Mendorong Peran Peneliti Perempuan dan Hilirisasi Riset Kesehatan Nasional

Sedang Trending 49 menit yang lalu
Mendorong Peran Peneliti Perempuan dan Hilirisasi Riset Kesehatan Nasional Program danasiwa riset kesehatan datang untuk memperluas kesempatan peneliti perempuan, menjembatani riset kampus ke industri, hingga pemanfaatan AI.(MI/Netty)

KESENJANGAN partisipasi wanita di bagian riset dan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), tetap menjadi tantangan di beragam negara. Padahal, keberagaman perspektif dalam penelitian sangat krusial untuk menghasilkan penemuan kesehatan nan inklusif dan relevan bagi masyarakat.

Memperingati 50 tahun kiprahnya di Indonesia, PT Darya-Varia Laboratoria Tbk kembali menghadirkan program Scholarship for Talented Aspiring Women Researchers (D-STAR 2026). Mengusung tema "Empowering Women Researchers to Level Up as Future Leaders", program ini datang untuk memperluas kesempatan bagi wanita muda agar berkembang menjadi peneliti, inovator, dan pemimpin di sektor kesehatan maupun STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Presiden Direktur perusahaan, dr. Ian Kloer, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

"Pada momentum 50 tahun Darya-Varia, kami mau memastikan bahwa kontribusi kami tidak hanya datang melalui produk kesehatan berkualitas, tetapi juga melalui investasi pada talenta nan bakal membentuk masa depan kesehatan Indonesia. Kami percaya wanita mempunyai peran strategis dalam mendorong penemuan dan kemajuan pengetahuan pengetahuan," ujar Ian.

"Kami berambisi penghargaan ini tidak berakhir sebagai pencapaian akademik. Kami mau para peserta terus melakukan penelitian, berinovasi, dan berkolaborasi. Kami percaya bahwa investasi pada talenta adalah investasi terbaik untuk menciptakan masa depan kesehatan Indonesia nan lebih baik," lanjutnya.

Pemanfaatan AI dan Hilirisasi Riset Kampus

Pada penyelenggaraan tahun ini, salah satu konsentrasi penelitian nan diangkat adalah pemanfaatan AI di bagian kesehatan. Langkah ini diambil guna menekan kesenjangan kelamin di sektor teknologi. Data Harvard Business School dan Lean In menunjukkan bahwa laki-laki menggunakan AI generatif 16–22 persen lebih tinggi dibanding perempuan. Selain itu, wanita baru mengisi sekitar 26% posisi ahli AI secara global.

Tak hanya menyoal AI, program ini juga berfokus mendorong hilirisasi riset kampus agar tidak berakhir sebatas tugas akhir. Menurut dr. Ian, banyak buahpikiran bagus mahasiswa nan berhujung menjadi laporan akademik semata lantaran terbatasnya ruang kolaborasi.

"Sering kali mahasiswa mempunyai buahpikiran nan sangat baik. Namun setelah penelitiannya selesai, mereka tidak tahu kudu membawa hasil riset itu ke mana. Akhirnya hanya menjadi laporan akademik. Padahal, jika ada buahpikiran nan menarik, kami sangat terbuka untuk mempelajari potensinya, termasuk gimana bisa dikembangkan menjadi produk nan bermanfaat," katanya.

Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, S.Farm., M.Si., menilai kerjasama antara akademisi dan industri merupakan kunci memperkuat ekosistem riset nasional.

"D-STAR menjadi contoh kerjasama nan bisa menjembatani bumi akademik dan industri sehingga talenta muda mempunyai ruang untuk memperluas jejaring, meningkatkan kompetensi, dan menghasilkan riset nan relevan dengan kebutuhan masyarakat," kata Prof. Ilma.

"Riset tidak kudu selalu dilakukan di kampus. Ke depan, penelitian perlu dilakukan melalui kerjasama antara perguruan tinggi dan industri. Dengan begitu, hasil penelitian dapat lebih sigap diimplementasikan menjadi produk nan bermanfaat," tambahnya.

Cakupan Beasiswa Diperluas

Guna memperluas dampak, penyelenggara menggandeng Universitas Pancasila sebagai mitra baru dalam program D-STAR 2026, menyusul universitas mitra sebelumnya seperti UI, UGM, Unair, dan SF ITB.

Dukungan pendanaan pun ditingkatkan. Penerima utama bakal mendapatkan Beasiswa Utama senilai Rp30 juta. Selain itu, di setiap universitas mitra juga tersedia D-STAR Achievement Scholarship dan D-STAR Appreciation Scholarship masing-masing senilai Rp5 juta.

Direktur Growth Ventures perusahaan sekaligus juri D-STAR 2026, Astry Tri Astuti, menambahkan bahwa program ini turut membekali peserta dengan capacity building dan mentoring.

"Melalui D-STAR, kami mau membuka lebih banyak kesempatan bagi wanita untuk tumbuh sebagai peneliti, inovator, dan future leaders. Karena bagi kami, empowering women bukan hanya sebuah tema, tetapi bagian dari budaya perusahaan nan memberikan kesempatan nan setara bagi wanita untuk memimpin dan menciptakan dampak," kata Astry.

"Seorang peneliti kudu mempunyai jiwa kepemimpinan. Mereka kudu bisa mempertanggungjawabkan metodologi penelitian, menyampaikan gagasan, sekaligus menghadirkan penemuan nan bermanfaat," pungkasnya. (Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia