Mengapa Terapi Kanker Payudara Tiap Pasien Berbeda? Ini Penjelasan Dokter

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Mengapa Terapi Kanker Payudara Tiap Pasien Berbeda? Ini Penjelasan Dokter Terapi kanker tetek berkarakter personal, mulai dari aspek stadium hingga profil molekuler.(Dok. Halodoc)

DOKTER Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi dan Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Santi Christiani Gultom menjelaskan bahwa terapi kanker payudara berkarakter individual dan dapat berbeda antar-pasien meski mempunyai jenis kanker nan sama. Hal ini dikarenakan master tidak hanya menentukan pengobatan berasas organ nan terkena, tetapi juga mempertimbangkan karakter penyakit dan kondisi bentuk pasien secara menyeluruh.

“Jadi memang pada kenyataannya adalah kita tidak mengobati berasas kankernya, berasas organnya,” ujar Santi dalam aktivitas MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa (1/9).

Santi memaparkan bahwa stadium kanker dan keberadaan metastasis (penyebaran) menjadi aspek utama penentu pilihan terapi. Pasien dengan stadium awal tentu mendapatkan pendekatan nan berbeda dibandingkan pasien nan kankernya telah menyebar ke organ lain. Selain itu, ukuran tumor juga memengaruhi tahapan pengobatan, misalnya menentukan apakah diperlukan tindakan tertentu sebelum operasi dilakukan.

Faktor krusial lainnya adalah tingkat agresivitas tumor nan dilihat melalui profil molekuler. Dokter bakal memeriksa status estrogen receptor (ER), progesterone receptor (PR), human epidermal growth factor receptor 2 (HER2), dan Ki-67. Data ini membantu master mengidentifikasi subtipe kanker payudara seperti Luminal A, Luminal B, triple negative, alias HER2 positif.

“Jadi ada beberapa jenis dari breast cancer, dari Luminal B, Luminal A, kemudian Triple Negative alias HER2 positif itu beda-beda pengobatannya,” tambahnya.

Selain aspek medis kanker, kondisi individual pasien turut menjadi pertimbangan. Dokter kudu mengevaluasi usia, kondisi fisik, kegunaan organ, serta penyakit penyerta (komorbid) seperti gangguan ginjal, jantung, alias diabetes. Menurut Santi, pemberian obat kanker tidak boleh sembarangan dan wajib disesuaikan dengan komorbiditas masing-masing individu.

Terakhir, tujuan pengobatan juga memengaruhi agresivitas terapi. Pasien dengan tujuan kuratif (penyembuhan) mungkin menerima pengobatan nan lebih intensif. Sementara itu, terapi paliatif difokuskan untuk memperpanjang usia dan mempertahankan kualitas hidup pasien dalam kondisi tertentu.

Santi menegaskan bahwa seluruh pertimbangan medis ini membikin penanganan kanker tetek saat ini semakin spesifik dan tidak dapat diseragamkan, guna memberikan hasil nan optimal bagi setiap pasien. (Ant/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia