Frugal living vs flexing, “perang” style hidup di media sosial.
, JAKARTA, – Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai media sosial mempunyai peran dobel dalam membentuk pola konsumsi generasi muda. Pada satu sisi, media sosial mendorong style hidup konsumtif, namun di sisi lain juga menjadi ruang penyebaran tren frugal living dan literasi finansial.
"Media sosial itu memang instrumen nan paling efektif untuk mendorong pola hidup konsumtif," kata Semiarto kepada ANTARA, Jumat. Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia ini, media sosial sekarang menjadi arena bagi perseorangan untuk menampilkan pencapaian dan style hidup di hadapan publik, kejadian nan dikenal sebagai economy of appearance.
Dalam situasi ini, masyarakat terdorong untuk menunjukkan pencapaian dan identitas diri melalui media sosial. "Dunia kita sekarang ini memang kudu ada sesuatu nan kita tunjukkan," ujarnya.
Semiarto mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut sering kali mengenai dengan aspek ekonomi dan style hidup, seperti nongkrong di tempat tertentu alias membeli peralatan terbaru. Akibatnya, standar sosial di masyarakat meningkat lantaran orang terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
Ia menambahkan, "Media sosial itu kemudian mendorong kita membandingkan diri kita dengan apa nan dicapai orang lain." Kondisi ini memicu kemauan untuk mengikuti tren secara cepat, termasuk dalam konsumsi peralatan dan style hidup.
Meski demikian, media sosial juga mempunyai potensi sebagai ruang penyebaran narasi tandingan nan mendorong style hidup lebih irit dan sadar finansial. Konten mengenai budgeting, frugal living, hingga tantangan seperti no buy challenge mulai berkembang di beragam platform digital.
"Media sosial juga bisa menjadi kontra narasi," kata Semiarto. Ia menekankan pentingnya peran influencer dalam membentuk perilaku konsumsi masyarakat, dan mengusulkan perlunya lebih banyak figur nan mendorong literasi finansial dibanding konsumsi berlebihan.
"Kita perlu influencer nan bukan mendorong konsumsi tetapi mempromosikan financial literacy," ujarnya.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
18 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·