Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan hilirisasi telah memberikan akibat nyata terhadap perekonomian daerah.(Dok. Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP))
HILIRISASI nikel terus menjadi motor pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. Setelah mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia, pemerintah wilayah sekarang berupaya memastikan perkembangan industri tersebut melangkah seiring dengan penerapan prinsip keberlanjutan nan semakin menjadi tuntutan pasar global.
Komitmen tersebut mengemuka dalam aktivitas North Maluku Sustainability Trip nan diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bilateral UK dan Irlandia berbareng Kadin Indonesia dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Rabu (3/6). Kegiatan ini mempertemukan organisasi internasional, investor, pelaku industri, akademisi, dan kreator kebijakan untuk memandang langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi forum obrolan mengenai gimana area ini dapat menjadi referensi dunia bagi praktik responsible downstreaming alias hilirisasi nan bertanggung jawab. Upaya tersebut dinilai semakin krusial di tengah meningkatnya tuntutan pasar internasional terhadap rantai pasok mineral kritis nan berkelanjutan.
Berdasarkan info US Geological Survey (USGS), Indonesia mempunyai persediaan nikel terbesar di bumi pada 2026, mencapai 62 juta ton alias sekitar 44,3% dari total persediaan global. Sekitar 90% persediaan tersebut berada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.
Dengan posisi tersebut, Maluku Utara menjadi salah satu wilayah strategis dalam rantai pasok dunia untuk industri kendaraan listrik dan transisi energi.
Di sisi lain, meningkatnya perhatian bumi terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) membikin area penghasil nikel dituntut tidak hanya bisa meningkatkan produksi, tetapi juga menunjukkan praktik industri nan berkelanjutan.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan hilirisasi telah memberikan akibat nyata terhadap perekonomian daerah. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada tahun lampau mencapai sekitar 34% secara tahunan, sementara pada kuartal pertama 2026 tercatat sebesar 19,64%, tertinggi di Indonesia.
"Sebagian besar dari industri hilirisasi khususnya di nikel. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa hilirisasi telah menciptakan nilai tambah nan nyata bagi daerah," ujar Sherly.
Meski demikian, pemerintah wilayah menilai keberhasilan hilirisasi tidak dapat diukur semata dari pertumbuhan ekonomi. Penguatan pengawasan lingkungan, transparansi, serta keterlibatan masyarakat dalam pembangunan industri menjadi aspek krusial agar faedah ekonomi dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
"Lima puluh tahun dari sekarang, Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal lantaran nikel nan diambil dari tanahnya, tetapi lantaran nilai nan sukses kita tinggalkan bagi masyarakatnya," kata Sherly.
Perkembangan tersebut menjadi latar belakang penyelenggaraan North Maluku Sustainability Trip nan menghadirkan beragam organisasi nan mempunyai peran krusial dalam pengembangan standar keberlanjutan sektor mineral global. Di antaranya Nickel Institute, International Council on Mining and Metals (ICMM), Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), Global Battery Alliance, Glencore, GIZ, akademisi, serta beragam asosiasi industri lainnya.
Kehadiran beragam organisasi tersebut menunjukkan besarnya perhatian organisasi internasional terhadap perkembangan industri nikel Indonesia. Selain menjadi bahan baku krusial untuk baterai kendaraan listrik, nikel juga dipandang sebagai salah satu mineral kunci dalam mendukung transisi menuju daya nan lebih bersih.
Dalam sesi diskusi, para peserta membahas beragam rumor strategis nan sekarang menjadi perhatian industri mineral global, mulai dari responsible mining, transparansi rantai pasok, perlindungan biodiversitas, pengembangan masyarakat, hingga kesempatan kerjasama jangka panjang dalam mendukung transisi daya global.
Dalam rangkaian aktivitas tersebut, para peserta mengunjungi area pertambangan PT Weda Bay Nickel (WBN) dan beragam akomodasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Mereka meninjau akomodasi pengolahan nikel, pengelolaan lingkungan, pusat riset dan pengembangan, hingga rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik nan terintegrasi dalam satu area industri.
Kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk memandang secara langsung penerapan hilirisasi nikel sekaligus beragam inisiatif keberlanjutan nan tengah dijalankan di lapangan.
Perwakilan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia sekaligus Direktur BYD Haka Auto Ahmad Fikri Susanto mengatakan tuntutan pasar dunia terhadap industri mineral sekarang semakin berkembang. Investor dan pembeli tidak lagi hanya memandang kapabilitas produksi, tetapi juga memperhatikan gimana praktik keberlanjutan dijalankan.
"Investor dan pembeli dunia sekarang mau memandang lebih dari sekadar volume produksi. Mereka mau memahami gimana rantai pasok dikelola, gimana lingkungan dijaga, dan gimana masyarakat turut merasakan faedah pembangunan," ujarnya.
Menurut Fikri, keahlian membangun kepercayaan sekarang menjadi aspek nan sama pentingnya dengan kapabilitas produksi. Karena itu, transparansi rantai pasok, perlindungan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat menjadi aspek nan semakin diperhatikan oleh penanammodal maupun pembeli global.
Sementara itu, Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia Bernardino Vega menilai standar keberlanjutan sekarang semakin memengaruhi keputusan investasi dan akses pasar bagi industri mineral global.
"Semakin banyak biaya investasi nan menerapkan kriteria ESG menjadikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan sebagai salah satu prasyarat utama dalam pengambilan keputusan investasi," ujarnya.
Ia mencatat investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia meningkat 208 persen pada periode 2019–2022, dari US$3,56 miliar menjadi US$10,96 miliar.
Menurut Bernardino, perusahaan nan bisa menunjukkan praktik pertambangan nan baik serta keahlian ESG nan andal dan dapat diverifikasi bakal mempunyai kesempatan lebih besar untuk memperoleh investasi jangka panjang dan akses nan lebih strategis ke pasar global.
Presiden Direktur PT IWIP Kevin He mengatakan investasi nan berkembang di area tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap agenda industrialisasi Indonesia, tetapi juga mendukung pembangunan sistem daya nan lebih bersih, mempercepat mengambil kendaraan listrik, dan memperkuat rantai pasok dunia nan lebih tangguh.
"Namun kami juga menyadari bahwa pertumbuhan industri membawa tanggung jawab nan besar. Kemajuan ekonomi kudu melangkah seiring dengan perlindungan lingkungan," kata Kevin.
Ia menambahkan, keberhasilan jangka panjang hanya dapat dicapai melalui kerjasama erat antara pemerintah, bumi usaha, masyarakat, dan beragam pemangku kepentingan lainnya. Menurut dia, pengembangan industri kudu bisa menciptakan kesempatan dan faedah nyata bagi masyarakat lokal.
Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional, perkembangan ekosistem hilirisasi di IWIP juga memberikan akibat langsung terhadap pembuatan lapangan kerja. Saat ini sekitar 85 persen tenaga kerja di area tersebut berasal dari Maluku Utara, mencerminkan semakin besarnya keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai nilai industri nan berkembang di wilayah itu.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta turut mengikuti penanaman mangrove nan menjadi simbol komitmen berbareng untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui perbincangan nan melibatkan pemerintah, pelaku usaha, investor, akademisi, dan organisasi internasional, Maluku Utara berupaya memperkuat posisinya bukan hanya sebagai pusat produksi nikel dunia, tetapi juga sebagai area nan tengah membangun referensi baru bagi praktik hilirisasi nan berkelanjutan, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang. (Put/E-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·