Setiap tanggal 2 Mei, kita kembali diingatkan pada semangat besar pendidikan sebagai perangkat pemerdekaan manusia. Namun di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, pertanyaan nan lebih relevan bukan lagi sekadar “Sudah sejauh mana kita melangkah?” melainkan “Ke arah mana pendidikan Indonesia sedang bergerak?”
Dalam satu dasawarsa terakhir, wajah pendidikan Indonesia berubah cukup signifikan. Digitalisasi mulai masuk ke ruang-ruang kelas. Platform pembelajaran daring berkembang pesat. Kurikulum pun beralih bentuk untuk memberi ruang pada produktivitas dan kemandirian belajar. Secara kasat mata, kita sedang bergerak menuju sistem pendidikan nan lebih modern.
Namun, modernisasi tidak selalu identik dengan kemajuan nan merata.
Di kembali narasi transformasi digital, tetap terdapat kesenjangan nan nyata. Tidak semua peserta didik mempunyai akses nan sama terhadap teknologi. Tidak semua pembimbing mempunyai kapabilitas nan setara dalam mengangkat metode pembelajaran baru. Akibatnya, teknologi nan semestinya menjadi jembatan justru berpotensi memperlebar lembah ketimpangan.
Di sinilah rumor keadilan menjadi krusial. Pendidikan tidak cukup hanya maju, tetapi juga kudu adil. Keadilan dalam pendidikan berfaedah memastikan bahwa setiap anak—tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis—memiliki kesempatan nan setara untuk berkembang.
Sayangnya, hingga hari ini, kita tetap menghadapi realitas “dua bumi pendidikan” satu nan maju, adaptif, dan terhubung dengan perkembangan dunia dan satu lagi nan tertinggal, terbatas, dan berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Lebih jauh, kita juga perlu mengkritisi arah pendidikan nan terlalu berorientasi pada aspek teknis dan kognitif semata. Di tengah arus deras teknologi—termasuk kepintaran buatan pendidikan—berisiko kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Padahal, prinsip pendidikan tidak hanya mencetak perseorangan nan pandai secara intelektual, tetapi juga manusia nan utuh, beretika, berempati, dan mempunyai tanggung jawab sosial.
Di tengah bumi nan semakin kompleks, keahlian berpikir kritis saja tidak cukup. Kita memerlukan generasi nan bisa memahami makna, mempunyai kepedulian, dan berani mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan sosial dan lingkungan.
Sebagai akademisi, saya memandang bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tiga pilar utama, teknologi, keadilan, dan kemanusiaan.
Pertama, teknologi kudu dimanfaatkan sebagai perangkat untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar tren. Integrasi teknologi perlu diiringi dengan peningkatan kapabilitas pembimbing dan prasarana nan merata.
Kedua, keadilan kudu menjadi fondasi utama kebijakan pendidikan. Pemerataan kualitas kudu menjadi prioritas, bukan hanya pemerataan akses. Tanpa keadilan, pendidikan justru bakal mereproduksi ketimpangan sosial.
Ketiga, kemanusiaan kudu tetap menjadi ruh pendidikan. Di tengah otomatisasi dan digitalisasi, nilai-nilai seperti integritas, empati, dan tanggung jawab sosial justru semakin penting.
Dalam konteks ini, pendidikan juga perlu mulai mengintegrasikan perspektif keberlanjutan. Generasi muda kudu dipersiapkan tidak hanya untuk menghadapi bumi kerja, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan kehidupan, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun tata kelola. Pendidikan kudu bisa melahirkan perseorangan nan tidak hanya kompeten, tetapi juga berkontribusi.
Peran pembimbing menjadi sangat strategis dalam menjembatani ketiga pilar tersebut. Guru bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan juga fasilitator, inspirator, sekaligus pembentuk karakter. Oleh lantaran itu, memberikan ruang bagi pembimbing untuk berkembang dan berinovasi adalah investasi nan tidak bisa ditawar.
Momentum Hari Pendidikan Nasional semestinya tidak berakhir pada seremoni tahunan. Ia kudu menjadi titik refleksi sekaligus injakan untuk memperbaiki arah. Kita tidak kekurangan kebijakan, tetapi sering kali kekurangan konsistensi dan keberpihakan.
Sebagai Ketua Program Studi Akuntansi dan juga bagian dari masyarakat, saya memandang pendidikan sebagai tanggung jawab kolektif. Negara mempunyai peran utama, tetapi keluarga, sekolah, kampus, dan masyarakat juga memegang peranan krusial dalam membentuk ekosistem pendidikan nan sehat.
Masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi juga oleh seberapa setara sistemnya dan seberapa kuat nilai kemanusiaannya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menciptakan generasi nan pintar, melainkan juga tentang membentuk manusia nan bermakna.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·