Mendidik Manusia, Menghidupkan Pancasila

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Mendidik Manusia, Menghidupkan Pancasila (MI/Seno)

DI tengah meningkatnya kasus perundungan di sekolah, maraknya ujaran kebencian di media sosial, penyebaran info palsu, serta menguatnya sikap intoleran di beragam ruang publik, pertanyaan tentang relevansi Pancasila menjadi semakin mendesak. Apakah nilai-nilai nan diwariskan para pendiri bangsa tetap hidup dalam kehidupan masyarakat kita? Lebih unik lagi, apakah pendidikan Indonesia tetap bisa melahirkan manusia nan menghayati nilai-nilai Pancasila?

Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan juga pengingat untuk menilai kembali sejauh mana Pancasila datang dalam kehidupan berbangsa, terutama melalui pendidikan.

Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika beragam persoalan moral dan sosial tetap menghiasi ruang publik. Perundungan, intoleransi, rendahnya empati sosial, penyebaran hoaks, hingga menurunnya etika dalam berkomunikasi menunjukkan bahwa kemajuan pengetahuan pengetahuan dan teknologi belum tentu diikuti kematangan karakter. Kita mungkin sukses mencetak generasi nan pandai secara akademik, tetapi belum tentu sukses melahirkan generasi nan bijak dalam menggunakan kepintaran mereka.

Dalam konteks itulah Hari Lahir Pancasila perlu dimaknai sebagai panggilan untuk menguatkan kembali peran pendidikan sebagai sarana membangun manusia seutuhnya. Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan juga pandangan hidup nan menuntun perilaku penduduk negara dalam kehidupan sehari-hari.

PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN

Pancasila mengandung cita-cita tentang manusia Indonesia nan beriman, menjunjung tinggi kemanusiaan, mencintai persatuan, mengedepankan musyawarah, dan memperjuangkan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut berorientasi pada penghormatan terhadap martabat manusia. Oleh lantaran itu, pendidikan nan berdasarkan Pancasila haruslah menjadi pendidikan nan memanusiakan manusia.

Gagasan itu bukanlah perihal baru dalam tradisi pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun segala kekuatan kodrat nan ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan personil masyarakat. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan juga upaya membantu manusia tumbuh secara utuh, baik secara intelektual, moral, sosial, maupun spiritual.

Pendidikan nan memanusiakan berfaedah memandang peserta didik bukan sebagai angka-angka dalam laporan hasil belajar, melainkan sebagai pribadi nan unik dengan potensi dan latar belakang nan berbeda. Sekolah tidak hanya bekerja menghasilkan lulusan nan unggul secara akademik, tetapi juga membentuk perseorangan nan mempunyai empati, bisa bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial mereka.

Gagasan tersebut telah dipraktikkan beragam lembaga pendidikan di Indonesia, salah satunya Sekolah Sukma Bangsa di Aceh nan lahir dari semangat pemulihan pascatsunami 2004. Dengan menjadikan kemanusiaan sebagai fondasi pendidikan, apalagi memaknai 'Sukma' sebagai Sekolah Unggulan Kemanusiaan, pengalaman itu menunjukkan pendidikan nan berakar pada kemanusiaan bukan sekadar idealisme, melainkan juga dapat diwujudkan dalam praktik sehari-hari.

Filosofi itu mempunyai keterhubungan nan kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Ketika sekolah menempatkan kemanusiaan sebagai inti pendidikan, sesungguhnya sekolah sedang menghidupkan sila kedua. Ketika peserta didik dibiasakan menghormati perbedaan dan bekerja sama dengan siapa pun, mereka sedang belajar mengamalkan sila ketiga. Saat mereka diajak berbincang dan bermusyawarah, mereka sedang mempraktikkan sila keempat dalam kehidupan nyata.

Dengan demikian, Pancasila tidak kudu diajarkan melalui mahfuz semata. Nilai-nilainya dapat tumbuh melalui budaya sekolah nan menghormati martabat manusia, hubungan nan hangat antara pembimbing dan peserta didik, serta pembelajaran nan menumbuhkan kepedulian sosial dan toleransi.

MENANAMKAN PANCASILA 

Sekolah bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan pengetahuan, melainkan juga ruang pembentukan karakter kebangsaan. Karena itu, penanaman nilai Pancasila tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran teoritis di dalam kelas. Nilai-nilai tersebut kudu diwujudkan dalam praktik sehari-hari.

Ketika siswa diajarkan menghargai perbedaan agama, suku, dan latar belakang sosial, mereka sedang belajar mengamalkan nilai persatuan dan kemanusiaan. Ketika mereka dilibatkan dalam musyawarah untuk menyelesaikan persoalan bersama, mereka sedang mempraktikkan demokrasi. Ketika mereka diajak peduli terhadap kawan nan mengalami kesulitan, mereka sedang belajar tentang keadilan sosial.

Di samping itu, pendidikan nan memanusiakan menempatkan pembimbing sebagai teladan. Keteladanan mempunyai pengaruh nan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan nasihat nan disampaikan secara verbal. Peserta didik bakal lebih mudah memahami nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab ketika mereka memandang nilai-nilai tersebut datang dalam kehidupan pembimbing mereka.

Tantangan itu menjadi semakin kompleks di era digital. Generasi muda hidup dalam lingkungan nan dipenuhi info tanpa batas, tetapi juga berhadapan dengan akibat hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, perundungan digital, dan budaya instan nan dapat mengikis karakter.

Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai Pancasila justru semakin relevan. Sila kedua mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia sehingga dapat menjadi tembok terhadap perundungan dan kekerasan verbal di ruang digital. Sila ketiga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan. Sila keempat mengajarkan budaya perbincangan sebagai pengganti dari polarisasi nan semakin sering muncul dalam percakapan publik.

MEMBANGUN MASA DEPAN INDONESIA

Hari Lahir Pancasila sejatinya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga tentang menyiapkan masa depan. Masa depan Indonesia bakal sangat ditentukan kualitas generasi mudanya. Oleh karena itu, pendidikan kudu menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila secara berkelanjutan.

Semangat kemanusiaan tersebut juga tecermin pada beragam upaya memperluas akses pendidikan bagi mereka nan membutuhkan. Melalui program danasiwa bagi anak-anak nan terdampak oleh banjir dan longsor di beragam wilayah Sumatra, Sekolah Sukma Bangsa menunjukkan pendidikan dapat menjadi sarana memulihkan angan sekaligus menjaga keberlanjutan masa depan mereka.

Pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak ditentukan seberapa sering kita menghafalkan lima sila, tetapi oleh seberapa jauh nilai-nilainya hidup dalam ruang-ruang pendidikan. Ketika sekolah bisa melahirkan manusia nan menghargai sesama, bisa berbincang di tengah perbedaan, peduli terhadap keadilan, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama, saat itulah Pancasila betul-betul bekerja menjaga Indonesia.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑