AI Google Overview terdengan konyol saat mengeja kata sederhana.(Dok. Yahoo Tech)
PERNAHKAH Anda membayangkan sebuah teknologi nan bisa memecahkan kode rumit alias menyelesaikan persoalan matematika tingkat tinggi, namun kandas total saat diminta menghitung jumlah huruf dalam satu kata? Fenomena inilah nan sedang menimpa Google AI Overview.
Meski digadang-gadang sebagai masa depan mesin pencari, kepintaran buatan ini justru menunjukkan kelemahan esensial nan cukup menggelitik, ketidakmampuan untuk mengeja.
Kegagalan Ejaan nan Konyol
Berdasarkan laporan terbaru per 28 Mei 2026, Google AI Overview memberikan jawaban nan mengejutkan saat ditanya mengenai hal-hal mendasar. Misalnya, AI tersebut menyatakan bahwa ada dua huruf "P" dalam kata "Google".
Tidak berakhir di situ, dia juga menyebut hanya ada satu huruf "r" dalam kata "poop", serta salah mengeja kata journalism menjadi "j-o-u-r-n-a-d-i-s-m".
Bahkan untuk nama tokoh publik, AI ini sempat mengidentifikasi jumlah huruf nan betul namun menuliskannya dengan urutan nan berantakan, seperti mengeja nama belakang Presiden AS menjadi "t-r-p-u-m".
Kesalahan-kesalahan ini menambah daftar panjang "halusinasi AI" setelah sebelumnya sempat menyarankan pengguna untuk meletakkan lem di atas pizza alias menyantap batu berasas sumber satir.
"Menghitung dalam kata telah menjadi tantangan nan diketahui bagi LLM, dan kami sedang berupaya memperbaiki masalah unik ini," ujar perwakilan Google dalam pernyataan resminya dilansir dati TechCrunch, Kamis (28/5).
Mengapa AI tidak Bisa Membaca Seperti Manusia?
Masalah ini bukan sekadar kecerobohan perangkat lunak, melainkan keterbatasan arsitektur dasar dari Large Language Models (LLM). Berikut adalah argumen teknis kenapa AI kesulitan mengeja:
| Tokenisasi | AI tidak membaca huruf per huruf. Teks dipecah menjadi "token" nan bisa berupa satu kata utuh, suku kata, alias bagian karakter. |
| Representasi Numerik | Kata-kata diubah menjadi nomor (encoding). AI memahami makna kata "the" sebagai satu kesatuan angka, namun tidak menyadari bahwa di dalamnya ada huruf T, H, dan E. |
| Arsitektur Transformer | Model ini konsentrasi pada konteks dan probabilitas kata selanjutnya, bukan pada struktur internal karakter penyusun kata. |
Matthew Guzdial, peneliti AI dari University of Alberta, menjelaskan bahwa saat AI memandang sebuah kata, dia mempunyai satu pengkodean untuk makna kata tersebut, tetapi dia tidak betul-betul "melihat" huruf-huruf perseorangan nan membentuknya. Inilah argumen kenapa tantangan klasik seperti menghitung jumlah huruf "r" dalam kata strawberry sering kali kandas dijawab dengan betul oleh model AI tercanggih sekalipun.
Pro dan Kontra Implementasi AI di Mesin Pencari
- Kelebihan: Mampu merangkum info kompleks dengan sigap dan memberikan jawaban langsung tanpa kudu mengklik banyak tautan.
- Kekurangan: Rentan terhadap kesalahan aktual dasar, kegagalan logika sederhana (seperti mengeja), dan akibat menyebarkan info dari sumber nan tidak sah alias satir.
Kesimpulan: Jangan Percaya Sepenuhnya
Meskipun Google terus berupaya memperbaiki masalah ini, para mahir seperti Sheridan Feucht dari Northeastern University meragukan adanya solusi "tokenisasi sempurna". Kegagalan pelafalan ini menjadi pengingat krusial bagi pengguna bahwa AI bukanlah entitas nan maha tahu.
Validasi manusia tetap menjadi kunci utama dalam mengonsumsi info nan dihasilkan oleh kepintaran buatan. Jangan pernah ragu untuk melakukan pengecekan ulang (double-check) terhadap info sensitif nan diberikan oleh AI. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·