Mengapa Pagi Hari di Musim Kemarau Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi Mengapa Pagi Hari di Musim Kemarau Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan Ilmiahnya (Sumber Gambar: AI Image Generator)

Banyak orang mengira musim tandus identik dengan cuaca panas sepanjang hari. Namun, kenyataannya justru berbeda. Saat musim tandus tiba, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan seperti Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, udara pada pagi hari sering kali terasa lebih dingin dibandingkan musim hujan.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan dapat dijelaskan secara ilmiah melalui proses nan terjadi di atmosfer. Perbedaan suhu nan cukup mencolok antara pagi dan siang hari merupakan karakter unik musim tandus di wilayah tropis.

Ilustrasi musim kemarau. Foto: mohamadyusuf/Shutterstock

Penyebab utama dinginnya udara pada pagi hari adalah minimnya tutupan awan saat musim kemarau. Pada malam hari, permukaan Bumi terus melepaskan panas nan telah diserap sepanjang siang melalui proses nan dikenal sebagai radiative cooling alias pendinginan lantaran radiasi.

Ketika langit cerah tanpa banyak awan, panas tersebut dapat dengan mudah lolos ke atmosfer dan ruang angkasa. Sebaliknya, pada musim hujan, awan berfaedah layaknya "selimut" nan memantulkan kembali sebagian panas ke permukaan sehingga suhu malam dan pagi tidak turun terlalu drastis. Akibatnya, suhu udara menjelang mentari terbit pada musim tandus menjadi lebih rendah.

Selain itu, kelembapan udara nan lebih rendah pada musim tandus juga berkedudukan penting. Uap air di atmosfer mempunyai keahlian menyerap dan menyimpan panas. Ketika kandungan uap air berkurang, keahlian atmosfer untuk mempertahankan panas juga menurun.

Ilustrasi wanita minum kopi di pagi hari. Foto: oatawa/Shutterstock

Oleh lantaran itu, udara menjadi lebih sigap mendingin pada malam hingga awal hari. Inilah argumen kenapa masyarakat nan tinggal di dataran tinggi maupun pedesaan sering merasakan udara pagi nan menusuk, meskipun pada siang harinya suhu dapat meningkat hingga lebih dari 30 derajat Celsius.

Menariknya, kondisi tersebut justru berbalik setelah Matahari terbit. Karena langit cerah dan nyaris tidak ada awan nan menghalangi, radiasi Matahari dapat mencapai permukaan Bumi secara maksimal.

Permukaan tanah kemudian menyerap daya Matahari dan memanaskan udara di sekitarnya dengan cepat. Akibatnya, suhu udara meningkat tajam dari pagi menuju siang hingga sore hari.

Fenomena inilah nan menyebabkan musim tandus mempunyai amplitudo suhu harian nan lebih besar, ialah selisih antara suhu minimum pada pagi hari dan suhu maksimum pada siang hari lebih tinggi dibandingkan musim hujan.

Horizon Astronomy and Atmospheric Science Network (HASAN Institute) menjelaskan bahwa memahami penyebab ilmiah di kembali udara pagi nan dingin saat musim tandus membantu kita menyadari bahwa perubahan suhu tersebut merupakan bagian dari dinamika atmosfer nan normal.

Meski demikian, perbedaan suhu nan cukup ekstrem antara pagi dan siang hari dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta mereka nan mempunyai penyakit pernapasan.

Menggunakan busana hangat saat beraktivitas pada pagi hari, menjaga daya tahan tubuh, dan tetap memenuhi kebutuhan cairan ketika suhu mulai meningkat pada siang hari merupakan langkah sederhana untuk beradaptasi dengan karakter musim kemarau.

Dengan memahami sains di kembali kejadian ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan di tengah perubahan cuaca.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan