Logam Tanah Jarang: Peta Kekuatan Global dan Ambisi Non-Tiongkok

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
 Peta Kekuatan Global dan Ambisi Non-Tiongkok Ilustrasi.(Magnific)

LOGAM tanah jarang (rare earth metals) sekarang menjadi konsentrasi utama para penanammodal global. Ketegangan perdagangan terbaru menyoroti monopoli Tiongkok atas material strategis ini. Lonjakan aplikasi AI bentuk seperti robotika menjanjikan percepatan permintaan untuk bahan nan digunakan dalam segala perihal itu, mulai dari iPhone hingga jet tempur.

Kondisi ini memicu aliran investasi besar ke proyek-proyek logam tanah jarang di luar Tiongkok. Namun, memahami prospek tambang baru tidaklah mudah, mengingat kompleksitas laporan teknis pertambangan dan tantangan geologis nan ada.

Empat Raksasa Tambang Dunia

Hingga 2025, hanya ada empat tambang utama nan mendominasi pasokan global:

  • Bayan Obo (Tiongkok): Tambang terbesar di bumi nan berlokasi di Mongolia Dalam. Memproduksi sekitar 200.000 metrik ton oksida tanah jarang pada tahun 2025.
  • Maoniuping (Tiongkok): Terletak di provinsi Sichuan, memproduksi 40.000 metrik ton dengan kadar bijih 3%.
  • Mountain Pass (Amerika Serikat): Dioperasikan oleh MP Materials di dekat Las Vegas. Memproduksi 51.000 metrik ton dengan kadar bijih tinggi mencapai 8,5%.
  • Mount Weld (Australia): Dioperasikan oleh Lynas Rare Earths, memproduksi sekitar 30.000 metrik ton dengan kadar bijih 7%.

Produksi oksida tanah jarang dunia mencapai total 390.000 metrik ton pada 2025, melonjak drastis dari 124.000 metrik ton satu dasawarsa lalu. Meskipun penting, industri ini relatif mini dibandingkan komoditas lain. Sebagai perbandingan, bumi mengonsumsi 29 juta metrik ton tembaga pada tahun nan sama.

Kadar Bijih dan Tantangan Teknis

Logam tanah jarang terdiri dari 17 komponen nan dibagi menjadi kategori ringan (digunakan untuk magnet) dan berat (digunakan untuk optik dan aplikasi khusus). Mineral langka utama nan ditambang adalah Bastnaesite dan Monazite. Tantangan utama dalam pengolahan Monazite adalah kandungan thorium radioaktif nan memerlukan penanganan khusus.

Saat ini, beberapa perusahaan rintisan mulai muncul untuk menantang kekuasaan pemain lama:

Perusahaan/Proyek Lokasi Karakteristik
Rare Earths America (REA) Bahia, Brasil Lempung adsorpsi ionik, kadar <1%, konsentrasi pada logam berat.
USA Rare Earth (Serra Verde) Goias, Brasil Investasi US$1,1 miliar, mulai produksi tahun 2024.
Round Top Texas, AS Berbasis Rhyolite, kadar sangat rendah (~0,1%).

Nilai Ekonomi dan Masa Depan

Harga material tanah jarang meningkat tajam lantaran permintaan dan upaya pemerintah AS untuk mengamankan pasokan non-Tiongkok. Departemen Pertahanan AS apalagi menandatangani kesepakatan dengan MP Materials nan mencakup nilai dasar US$110 per kilogram untuk oksida Neodymium-Praseodymium (NdPr), jauh di atas nilai rata-rata tahun-tahun sebelumnya nan hanya sekitar US$50.

CEO MP Materials, Jim Litinsky, memperingatkan bahwa mempunyai lahan luas dengan kandungan tanah jarang tidak menjamin keberhasilan ekonomi. "Bijih nan ekonomis sangatlah langka," tegasnya pada November 2025.

Namun, optimisme tetap tinggi. CEO REA, Donald Swartz, memproyeksikan bahwa untuk memproduksi 1 hingga 10 juta robot humanoid per tahun, bumi bakal memerlukan tambahan pasokan nan setara dengan 3 hingga 28 tambang seukuran Mount Weld. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sulit, potensi pertumbuhan industri ini tetap sangat terbuka lebar. (Barron's/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia