Setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar nan serupa: mau dipahami, diterima, didengar, dan merasa terhubung dengan orang lain. Kebutuhan tersebut bukan sesuatu nan muncul lantaran internet alias media sosial hadir. Jauh sebelum teknologi berkembang, manusia telah mencari langkah untuk membangun hubungan dan memperoleh rasa memiliki. nan berubah hanyalah langkah manusia memenuhi kebutuhan tersebut.
Di era digital, banyak corak komunikasi nan dulu berjalan secara langsung sekarang beranjak ke layar. Kita berbagi cerita melalui pesan singkat, mencari support melalui organisasi daring, menggunakan kepintaran buatan sebagai ruang bercerita, hingga membangun hubungan melalui beragam platform digital. Teknologi membikin komunikasi menjadi lebih cepat, luas, dan mudah dijangkau.
Namun, perkembangan teknologi membawa satu pertanyaan penting: apakah teknologi betul-betul mengubah manusia, alias hanya mengubah langkah manusia mengekspresikan kebutuhan nan sejak dulu telah ada?
Pertanyaan inilah nan menjadi dasar pembahasan dalam tulisan ini. Berbagai kejadian komunikasi digital nan muncul dalam beberapa tulisan sebelumnya mulai dari rasa takut dihakimi, kebiasaan bercerita kepada AI, penggunaan akun kedua, hingga kecenderungan memberi makna pada centang biru, status online, dan notifikasi sebenarnya mempunyai satu benang merah nan sama. Di kembali perubahan teknologi, terdapat manusia nan tetap mempunyai kebutuhan untuk dipahami, diterima, didengar, dan terhubung.
Ketika dilihat lebih dalam, beragam kejadian komunikasi digital mulai menunjukkan pola nan serupa. Rasa takut menyampaikan pendapat, memilih bercerita kepada AI, membikin akun kedua, membatasi audiens, merasa resah ketika pesan tidak segera dibalas, hingga dorongan untuk terus memeriksa notifikasi terlihat seperti persoalan nan berbeda. Namun, di kembali semua itu terdapat dorongan nan sama: manusia mau merasa dipahami, diterima, dan tetap terhubung. Perubahan nan dibawa teknologi bukanlah menciptakan kebutuhan baru dalam diri manusia, melainkan menghadirkan langkah baru untuk memenuhi kebutuhan nan telah ada.
Ruang bercerita nan dulu hanya ditemukan melalui percakapan tatap muka sekarang dapat datang melalui beragam corak komunikasi digital. Pengakuan sosial nan sebelumnya banyak diperoleh melalui lingkungan sekitar sekarang juga dapat muncul melalui hubungan di bumi maya. Karena itu, kejadian digital tidak dapat dilihat hanya sebagai perubahan teknologi. Di kembali setiap pesan nan dikirim, unggahan nan dibagikan, alias respons nan ditunggu, terdapat manusia nan sedang membangun hubungan dan mencari makna dalam hubungan sosialnya. Teknologi menjadi ruang baru tempat manusia mengekspresikan kebutuhan nan sejak lama melekat dalam kehidupannya.
Untuk memahami kenapa teknologi bisa mengubah langkah manusia berkomunikasi tanpa menghilangkan kebutuhan dasarnya, kita dapat melihatnya melalui perspektif komunikasi.
Marshall McLuhan melalui Media Ecology Theory menjelaskan bahwa media bukan hanya perangkat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga lingkungan nan membentuk langkah manusia berpikir, berinteraksi, dan memahami dunia. Dalam kajian ekologi media, teknologi dipandang sebagai lingkungan nan turut memengaruhi pola sosial, budaya, dan langkah manusia menjalani kehidupannya. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan media turut memengaruhi langkah manusia membangun hubungan sosial. Ketika teknologi berkembang, manusia tidak kehilangan kebutuhan untuk berkomunikasi, melainkan menemukan ruang baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Media digital menjadi lingkungan nan memungkinkan manusia mencari hubungan, memperoleh pengakuan, dan mengekspresikan dirinya dengan langkah nan berbeda. Hal ini juga sejalan dengan perspektif ilmu jiwa komunikasi nan memandang bahwa perilaku manusia dalam berinteraksi tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan sosial dan emosional. Keinginan untuk didengar, diterima, merasa aman, dan terhubung merupakan bagian dari kebutuhan sosial manusia nan tetap ada meskipun lingkungan komunikasinya berubah.
Berbagai penelitian mengenai komunikasi digital juga menunjukkan bahwa ruang daring dapat menjadi salah satu tempat bagi perseorangan untuk membangun rasa mempunyai (need to belong) dan mempertahankan hubungan sosial. Dengan demikian, memahami komunikasi digital bukan hanya tentang memahami teknologi nan digunakan manusia, tetapi juga memahami manusia nan hidup di dalam lingkungan teknologi tersebut. Media dapat berubah, tetapi argumen manusia untuk berkomunikasi tetap berakar pada kebutuhan nan sama.
Teknologi bakal terus berkembang. Media sosial bakal berubah, kepintaran buatan bakal semakin canggih, dan langkah manusia berkomunikasi bakal terus mengalami penyesuaian. Namun, di kembali seluruh perubahan tersebut, manusia tetap mempunyai kebutuhan untuk membangun hubungan, memperoleh pemahaman, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu. Karena itu, tantangan terbesar di era digital bukan hanya tentang keahlian mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tentang gimana manusia menjaga nilai-nilai nan membikin komunikasi mempunyai makna.
Empati, kepercayaan, dan keahlian untuk memahami orang lain tetap menjadi dasar dalam membangun hubungan, baik di ruang digital maupun kehidupan nyata. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah teknologi mengubah manusia, melainkan apakah manusia tetap bisa mempertahankan kemanusiaannya di tengah perubahan tersebut. Menjadi manusia di era digital bukan berfaedah menolak teknologi, tetapi menggunakan teknologi tanpa kehilangan keahlian untuk mendengar, memahami, dan memperlakukan orang lain sebagai manusia. Sebab pada akhirnya, teknologi bakal terus berubah. Namun, argumen manusia untuk berkomunikasi bakal selalu sama yaitu, mau dipahami, diterima, didengar, dan tetap terhubung dengan orang lain.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·