6).
Menurut Andi, Kecamatan Sukra saat ini mempunyai potensi kekeringan seluas 1.945 hektare (ha). Dengan tambahan pompa air tersebut, potensi luas tanam pada musim berikutnya diperkirakan dapat meningkat hingga mencapai 3.445 hektare.
"Bantuan pompa air ini merupakan corak kehadiran pemerintah untuk memastikan petani tetap mempunyai akses air. Dengan begitu, lahan nan berpotensi terdampak kekeringan tetap dapat ditanami sehingga produktivitas pertanian dan pendapatan petani tetap terjaga," ujar Andi.
Ia menjelaskan, program pompanisasi telah terbukti memberikan akibat signifikan terhadap peningkatan luas tanam di Kabupaten Indramayu. Semula sasaran luas tanam Kabupaten Indramayu pada Juni 2026 sekitar 25 ribu hektare. Namun, dengan support sekitar 200 unit pompa air nan didistribusikan Kementerian Pertanian, potensi tanam meningkat hingga sekitar 41 ribu hektare.
"Ini menunjukkan bahwa intervensi pompanisasi bisa menjaga apalagi meningkatkan luas tanam di tengah ancaman kekeringan," jelasnya.
Amran menilai program pompanisasi bukan sekadar support perangkat dan mesin pertanian, melainkan bagian dari strategi nasional dalam menghadapi perubahan suasana dan menjaga keberlanjutan produksi pangan.
"Pompanisasi adalah instrumen mitigasi nan sangat efektif. Dengan memanfaatkan sumber-sumber air nan tersedia, kita memastikan petani tetap bisa menanam meskipun curah hujan menurun," beber ia.
Pihaknya bakal terus memantau perkembangan suasana di seluruh wilayah Indonesia serta mempercepat beragam langkah antisipasi sesuai kebutuhan lapangan. Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani, pemerintah optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga dan sasaran swasembada pangan dapat dicapai meskipun menghadapi tantangan perubahan suasana nan semakin dinamis.
(rea/ara)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·