Penelitian terbaru mengungkap aktivitas memasak rutin dapat menurunkan akibat demensia hingga 70%.(Dok. Magnific)
AKTIVITAS memasak di rumah rupanya bukan sekadar rutinitas menyiapkan hidangan, melainkan mempunyai akibat signifikan terhadap kesehatan otak. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan memasak secara rutin dapat menurunkan risiko demensia pada lansia hingga 70 persen.
Studi nan dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health dan dilansir dari EatingWell ini menunjukkan bahwa faedah kesehatan kognitif tersebut berangkaian erat dengan kompleksitas aktivitas di dapur. Memasak melibatkan beragam kegunaan mental dan fisik, mulai dari merencanakan menu, mengingat resep, hingga ketangkasan memotong bahan makanan.
Melibatkan 10 Ribu Lansia
Penelitian ini menggunakan info dari Japan Gerontological Evaluation Study (JAGES) nan memantau lebih dari 10.000 orang berumur 65 tahun ke atas selama enam tahun. Para peneliti mengawasi gelombang memasak, tingkat keterampilan, dan munculnya kasus demensia melalui registri asuransi perawatan jangka panjang di Jepang.
Hasilnya, peserta nan memasak setidaknya satu kali dalam seminggu mempunyai akibat demensia 30 persen lebih rendah dibandingkan mereka nan jarang memasak. Tren ini menunjukkan bahwa semakin sering seseorang beraktivitas di dapur, semakin besar perlindungan bagi kesehatan otaknya.
Fakta Kunci Penelitian:
- Subjek: 10.000+ lansia (usia 65+).
- Durasi: Pemantauan selama 6 tahun.
- Manfaat Utama: Penurunan akibat demensia hingga 70% bagi golongan tertentu.
Manfaat Terbesar bagi Pemula
Temuan nan paling menarik adalah faedah terbesar justru dirasakan oleh golongan dengan keahlian memasak rendah. Bagi mereka nan awalnya tidak mahir namun mulai rutin memasak minimal sekali seminggu, akibat demensia berkurang drastis hingga 70 persen dibandingkan mereka nan tetap jarang memasak.
Para peneliti menjelaskan bahwa proses belajar perihal baru dan keterlibatan aktif dalam tugas-tugas dapur memberikan stimulasi kognitif nan kuat. Selain itu, aktivitas pendukung seperti berbelanja bahan makanan juga mendorong hubungan sosial dan aktivitas bentuk nan krusial dalam mencegah penuaan awal pada otak.
Tidak Perlu Menu Rumit
Meskipun penelitian ini dilakukan pada populasi di Jepang, para mahir menekankan bahwa prinsip dasarnya dapat diterapkan secara luas. Seseorang tidak perlu menjadi jurumasak ahli alias memasak hidangan rumit untuk mendapatkan faedah ini.
Memulai dengan resep sederhana, mencoba bahan makanan baru, alias memasak berbareng family sudah cukup untuk mengaktifkan kegunaan kognitif. Aktivitas ini menjadi salah satu langkah paling terjangkau dan menyenangkan untuk menjaga kualitas hidup di masa tua. (Japan Gerontological Evaluation Study/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·