Menbud Pastikan Pemugaran Yasti & Mahastupa Candi Sesuai Kaidah Konservasi

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Jakarta -

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meninjau proses pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur. Peninjauan bermaksud untuk memastikan penanganan struktur dan material candi dilakukan secara cermat, berbasis kajian ilmiah, serta sesuai norma konservasi.

Peninjauan ini juga menjadi bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan untuk menjaga kestabilan struktur, keaslian material, dan keberlanjutan pelestarian Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia.

Dalam peninjauannya, Fadli memandang langsung proses penguatan struktur yasti serta pembersihan penggaraman pada batu candi. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi material, riwayat pemugaran sebelumnya, dan tantangan lingkungan nan dapat memengaruhi ketahanan batu dalam jangka panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fadli menegaskan pelestarian Candi Borobudur tidak bakal berakhir pada pemugaran, tetapi juga memerlukan perawatan dan konservasi secara berkelanjutan. Menurutnya, meskipun tersusun dari batu, Candi Borobudur tetap rentan terhadap pelapukan akibat paparan cuaca dan perubahan kondisi lingkungan.

"Batu andesit tentu kudu ada konservasi. Iklim kita berubah, dan kondisi hujan sekarang berbeda dengan seratus alias dua ratus tahun lalu. Karena itu, kita perlu memastikan penanganan nan tepat agar batu dan relief Borobudur tetap terjaga," ucap Fadli dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).

Fadli menjelaskan pemugaran yasti diperlukan untuk memperkuat struktur pada bagian puncak stupa induk nan mengalami pergeseran susunan batu. Sementara itu, konservasi Mahastupa dilakukan untuk menangani penggaraman dan pelapukan nan berpotensi mengurangi ketahanan material.

Fadli mengungkapkan kedua pekerjaan tersebut memerlukan pemeriksaan nan jeli agar setiap tindakan sesuai dengan kondisi aktual bangunan. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi dan metode konservasi nan tepat untuk mempertahankan keaslian batu candi.

Menurutnya, intervensi terhadap cagar budaya kudu dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan karakter material dan lingkungan tempat candi berada.

"Relief-relief Borobudur nan sudah berumur lebih dari seribu tahun memerlukan penanganan nan tepat. Kita perlu memastikan perawatannya berkelanjutan, sehingga relief tetap terjaga ketajamannya dan batu tidak melunak alias mengalami kerusakan. Ini salah satu pekerjaan konservasi nan krusial dan perlu dilakukan berasas kajian nan cermat," ungkapnya.

Di akhir peninjauan, Fadli membujuk masyarakat untuk turut menjaga kelestarian Candi Borobudur dengan mematuhi ketentuan kunjungan dan menghindari tindakan nan dapat merusak batu maupun relief candi.

Ia menegaskan partisipasi visitor merupakan bagian krusial dalam mendukung upaya pelestarian warisan budaya tersebut.

"Tentu kita juga berambisi kepada visitor untuk ikut memelihara, tidak memegang-megang, dan tidak memberikan unsur kimia, cairan, alias apa pun nan bisa merusak relief Borobudur," tegasnya.

Sebagai informasi, pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB), setelah monitoring dan kajian teknis pada Agustus 2026 mengidentifikasi pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian yasti dan harmika, serta kerusakan material pada stupa induk. Pemugaran yasti difokuskan pada pemulihan kestabilan struktur dengan tetap mengutamakan penggunaan material asli.

Adapun konservasi Mahastupa mencakup penanganan penggaraman, pelapukan, rongga, dan rekahan pada batu. Penggaraman nan terlihat sebagai lapisan putih pada permukaan batu dapat berangkaian dengan pergerakan air dan keberadaan garam di dalam material. Penanganannya memerlukan metode nan sesuai agar kerusakan tidak bertambah dan keaslian batu tetap dipertahankan.

Pekerjaan ini juga melibatkan tim campuran nan berasal dari sejumlah keahlian, antara lain arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi. Pelaksanaannya dilakukan secara berjenjang melalui pemeriksaan, dokumentasi, dan kajian material sebelum tindakan lanjutan ditetapkan.

Dalam catatan sejarah, pemugaran besar pertama Candi Borobudur berjalan pada 1907-1911 di bawah ketua Theodoor van Erp. Pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973-1983 melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO.

Pemugaran yasti saat ini menjadi kesempatan untuk menangani bagian puncak Mahastupa sekaligus mengevaluasi kondisi material dan metode penanganan terdahulu berasas perkembangan pengetahuan konservasi.

Turut datang dalam peninjauan, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, Riris Purbasari; serta Pakar sekaligus Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA), Ali Akbar.

(akd/akd)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑