Publik dihebohkan dengan buletin kasus tragis pembunuhan ibu kandung oleh anaknya sendiri di Lahat, Sumatera Selatan. Lebih memilukan lagi, tindakan biadab itu dilakukan dengan mutilasi, dan dipicu oleh perihal nan tampak “sepele” ialah permintaan duit untuk gambling online nan tidak dipenuhi.
Apa makna kasus mutilasi ini? Di kembali peristiwa ini, kita dihadapkan pada realita nan jauh lebih dalam dan mengkhawatirkan—sebuah krisis moral, krisis relasi, dan krisis makna hidup di tengah masyarakat kita.
Peristiwa ini bukan semata sebagai tindakan pidana individual. Ia merupakan indikasi sosial nan memperlihatkan gimana beragam faktor, seperti teknologi, ekonomi, keluarga, dan nilai-nilai moral berkelindan dalam menghasilkan tragedi kemanusiaan.
Candu Bagi Pengguna
Inilah nan kudu disadari bahwa gambling online merupakan salah satu pemicu utama nan berbahaya. Berbeda dengan corak pertaruhan konvensional, gambling online datang dengan akses tanpa batas: mudah, cepat, dan tersembunyi. Siapa pun, termasuk generasi muda, dapat terjerumus tanpa pengawasan nan memadai. Sistem permainan nan dirancang dengan sistem “imbalan acak” (random reward) membikin pengguna terus terdorong untuk bermain, apalagi ketika mereka mengalami kerugian besar. Dalam kondisi ini, gambling tidak lagi menjadi hiburan, melainkan berubah menjadi candu.
Data menunjukkan bahwa kejadian ini bukan kasus tunggal. Diperkirakan lebih dari 16 juta penduduk Indonesia terlibat dalam gambling online, sementara sekitar 3,5 persen pengguna internet telah terpapar praktik ini (GoodStats, 2024). Dampaknya nyata, misalnya pada 2024, tercatat 2.889 kasus perceraian dipicu oleh judi, melonjak nyaris 83 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Databoks, 12/08/2025). Fakta-fakta ini menegaskan bahwa gambling online bukan sekadar persoalan individu, melainkan ancaman serius bagi ketahanan family dan moralitas sosial.
Kecanduan ini membawa akibat serius. Individu nan terjerat sering kali kehilangan kontrol diri, mengalami tekanan psikologis, dan pada titik tertentu, bisa menghalalkan segala langkah untuk mendapatkan uang.
Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai moral menjadi kabur. Relasi nan semestinya dilandasi kasih dalam konteks hubungan antara anak dan ibu, dapat berubah menjadi relasi instrumental: orang lain dilihat bukan sebagai pribadi nan kudu dihormati, melainkan sebagai perangkat untuk memenuhi keinginan.
Rapuhnya Ikatan Sosial
Di titik inilah refleksi sosiolog Zygmunt Bauman menjadi relevan. Dalam karyanya tentang liquid modernity (2000), Bauman menyatakan bahwa masyarakat modern ditandai oleh cairnya nilai dan rapuhnya ikatan sosial. Dalam bumi nan “cair”, manusia condong mengejar kepuasan instan dan menghindari komitmen jangka panjang. Akibatnya, tanggung jawab moral terhadap sesama menjadi lemah. Relasi tidak lagi dilihat sebagai panggilan etis, tetapi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pribadi.
Namun demikian, menyederhanakan persoalan ini hanya sebagai akibat gambling online juga tidak cukup. Ada proses erosi moral nan berjalan secara bertahap. Tidak ada manusia nan tiba-tiba menjadi pelaku kekerasan ekstrem. Biasanya, semuanya dimulai dari hal-hal kecil: kebiasaan berbohong, manipulasi, ketidakjujuran, hingga hilangnya empati. Dalam konteks ini, pemikiran Émile Durkheim tentang anomie—yakni kondisi ketika norma sosial melemah—menjadi penting. Durkheim mengingatkan bahwa ketika masyarakat kehilangan pegangan nilai, perseorangan bakal mudah terseret oleh gairah nan tidak terkendali.
Lebih jauh lagi, filsuf Hannah Arendt menawarkan perspektif nan menggugah melalui konsep the banality of evil (Arendt, 1963). Ia menegaskan bahwa kejahatan besar tidak selalu dilakukan oleh perseorangan nan “jahat” dalam pengertian ekstrem, tetapi sering kali oleh orang biasa nan kehilangan keahlian untuk berpikir secara moral.
Di sisi lain, kita juga perlu memandang rapuhnya relasi dalam keluarga. Keluarga semestinya menjadi ruang pertama dan utama dalam pembentukan karakter, tempat di mana nilai-nilai seperti kasih, hormat, dan tanggung jawab ditanamkan. Namun, dalam banyak kasus, relasi family mengalami keretakan: komunikasi nan minim, kurangnya kedekatan emosional, dan lemahnya pengawasan.
Fenomena ini semakin relevan jika dilihat melalui pemikiran Erich Fromm tentang dua orientasi hidup: having dan being (Erich Fromm, 1976). Fromm mengingatkan bahwa masyarakat modern condong terjebak dalam orientasi “memiliki”—mengumpulkan, menguasai, dan menikmati secara instan—daripada “menjadi”, ialah hidup dalam relasi nan berarti dan bertanggung jawab.
Dalam perspektif moral nan lebih luas, Paus Fransiskus juga mengkritik apa nan dia sebut sebagai throwaway culture, budaya membuang (Fratelli tutti, 2020). Dalam budaya ini, manusia condong memperlakukan orang lain secara instrumental: nan tidak berfaedah alias tidak memenuhi angan bakal disingkirkan.
Pelajaran Penting
Pertanyaannya, apa nan bisa kita pelajari dari tragedi ini? Pertama, kita memerlukan pendekatan nan menyeluruh (holistik). Penanganan gambling online tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum. Memang, negara kudu tegas dalam memberantas platform gambling terlarangan dan memperkuat izin digital. Namun, langkah ini kudu diimbangi dengan edukasi publik nan masif tentang ancaman kecanduan judi, terutama bagi generasi muda.
Kedua, penguatan pendidikan karakter menjadi sangat mendesak. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada aspek kognitif alias akademik, tetapi juga kudu menyentuh dimensi etika dan moral.
Ketiga, peran family kudu direvitalisasi. Orangtua tidak cukup hanya menjadi penyedia kebutuhan material, tetapi juga kudu datang secara emosional dan moral dalam kehidupan anak.
Keempat, organisasi dan lembaga keagamaan mempunyai peran krusial dalam membangun kesadaran moral.
Pendek kata, kita kudu jujur mengakui bahwa tragedi ini adalah cermin bagi kita semua. Ia memperlihatkan sungguh rapuhnya moralitas ketika tidak ditopang oleh nilai, relasi, dan kesadaran nan kuat. Seperti diingatkan Bauman, dalam bumi nan cair, tanggung jawab moral tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu nan otomatis—ia kudu terus diperjuangkan.
Belajar dari kasus ini, kita diingatkan bahwa membangun masyarakat nan sehat tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja bersama—negara, keluarga, sekolah, dan komunitas—untuk menjaga agar manusia tetap menjadi manusia: makhluk nan berakal budi, bermoral, dan bisa mengasihi.
Jika tidak, tragedi serupa bukan tidak mungkin bakal terus terulang, dengan corak nan mungkin berbeda, tetapi dengan akar persoalan nan sama: hilangnya arah dan nilai dalam kehidupan manusia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·