Mendikdasmen Kenang Jasa Soeharto di Pendidikan: Beasiswa Supersemar-SD Inpres

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyebut Presiden ke-2 RI, Soeharto, sebagai tokoh nan mempunyai peranan krusial dalam mencerdaskan bangsa. Dia mengungkit program Beasiswa Supersemar dan Sekolah Dasar Instruksi Presiden (SD Inpres) nan dicanangkan Soeharto.

Hal tersebut diungkap Muti saat membuka aktivitas Pemecahan Rekor MURI pembuatan sketsa Soeharto terbanyak dalam rangka memperingati Ulang Tahun Soeharto ke-105 di Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026). Dalam sambutannya, Mu'ti mengenang masa lalunya sebagai penerima Beasiswa Supersemar.

"Saya adalah salah satu dari mungkin sekian juta anak Indonesia nan mendapatkan rahmat alias mendapatkan berkah dari jasa-jasa Pak Harto. Saya adalah salah satu penerima Beasiswa Supersemar. Sebuah danasiwa nan pada masa kuliah sangat prestisius, dan hanya beberapa mahasiswa saja nan dapat menerima Beasiswa Supersemar itu," ujar Mu'ti dalam sambutannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mu'ti juga mengungkap Presiden Prabowo Subianto juga pernah menjadi penerima Beasiswa Supersemar. Menurutnya, perihal tersebut membuktikan bahwa Soeharto memberikan kesempatan agar terus berkembang kepada anak-anak bangsa nan berprestasi.

"Saya sempat bincang-bincang dengan Pak Presiden Prabowo, rupanya beliau juga dulu penerima Beasiswa Supersemar. Dan pendapat Pak Harto memberikan Beasiswa Supersemar itu tiada lain adalah memberikan kesempatan kepada putra-putri Indonesia untuk mereka-mereka nan berprestasi dapat terus berkembang, dapat terus tumbuh menjadi anak-anak Indonesia dan pemimpin Indonesia," katanya.

Mu'ti juga mengungkap jasa Soeharto dalam memberantas masalah buta aksara. Dia mengungkap adanya SD Inpres membikin anak-anak memperoleh perihal pendidikan dan bebas dari buta aksara.

"Pak Harto adalah tokoh nan mempunyai peranan krusial dalam mencerdaskan bangsa, terutama dalam program pemenuhan pendidikan dasar dan pengentasan buta aksara dengan pembangunan ribuan SD Inpres di seluruh Indonesia. Program itu adalah terobosan beliau nan luar biasa dan komitmen beliau nan luar biasa untuk memastikan semua anak Indonesia memperoleh kewenangan pendidikan, terutama adalah pendidikan dasar," katanya.

Atas pendapat tersebut, Mu'ti menyebut Soeharto layak mendapatkan bingkisan nan lebih prestisius dari Hadiah Nobel. Mu'ti mengungkit adanya peneliti asal Amerika Serikat nan memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi 2019, Esther Duflo, nan pernah meneliti program SD Inpres.

"Kalau ada seorang penerima Hadiah Nobel itu lantaran meneliti SD Inpres, meneliti SD Inpres saja mendapatkan Hadiah Nobel, apalagi nan punya pendapat dan membangun SD Inpres, semestinya hadiahnya melampaui Hadiah Nobel. Dan jasa beliau nan luar biasa merubah Indonesia dari negara nan nomor buta aksaranya sangat tinggi menjadi negara nan bebas buta aksara," katanya.

Mu'ti kemudian mengapresiasi Universitas Trilogi nan menyelenggarakan lomba sketsa melukis Soeharto. Dia berambisi jasa Soeharto dapat lebih dikenal oleh generasi muda.

"Karena itu, kami tentu saja mengapresiasi Universitas Trilogi nan menyelenggarakan aktivitas lomba sketsa melukis Pak Harto, dalam rangka saya kira rekor MURI itu bukan tujuan utamanya. Tujuan utamanya adalah gimana generasi muda bangsa, kalian semua, anak-anak Indonesia ini lebih mengenal para tokoh bangsa dan para pahlawan bangsa. Pak Harto adalah pahlawan nasional," imbuhnya.

(azh/azh)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News